Al-Wafa (1)


Ta’lim Ba’da Dzuhur – Masjid At-Taqwa Garuda Indonesia (20 Juli 2010) – Edisi 1

Al-Wafa adalah sebuah kosakata dalam bahasa Arab. Sulit menemukan padanannya dengan kosakata dalam bahasa Indonesia. Namun jika diartikan dalam bahasa sederhana, Al-Wafa ini bisa dikatakan seperti “kacang tidak lupa kulitnya”. Contoh lainnya misal ketika kita dahulu miskin, saat ini kita kaya, maka kita tidak lupa akan kondisi kita dahulu saat kita miskin. Dahulu kita bodoh, dan saat ini kita merasa pintar, maka kita tidak lupa akan kondisi kita dahulu ketika kita masih bodoh. Dahulu kita menganggur, dan saat ini kita mendapat pekerjaan, maka kita tidak lupa pada saat dahulu kita pernah menganggur. Sikap wafa ini bisa kita representasikan dengan kita selalu bersyukur akan kondisi kita saat ini, dan selalu mengingat akan karunia Allah yang telah kita terima saat ini dengan memperhatikan kondisi-kondisi kita saat dahulu.


Contoh sikap Wafa, dalam suatu kisah diceritakan, ada 3 orang Arab yang memiliki kekurangan yang berbeda-beda. Yang satu memiliki penyakit kusta dengan kulitnya yang buruk, satu orang lainnya memiliki kepala plontos dengan tidak mampunyai rambut pada kepalanya, dan satu orang lainnya mengalami kebutaan. Malaikat diutus untuk menguji ketiga orang Arab tersebut. Orang Arab yang pertama, yakni yang memiliki penyakit Kusta, didatangi oleh Malaikat. Malaikat bertanya, “hal apa yang kamu sangat-sangat inginkan saat ini wahai manusia?”. Tentu dengan kondisi saat ini yang sedang dilanda penyakit kulit, kulit yang bagus dan sehat adalah hal yang selalu diidam-idamkan. Maka orang Arab kusta itu menjawab, “Tentu hal yang sangat kuinginkan saat ini adalah kulit yang sehat dan baik, yang terbebas dari penyakit kusta”. Mendengar jawaban tersebut, malaikat kemudian mengusap kulitnya dan menjadikan orang Arab tersebut bebas dari penyakit kusta. Lalu Malaikat bertanya kembali, “Lantas harta apa yang engkau inginkan?” . Orang Arab tersebut sontak menjawab, “Unta”. Maklum jika dibandingkan dengan saat ini, unta bisa disamakan dengan mobil, baik harganya ataupun fungsinya. Sama seperti keinginan sebelumnya, malaikat kemudian memberikan satu buah unta yang sedang bunting kepada orang Arab tersebut. Sambil berlalu, Malaikat tersebut berkata, “Semoga Allah memberkahi karunia yang diberikan”.

Malaikat kemudian mendatangi orang Arab kedua, yakni seorang berkepala botak. Sama dengan orang Arab pertama yang memiliki penyakit kusta, Malaikat pun bertanya hal yang sama terhadap orang Arab dengan berkepala botak tersebut, hal apa yang sangat-sangat diinginkan saat ini dan harta apa yang kamu inginkan saat ini. Orang Arab botak ini menjawab, berturut-turut, rambut untuk menutupi kepalanya dan seekor sapi. Malaikat kemudian mengusap kepala orang Arab tersebut, dan tumbuhlah rambut di kepalanya. Tidak lupa juga menganugerahkan seekor sapi yang hamil dan juga mendoakan semoga Allah memberkahi karunia yang diberikan.

Malaikat kemudian mendatangi orang Arab buta. Sama dengan dua orang sebelumnya, Malaikat bertanya mengenai hal yang diinginkan saat ini dan harta apa yang diinginkan. Orang buta itu menjawab, “Aku ingin Allah mengembalikan penglihatanku”. Dan jawaban lainnya, “ Aku ingin seekor Domba”. Kemudian malaikat mengusap matanya, dan kemudian menganugerahkan seekor kambing yang subur. Tak lupa Malaikat mendoakan, semoga Allah memberkahi karunia yang diberikan.
Beberapa lama setelah itu, ketiga orang Arab tersebut memiliki anugerah yang luar biasa dari yang Allah berikan sebelumnya. Hewan ternak yang dianugerahkan kepada mereka semakin banyak karena berkembang biak. Orang yang dahulu berpenyakit kusta, kini memiliki kulit yang baik, ditambah unta yang banyak dari hasil seekor unta yang diberikan saat itu. Orang yang dahulu berkepala botak, kini selain memiliki rambut di kepalanya, dari sapi yang hamil, ia juga memiliki sapi yang banyak. Adapun orang yang buta, selain memiliki penglihatan normal, ia juga memiliki banyak kambing. Saking banyaknya, ketiganya harus mengelola hewan ternaknya pada masing-masing lembah.

