1st Ramadhan ~Menjaga Pahala Puasa~


Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, Ramadhan telah menyapa kita semua. Malam pertama Ramadhan pun telah dilewati bersama. Mudah-mudahan malam pertama yang telah kita lalui, telah kita isi dengan tarawih yang khusyu, tadarus Quran yang tartil, dan sahur yang berkah. Tidak lupa juga terselip do’a-do’a yang mudah-mudahan Allah SWT menjabahnya. Amin. Ibadah puasa atau shaum di bulan Ramadhan telah menjadi suatu kewajiban bagi orang beriman, dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah 183)

Ayat di atas sudah sama-sama kita ketahui, dan tentunya sudah sama-sama kita hafal, baik lafaz ataupun artinya. Dari tafsir Al-Quran Ibnu Katsir, dijelaskan mengenai ayat ini, Allah telah menyerukan kepada orang beriman dari umat Islam dan memerintahkan mereka untuk berpuasa. Puasa berarti menahan diri dari makan, minum, dan bersetubuh, dengan niat yang tulus karena Allah, karena puasa mengandung penyucian, pembersihan, dan penjernihan diri, dari kebiasaan-kebiasaan yang jelek dan akhlak tercela. Allah juga menyebutkan bahwa kewajiban puasa ini juga telah berlaku kepada orang-orang sebelum umat Muhammad, sebagai suri tauladan bagi mereka (umat Muhammad) perihal berpuasa. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kewajiban ini dengan lebih sempurna daripada yang telah dikerjakan oleh orang-orang sebelum kita.

Disebutkan di atas mengenai hal-hal yang menyebabkan batalnya puasa, yakni makan, minum, dan berhubungan suami istri di siang hari. Simpel, hanya tiga larangan. Tentunya dimulai dari mulai terbit fajar hingga terbenam kembali, gampangnya mulai adzan subuh hingga kumandang adzan maghrib. Tapi ada hal yang perlu kita cermati bersama hadist Rasulullah berikut:

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy)

Mengapa?

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu (sia-sia) dan rofats (kotor). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya. (HR. Bukhari)

Ternyata esensi puasa lebih dari sekedar menahan makan, minum, dan hubungan suami istri. Ada hal yang ternyata tidak kalah pentingnya, yakni menjaga pahala puasa. Para ulama sepakat, bahwa perbuatan di atas (berkata kotor, sia-sia, berdusta, bermaksiat) tidak membatalkan puasa. Tapi apalah gunanya puasa jika hanya menahan lapar dan dahaga. Padahal dalam hadist Rasul sangat besar sekali pahala puasa,

Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim)

Jika hanya menahan dari hal yang membatalkan puasa, ternyata binatang juga bisa melakukan hal yang sama. Seekor ular setelah memakan mangsanya, biasanya berpuasa tidak makan berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Tujuannya untuk berganti kulit. Di saat berpuasa ini, justru ular jadi lebih sabar dan berkurang kebuasannya. Ada juga seekor induk ayam yang akan berpuasa dari makan dan minum ketika mengerami telurnya. Ada juga puasanya ulat, dalam prosesnya bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu.

Tentunya menjaga pahala puasa jauh lebih berat dibandingkan menjaga dari hal yang membatalkan puasa itu sendiri. Mungkin sajian rutinitas kita di 11 bulan sebelumnya adalah tayangan televisi yang sibuk dengan gosip dan berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Mungkin ritual kita di 11 bulan terakhir adalah berdusta melalui canda tawa atau kerap melakukan perbuatan dosa baik disengaja taupun tak disengaja. Mudah-mudahan kebiasaan itu tidak terbawa selama bulan Ramadhan ini. Mari lupakan kebiasaan buruk kita di 11 bulan sebelumnya, kita sibukan diri kita dengan amalan-amalan yang sunnah. Mari kita ambil kesempatan ganjaran yang luar biasa dari Allah SWT di bulan ini, dimana amalan wajib dilipatgandakan dan amalan sunnah diganjar seperti amalan wajib. Mudah-mudahan kita sama-sama kuat menjalani ibadah shaum kita ini, dengan shaum yang terbaik, bukan shaum yang kosong yang hanya lapar dahaga, tapi shaum yang diterima oleh Allah SWT. Bismillah

Inspirasi:

cek juga:  https://ceukkangupi.wordpress.com/2010/07/29/ingin-menang-kenali-musuhmu/

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~