Bekerja keras tapi kepayahan, Mau?


“Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, (Al-Ghaasyiyah 1-3)”

Sungguh derma seorang Bill Gates di mata manusia, yang menyumbangkan uangnya hingga 5 milyar dolar untuk suatu lembaga amal,

Sungguh brilian seorang Stephen Hawking di mata manusia, dengan berbagai teori kosmologinya, lubang hitam, dan fisika kuantum seakan-akan menjadi langganan rujukan bagi kemajuan kosmologi,

Sungguh lihai Lionel Messi di mata manusia, gocekannya, tendangan bebasnya, dribblingnya, hingga dibutuhkan 5 hingga 6 pemain untuk menghentikannya,

Sungguh sangat cerdasnya Steve Jobs di mata manusia, jeli membaca pasar, berani keluar kotak, hingga ipod, ipad, iphone sangat laris dan menjadi trendsetter gadget didunia saat ini,

Atau mungkin, begitu dahsyatnya kerja keras Larry Page and Sergey Brin memajukan Google di mata manusia, sehingga keduanya seakan menjadi CEO idaman untuk memimpin sebuah perusahaan,

Tapi apakah di mata Allah juga sama?

Insya Allah, jauh lebih hebat di mata Allah seorang Frederick Kanoute dibanding Lionel Messi, meskipun negaranya, Mali, tidak lolos piala dunia sekalipun.

Insya Allah jauh lebih mengagumkan di mata Allah seorang Salman Al Farisi dibanding Steve Jobs ataupun Larry Page dan Sergey Brin, meskipun hanya mengusulkan pembuatan parit sebagai benteng pertahanan dalam perang Khandaq antara kaum muslimin dengan kafir Quraisy

Insya Allah jauh lebih berkah di mata Allah infaqnya Utsman bin Affan dibanding Bill Gates , meskipun “hanya” dengan 900 ekor unta dan 100 ekor kuda serta sejumlah uang tunai ketika Perang Tabuk

Bahkan Insya Allah, jauh lebih mulia di mata Allah seorang guru SD, Bu Halimah, dibandingkan Stephen Hawking, meskipun hanya mengajar di Belitong, dan cuma mengajar sedikit siswa saja tiap tahunnya.

Kok bisa? Apa alasannya?

Jawabannya pendek. IMAN.

“””

Di antara karunia yang dilimpahkan Allah Swt. kepada manusia, iman merupakan karunia terbesar bagi kita. Sebab imanlah yang telah menjadikan kita sebagai umat yang beruntung, yang terpilih, dan memiliki peluang terbesar untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. “Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman.” (Qs. Al-Mu’minûn; 1). Dan perlu diketahui bahwa hidayah iman hanya bagi orang-orang yang Allah kehendaki. “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. (Al-Araf 178)”

Mendapat tausyiah ini dari kakak kelas SMA dulu, “bekerja keras lagi kepayahan”. Realita kehidupan di depan kita tersaji begitu kerasnya usaha banyak orang untuk mencapai kesuksesan. Pergi pagi buta pulang menjelang malam. Kerja keras membanting tulang, kepala di kaki, kaki di kepala, adalah hal yang biasa. Waktu seolah memang dihidangkan untuk bekerja dan terus bekerja. Kalaupun dollar tak didapat, ya kepingan rupiah juga cukup sebagai upah kerja keras hari itu. Tapi peringatan dari Allah, “Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan”. Ingat, harta yang dikumpulkan, jabatan yang dikejar, gelar yang diperjuangkan, suatu saat akan dipertanggungjawabkan. Dan ternyata, tanpa iman hal itu akan menjadi sia-sia. Jika yang kita lakukan bukan untuk mengharap keridhaan dari-Nya, akan menjadi perbuatan yang sia-sia.

Satu pembelajaran lagi, sungguh Maha Rahman dan Maha Rahiimnya Allah, meskipun tidak seluruh manusia beriman kepadanya, dari 6 milyar penduduk bumi, katanya hanya 1,5 milyar penduduk bumi yang beragama Islam saat ini, tetapi Allah mencukupkan rezeki dan nikmat kehidupan bagi semuanya. Allah tak pilih kasih, Allah tetap memberi karunia udara yang gratis bagi para zionis. Allah tetap memberi pendengaran, penglihatan, bagi para pendosa kepadanya. Subhanallah.

Tapi, tentunya kita bukan hanya hidup di dunia. Justru dunia inilah yang menjadi dasar hidup kita selanjutnya. Di suatu alam abadi. Alam Akhirat. Pilihannya, apakah kita hanya ingin sukses di dunia saja? Tidak! Dunia Bahagia, AKhirat masuk Surga. Dilandasi iman, dan pengharapan untuk di Ridhai-Nya.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia”

Wallahu’alam bi Shawab