Kemudian dengan kondisi sudah makmur tersebut, Malaikat hendak menguji ketiganya. Untuk mengujinya, malaikat menyamar menjadi seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan dan memiliki penyakit kusta. Malaikat tersebut mendatangi orang pertama dan bertanya, “Wahai orang Arab, atas karunia Allah yang telah diberikan padamu, yakni kulit yang lebih bagus dariku dan juga harta yang lebih baik dariku, bolehkah aku meminta 1 ekor unta saja untuk meneruskan perjalananku?”. Maka orang Arab yang dahulu berpenyakit kusta tersebut menjawab, “ Sudah terlalu banyak hak orang miskin yang telah saya penuhi. Maaf aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu.” Malaikat yang menyamar tersebut kemudian menjawab “ Bukankah engkau dahulu berpenyakit kusta, lalu kemudian Allah mengaruniakanmu kulit yang baik atas penyakitmu? Bukankau engkau dahulu juga miskin, kemudian Allah menganugerahkan hewan ternak yang banyak kepadamu?” . Sontak orang Arab tersebut menjawab, “ Sungguh semua harta ini adalah peninggalan dari nenek moyangku terdahulu”. Lalu Malaikat itu berkata, “ Sungguh jika engkau bohong, sesungguhnya Allah akan mengembalikanmu pada kondisi terdahulu dimana engkau berpenyakit kusta dan juga tidak mempunyai apa-apa”.

Kemudian Malaikat mendatangi orang Arab yang kedua, yang dahulu berkepala botak. Malaikat sama datang dengan menyamar dan bertanya/meminta hal yang sama. Adapun jawaban yang sama didapatkan seperti orang Arab yang dahulu memiliki penyakit kusta. Malaikat pun pergi seraya berkata, ”Sungguh jika engkau bohong, sesungguhnya Allah akan mengembalikanmu pada kondisi terdahulu dimana engkau berkepala botak dan juga tidak mempunyai apa-apa”.

Malaikat kemudian mendatangi orang Arab yang ketiga, yang dahulu buta. Malaikat sama datang dengan menyamar dan bertanya/meminta hal yang sama. Orang buta itu menjawab, “ Sungguh karunia yang besar yang telah Allah anugerahkan pada saya. Dulu saya buta, kemudian Allah menganugerahkan penglihatan kepada saya. Dulu saya miskin kemudian Allah memberikan anugerah hewan ternak kepada saya. Ambilah semua apa yang engkau inginkan, dan tinggalkanlah apa yang tidak engkau inginkan.”. ”Sungguh Demi Allah saya tidak akan melupakan anugerah yang telah Allah berikan kepada saya”. Malaikat tersebut menjawab, “Sungguh, Allah telah Ridha kepada-Mu”.

Kisah diatas adalah contoh dari sikap wafa yang seyogianya harus kita miliki. Dulu kita ndeso, sekarang kita sudah ngota. Dulu kita miskin, kita sekarang sudah kaya. Dulu kita pengangguran, sekarang kita sudah bisa berpenghasilan. Jangan belagu! Itu adalah anugerah yang telah Allah berikan kepada kita. Sikap apa yang harus dilakukan, syukurkah? Atau sombongkah?

Hati-hati, dulu mungkin kita pernah berdo’a kepada Allah, ya Allah anugerahkan kepada saya rezeki, niscaya saya akan menyedekahkan rezeki kepada siapapun yang membutuhkan. Tapi mungkin kini, jangankan untuk memberi kepada orang lain, mungkin untuk kebutuhan diri sendiri saja semisal pendidikan agama, terasa berat sekali.

Makna Al-Wafa yang lain yang bisa sesuai dengan kosakata Al-Wafa adalah penepatan dalam perjanjian. Semisal akad. Baik akad yang menyangkut akad harta, akad jual beli, akad nikah, akad janji dengan saudara kita yang lain, dan akad-akad lainnya.

(Bersambung)

Contoh Wafa lainnya yang akan dijelaskan berikutnya adalah mengenai Menepati janji (hutang). Mohon maaf, resume ini disarikan ulang dari Rekaman Ceramah menggunakan Handphone. Tanpa mengubah inti dari ceramah, redaksi resume mungkin agak berbeda dengan ceramah aslinya karena kualitas suara yang kurang baik, conversi penulis dari bahasa lisan menjadi bahasa tulisan, ataupun kisah-kisah yang seharusnya ada Riwayat penyampaiannya.