Ini Mosi Tidak Percaya!


mendengar lirik lagu Efek Rumah Kaca “mosi tidak percaya”  yang berbunyi :

ini masalah kuasa, alibimu berharga
kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa?

kamu tak berubah, selalu mencari celah
lalu smakin parah, tak ada jalan tengah

pantas kalau kami marah, sebab dipercaya susah
jelas kalau kami resah, sebab argumenmu payah

kamu ciderai janji, luka belum terobati
kami tak mau dibeli, kami tak bisa dibeli

janjimu pelan pelan akan menelanmu

ini mosi tidak percaya, jangan anggap kami tak berdaya
ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya

Entah harus seperti apa lagi mengingatkan para anggota dewan kita ini. Entah harus kepada siapa lagi rakyat ini menggantungkan harapan mendapatkan keadilan dalam hidupnya. Ataukah memang Tuhan menakdirkan bangsa ini memang tak akan lepas dari masalah?

Lebih dari 10 tahun reformasi, ternyata masih basa basi. Korupsi, kolusi, dan nepotisme yang didengungkan untuk dibumihanguskan justru hanya menjadi paradoks bagi pemberangusnya. Jika salah satu lembaga kita punya slogan “mengatasi masalah tanpa masalah”, mungkin bangsa ini senang dilanda “mengatasi masalah dengan masalah”. Belum tuntas lumpur lapindo, diciptakan teroris. Teroris belum habis, munculah Antasari. Antasari tak ngetrend lagi, keluarlah Century. Century lupa diadili, markus buru-buru diendus. Keluar Gayus. Ah Gayus udah ngga jayus lagi, muncul artis tak tau diri. So complicated!

Bagaimana mau beres, toh kinerja anggota dewan kita seperti ini. Rajin bolos seolah-olah sudah menjadi Bos. Bukan wajar lagi – mungkin sudah menjadi kewajiban – jika seorang Pong lantas mengungkapkan kekesalannya. Bahkan bukan lagi Pong yang harus menulis, seluruh rakyat nampaknya harus bergerak mengingatkan anggota dewan. Melukis mural untuk anggota dewan yang tak kunjung bermoral.

Pantas kalau kami marah. kamu dipercaya susah.
Ini mosi tidak percaya!