4th Ramadhan ~Jamaah Musiman~


Bismillahirrahmanirrahiim

Hari ke-4 Ramadhan. Alhamdulillah, Alhamdulillah, dan Alhamdulillah. Tak ada  kata yang pantas untuk diucapkan seorang hamba kepada Raja-Nya selain Alhamdulillah. Tak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur atas segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya. Kesyukuran yang dalam memang sudah sepatutnya diucapkan oleh kita pada Tuhan sekalian alam, terutama atas nikmatnya berupa iman. 4 huruf yang membedakan kita dengan manusia lainnya, insya Allah. Karena keimanan pula, seseorang yang dengan dosa begitu banyaknya, Allah masih memberikan kesempatan untuk memasuki surga-Nya. 

Mau cerita sedikit tentang masjid di tempat tinggal saya. masjid Al-Kautsar namanya. Mudah-mudahan sesuai namanya, masjid ini bisa mengantarkan para jamaahnya menuju telaga kautsar, surga-Nya Allah SWT.  Masjid ini punya jamaah tetap, jumlahnya kira-kira satu shaf pun belum penuh. Tukang adzan nya namanya Pak Komar, profesinya adalah tukang buah keliling pakai roda. Sholehnya bukan main, bukan hanya adzan di shalat fardhu saja, adzan awal yang jam 3 subuh, adzan untuk membangunkan warga agar bisa shalat malam, rajin ia lakukan. Berikutnya, tukang iqamahnya (tukang qomat) adalah Apih. Pria paruh baya ini adalah pensiunan ABRI, seru sekali kalau beliau cerita tentang pengalamannya perang membela tanah air. Getol sekali, sebelum adzan mulai beliau pasti sudah ada di masjid. Ada lagi yang namanya Pak Ayat, beliau ini mantan karyawan pensiunan juga, sekarang sebagai pengusaha, buka toko kelontong. Beliau ini imam masjid, soalnya sering jadi imam, apalagi kalau sholat dzuhur dan ashar. Ada Kakek saya, namanya Abah Surman. Beliau mantan petani. Kini sedang menikmati masa tuanya. Beliau lah yang ngajarin saya buat jangan ribut dan maen-maen kalau lagi sholat ketika saya masih kecil. Yang berikutnya adalah Pak Khalid, lebih tepatnya Ustadz Khalid. Beliau seorang sarjana bahasa arab. Jago bahasa arabnya. Beliau ini sering jadi guru ngaji ngajarin anak-anak di sekitar rumah mengkaji Al-Quran. Tapi kasihan, beliau belum mendapatkan pekerjaan. Dulu pernah jadi guru di sekolah swasta sebagai guru agama, tapi karena sekolahnya menuju bangkrut, beliau diberhentikan. Jajaran DKM kemudian memberikan beliau pekerjaan sebagai guru ngaji. Dan ada beberapa orang jemaah lagi yang rajin shalat fardhu berjamaah di masjid. Ya total semuanya mungkin 10 orang-an

Alhamdulillah Ramadhan ini pun, ternyata masjid bertambah penuh. Setidaknya hingga hari ke-4 Ramadhan ini. Ya betul, sepertinya tiap masjid mendapatkan pengunjung baru, yakni jamaah musiman. Alhamdulillah di awal Ramadhan memang masjid akan penuh dengan jamaah musiman. Baik ketika shalat fardhu maupun ketika shalat taraweh. Tak jarang penghuni tetap mesjid kini tak kebagian shalat di shaf pertama, karena semangatnya jamaah musiman ini. Memang sih biasanya tak lama, di hari ke 10 Ramadhan seleksi alamnya sudah terjadi.

Shalat 5 waktu sebagai tiang agama dalam Islam memegang peranan penting menyangkut status keislaman seseorang. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui ghayya.” (QS. Maryam: 59)

Para ulama menafsirkan kata ‘ghoyya’ dalam ayat tersebut bahwa dia adalah sungai di Jahannam yang makanannya sangat menjijikkan, yang tempatnya sangat dalam. Para ulama menyatakan bahwa tatkala orang yang meninggalkan shalat berada di dasar neraka, maka ini menunjukkan kafirnya mereka. Karena dasar neraka bukanlah tempat seorang pelaku maksiat selama dia masih muslim. Hal ini dipertegas dalam lanjutan ayatnya, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh.” Ini menujukkan bahwa ketika mereka menyia-nyiakan shalat dengan cara meninggalkannya, maka mereka bukanlah orang yang beriman. Hadist Rasulullah SAW:

“Sungguh yang memisahkan antara seorang laki-laki (baca: muslim) dengan kesyirikan dan kekufuan adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Na’uduzubillah, semoga kita bukan termasuk orang yang digolongkan pada kekafiran akibat meninggalkan shalat. Shalat  fardhu berjamaah di masjid juga ternyata menjadi salah satu hal yang penting mengenai status keislaman kita. Bahkan Rasulullah SAW dalam hadistnya begitu tegas menyampaikan:

“Pernah ada seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah salallahu’alaihi wassalam, ia berkata: ‘ Ya Rasulullah, aku tidak memiliki pemandu yang bias menuntunku untuk pergi ke masjid.’ Dia lalu meminta kepada Rasulullah salallahu’alaihi wassalam agar diberi keringanan untuk mengerjakan shalat dirumah, lalu beliau mengabulkannya. Namun tatkala lelaki itu hendak pergi, beliau memanggilnya, lalu bertanya: ‘Apakah engkau mendengar dilantunkannya adzan?’ dia menjawab: ‘Ya.’ Beliau bersabda: ‘Kalau begitu, datangilah (shalat berjama’ah).’” (HR. Muslim)

Logikanya  orang yang buta saja masih dianjurkan untuk menuju shalat berjamaah, apalagi bagi yang normal. Tak ada uzur sedikitpun. Moga kita bukanlah termasuk jamaah musiman yang dimaksud, apalagi sampai meniggalkan sholat 5 waktu. Kita lah sepatutnya yang mengakan sholat bahkan mengajak keluarga kita. Dalam Qur’an disebutkan:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At -Tahrim : 6)

Dalam status facebook seseorang teman dikatakan, “Hari ke-4 taraweh sudah mengalami “KEMAJUAN” shaf “. Haha, shaf-nya udah maju mendekati imam. Dibalas oleh salah satu teman lainnya ” semoga yg tak hadir itu tarawihnya di sepertiga penghujung malam…” . Tak ada salahnya positif thinking, yang salah adalah ketika kita ternyata termasuk golongan jamaah musiman yang shalat fardhu nya rajin di awal ramadhan tapi kemudian hilang entah kemana ditelan hari lebaran yang semakin dekat. Ya keep positif thinking, semoga yang menjadi jamaah musiman itu tidak serta meninggalkan shalat fardhunya juga.

Surga Allah memang mahal. Tak bisa ditebus dengan jalan yang mudah. Jalan yang berliku butuh kesabaran. Butuh konsistensi dan perjuangan. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjaga konsistensi ibadah kita selama bulan Ramadhan dan bulan-bulan berikutnya.

jamaah musiman, no way!

wallahu ‘alam bi shawab

Inspirasi :

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~