Tidak


Tak ada kata selain Alhamdulillah untuk mengungkapkan perasaan ini. Tak butuh riuh tepuk tangan makhluk. Apalagi dentingan gelas minuman untuk merayakannya. Lagi pula apa yang harus dirayakan dari sebuah perpisahan. Karena hakikat pertemuan adalah perpisahan, maka tak usah berlebihan untuk mengabadikannya.

Seringkali,” tidak’ adalah frasa yang buruk untuk diungkapkan. Bahkan seringkali “tidak” lebih sulit diucapkan dalam tata budi pekerti manusia. Tapi, saat itu saya telah berani berkata “tidak”. “Tidak” untuk kegundahan hati. “Tidak” untuk memilih “ya” yang lain. Insya Allah kata “Tidak” untuk hasrat impian yang lebih menjanjikan. Setidaknya saat ini.

Bukankah pernyataan kemerdekaan hakiki pun dmulai dengan kata “tidak”? “Tidak” untuk meniadakan yang lain selain-Nya. Ingat, “tidak” tidak selamanya berpihak pada ketiadaan. Karena “tidak” tidak mungkin untuk tidak diucapkan.

“shadows prove the sunshine”