2nd Ramadhan ~Konsistensi menuju Taqwa~


Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, hari pertama Ramadhan telah sama-sama kita lalui. Mudah-mudahan Allah menerima shaum kita, sholat kita, sholat malam dan tarawih kita, dan mengabulkan do’a-do’a kita. Semoga Allah bisa terus memberikan kekuatan kepada kita semua untuk bisa menjalani shaum di hari kedua ini, dan memberi kesempatan untuk menggenapkan shaum kita sebulan ke depan, insya Allah. Dalam Surat Al-Baqarah 183, disebutkan bahwa tujuan dari shaum di bulan Ramadhan adalah agar orang yang menjalani shaum bisa mendapatkan derajat taqwa. Sangat jelas: Taqwa. Banyak terminologi yang menyebutkan pengertian tentang taqwa. Dalam kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa taqwa (takwa) adalah terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya atau keinsafan diri yg diikuti dengan kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa taqwa berarti takut dan malu, taat dalam beribadah, dan membersihkan hati dari dosa.

Ramadhan sebagai momen menuju taqwa, memang menjadi sarana yang nyaman untuk bersemangat dalam melakukan beribadah. Jika diperhatikan lebih dalam, menarik sekali kaitan antara semangat dalam beribadah dengan Ramadhan sebagai sarana menuju taqwa. Bukan menjadi sebuah rahasia, jika momen Ramadhan begitu antusias disambut oleh kaum muslimin diseluruh dunia, khususnya Indonesia. Mulai dari persiapan duniawi yang begitu semarak, seperti stasiun televisi yang berlomba-lomba untuk menayangkan tayangan bernuansa Ramadhan sejak sahur hingga berbuka. Sehingga tanpa dikomandoi, dialog di sinetron pun diisi dengan ucapan Assalamu’alaikum. Persiapan ukhrawi (akhirat) pun tak kalah meriahnya, seperti ramainya sesama kaum muslimin saling bermaafan sebelum Ramadhan tiba dan program-program pembelajaran kilat berupa ta’lim, pesantren kilat, kajian, dan lain-lain. Sangat indah.

Konsistensi

Satu hal yang nampaknya harus kita perbaiki bersama dan tentunya perlu kita perbaiki, yakni konsistensi ibadah kita selama bulan Ramadhan. Sudah menjadi kebiasaan yang menuju kemafhuman (maklum), bahwa semangat ibadah kita di bulan Ramadhan pasti menggelora di awal bulan, dan meng-gradasi turun hingga menjelang Idul Fitri. Kita sadar dan betul-betul sadar, bahwa masjid tiba-tiba menjadi penuh di awal Ramadhan. Jamaah shalat subuh yang biasanya tidak lebih dari 2 shaf tidak penuh, bahkan bisa membludak hingga sebagian jemaah tidak mendapat tempat. Shalat tarawih pun sama nasibnya, membludak hingga ke halaman masjid. Shalat fardhu berjamaah pun seperti mendapat pasukan tambahan, shaf nya bertambah drastis. Karunia yang luar biasa. Tapi patut disayangkan, bahwa fenomena itu mungkin hanya bertahan tidak lebih dari hari ke 10 Ramadhan. Satu persatu jamaah menanggalkan semangatnya.

Sayang sekali. Padahal salah satu keutamaan dari bulan Ramadhan adalah ada di sepanjang bulan. Bahkan salah satu kautamaan Ramadhan yang sangat sayang untuk dilewatkan adalah karunia lailatul qadar. Pada bulan ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan). Pada malam inilah –yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan- saat diturunkannya Al Qur’anul Karim.Yang harus dicari dengan i’tikaf (berdiam diri untuk mendekatkan diri di masjid) di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Allah Ta’ala berfirman,

”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada lailatul qadar (malam kemuliaan). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr: 1-3)

Kesempatan yang belum tentu terulang di tahun berikutnya. Jangan pernah merasa bahwa kita akan mendapatkan Ramadhan lagi tahun depan. Bahkan jangan pernah merasa juga bahwa esok masih menyapa kita, karena mungkin malaikat maut akan lebih dahulu menyapa kita. Masya Allah.

Memang berat menjaga konsistensi dalam beribadah. Bahkan mencapai klimaks di akhir, dengan degradasi yang meningkat dari hari ke hari. Wajar jika peringkat taqwa sulit didapatkan oleh semua kaum mukminin, karena taqwa memang membutuhkan konsistensi, dan konsistensi tentunya butuh kesabaran. Seperti layaknya sabar dalam menghadapi masalah, ternyata berbuat baik dan mencoba taat juga ternyata membutuhkan kesabaran.

Salah satu do’a yang patut untuk kita ucapkan:

” Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, agar Engkau menjadikan sebaik-baik umur kami pada akhirnya, sebaik-baik amal pada penutupannya, dan sebaik-baik hari-hari kami adalah saat bertemu dengan-Mu”

Bukan di awal, tapi akhir. Khusnul khatimah (akhir yang baik). Manusia lahir dengan status yang sama, tidak punya apa-apa, tidak berbaju, tidak berharta, belum berpengetahuan, hanya karunia Allah melalui orang tuanya yang kemudian sedikit membedakannya. Start-up kita semua sama. Tapi, sangat jarang kemudian manusia dipandang karena kelahirannya, justru saat kematiannya lah yang menjadi asumsi pandangan mengenai keadaan manusia tersebut.

Seperti do’a di atas, maka mudah-mudahan puasa kita adalah puasa yang berkualitas dari hari kehari. ibadah kita dalah ibadah yang berkualitas dan semakin meningkat dari satu ramadhan hingga akhir Ramadhan. Semoga Allah memberikan energi kesabaran kepada kita semua untuk konsistensi menjalankan ibadah kepada-Nya dalam rangka menuju taqwa. Amin

Inspirasi : Ceramah tarawih masjid Nurul Barkah Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~

About these ads