Al-Wafa (2)


Ta’lim Ba’da Dzuhur – Masjid At-Taqwa Garuda Indonesia (20 Juli 2010) – Edisi 2

Telah dijelaskan pada bahasan sebelumnya, bahwa Al-Wafa secara sederhana adalah “Kacang tidak lupa kulitnya”. Dalam suatu kisah dikisahkan sikap wafa adalah sikap kita bersyukur akan karunia yang telah Allah berikan kepada kita, setelah pada masa dahulu kita dilanda serba kekurangan.


Wafa dalam kosakata lain bisa dikatakan sebagai menunaikan janji. Janji atau akad, merupakan wafa yang wajib kita tepati. Akad jual-beli, akad perjanjian kerja, akad nikah, dan akad-akad lainnya. Semisal dalam suatu akad pernikahan, bukankah ketika melakukan akad, dikatakan bahwa seorang suami akan selalu menjaga istrinya atau memberi nafkah pada istrinya, lantas kemudian ternyata setelah menikah kemudian seorang suami lalai untuk menjalankan kewajiban tersebut? Berarti suami tersebut tidak wafa. Padahal jika kita bisa paham, sesungguhnya jika di dunia ini ada surga, maka surga dunia itu adalah rumah tangga yang baik, sakinah, mawaddah, warrahmah. Jika di dunia ini ada neraka, maka neraka dunia itu adalah rumah tangga yang dinaungi selalu oleh pertengkaran dan ketidakrukunan.

Contoh sikap wafa lainnya, terutama dalam kaitan penetapan perjanjian adalah membayar hutang. Hutang ini dalam agama Islam termasuk perkara yang sangat penting. Dalam suatu hadist dikatakan bahwa barang siapa yang berhutang, namun kemudian menghindar untuk membayarnya, maka ketika bertemu Allah (di hari kiamat), ia akan dianggap sebagai pencuri.

Karena perkara ini adalah perkara penting, maka agama kita mengharamkan hutang kecuali jika mendesak. Jadi asal hukum hutang itu adalah haram, kecuali jika mendesak. Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa, perkara hutang ini di hari kiamat akan diqishash (dimintai balasannya yang sesuai dengan jumlah hutang tersebut), kecuali:

1. Seorang laki-laki yang berjuang di jalan Allah, namun tidak punya bekal, sehingga untuk menghadapi musuhnya harus berhutang.
2. Seorang yang mati, kemudian keluarganya untuk mengurus proses pemakamannya tidak mencukupi hartanya, sehingga harus berhutang.

(karena peserta ta’lim kebanyakan laki-laki, sebelum Ustadz menyampaikan poin selanjutnya, sang ustadz bertanya kepada peserta, siapa yang belum menikah. Kemudian ada peserta ta’lim yang mengacungkan jarinya (kalau tidak salah hanya satu orang). Si Ustadz kemudian berkata, “wah antum, jihad yang enak aja belum, apalagi yang berat” sambil tertawa kecil)

3. Seorang laki-laki yang takut membujang (ingin menikah), karena khawatir tidak bisa menjaga kemaluannya, namun tidak memiliki harta, maka ia terpaksa berhutang untuk menikah.
Maka bagi tiga golongan tadi akan terbebas dari qishash, karena Allah yang akan membayar hutang tersebut.

Jadi agama kita begitu penting menyoroti masalah hutang. Tapi di satu sisi kita belajar ekonomi dari buku yang justru mengajarkan kita untuk berhutang. Kita pasti familiar dengan slogan, kalau perlu pakai dompet orang, kalau perlu pakai duit orang, kalau perlu pakai dengkul orang, istilahnya kerja cerdas. Atau seperti yang banyak diajarkan pada buku Robert T Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad. Padahal perlu diingat, agama kita mengharamkan kita untuk berhutang, kecuali mendesak. Dan hutang ini merupakan perkara yang sangat penting, dan di yaumil akhir, pasti akan dipertanyakan, mengapa kita berhutang, kemudian untuk apa kita berhutang. Jika tidak bisa membayar, maka kakan diqishash dengan mengurangi timbangan kebaikan, atau berpindahnya dosa orang yang kita hutangi. Jadi hati-hati bagi kita untuk berhutang. Jadi hati-hati bagi kita yang senantiasa ngutang, contoh misal kredit untuk membeli barang. Atau misal membeli barang konsumtif kemudian hutang.

Barang siapa yang menghindar untuk membayar hutang, hidupnya akan susah/hancur. Makanya jika kita berhutang, maka temuin, jangan pernah menghindar. Jujur saja kalau kita memang belum mampu membayar hutang tersebut.

Ada sebuah kisah dalam hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, kira-kira sederhananya seperti ini:

“Ya Rasul, apakah ketika aku mati di jalan Allah, seluruh dosaku akan diampuni?” Tanya seorang pemuda. Rasulullah menjawab “Ya kalau kau berperang dengan mengharap ridha Allah dosamu akan diampuni”. Tapi kemudian Rasulullah bertanya kembali untuk meminta sahabat tersebut mengulang pertanyaannya. Rasul kemudian menjawab kembali, “Kecuali satu, meskipun engkau berjuang di jalan Allah dan kemudian mati syahid, maka hutangmu tetap harus dipertanggungjawabkan (tidak diampuni)”.

Dalam suatu riwayat lain dikatakan bahwa Allah mengampuni semua dosa orang yang mati syahid, kecuali hutang. Jadi Pahala peperangan yang begitu besarpun tidak bisa membayar hutang. Berat! Bahkan dahulu pada zaman Rasulullah dan sahabat, syarat orang yang bisa/ingin berperang membeli kaum muslimin haruslah orang yang bebas dari hutang. Alasan yang wajar, karena ternyata besarnya pahala peperangan tidak mampu untuk membayar hutang.

Jadi intinya, wafa itu memenuhi komitmen-komitmen. Subhanallah, betapa agama yang kita anut ini sangat menghargai hubungan interaksi sesama manusia. Jadi jangan sepelekan janji-janji (hutang-hutang) yang telah diucapkan. Karena sesungguhnya semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban

(Terlintas dalam hati pertanyaan, bagaimana ya nasib Indonesia, yang tiap tahun malah semakin bertambah utangnya?)

Wallahu’alam bi Showab.

Mohon maaf, resume ini disarikan ulang dari Rekaman Ceramah menggunakan Handphone. Tanpa mengubah inti dari ceramah, redaksi resume mungkin agak berbeda dengan ceramah aslinya karena kualitas suara yang kurang baik, conversi penulis dari bahasa lisan menjadi bahasa tulisan, ataupun kisah-kisah yang seharusnya ada Riwayat penyampaiannya.