6th Ramadhan ~Ramadhan Merdeka~


Bismillahirrahmanirrahiim

Tiada Kemenangan tanpa Perjuangan, dan tiada Perjuangan tanpa Kesabaran. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, pemilik kehidupan dan kematian, yang masih memberikan energi kesabaran kepada kita untuk bisa mengisi Ramadhan kali ini dengan kesibukan untuk beribadah dan perbuatan yang jauh dari sia-sia. Shalawat serta salam senantiasa tercurah bagi Rasulullah Muhammad SAW, para keluarganya, para sahabatnya, dan para penerus panji risalahnya hingga akhir zaman. 

Bulan Ramadhan menjadi bagian yang sangat penting bagi perjuangan kaum muslimin. Bulan ini, Allah tidak hanya menguji kaum muslimin dengan berjuang untuk sabar menjaga konsistensi ibadahnya hingga mencapai puncaknya di 10 malam terakhir,  Allah juga menguji kaum muslimin dengan perjuangan yang menyita kekuatan fisik dan juga pikiran yang dahsyat.

Kita semua pasti tahu, bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Dan apakah Al-Qur’an sebagai wahyu yang menandakan diangkatnya Muhammad sebagai Rasul diturunkan serta merta begitu saja? Ternyata Rasulullah sebelum mendapatkan wahyu pertamanya, yakni surat Al-Alaq ayat 1-5, beliau selalu berpikir dan merenung serta berkeinginan kuat untuk mengasingkan diri (uzlah). Uzlah ini dilakukan tiga tahun sebelum masa kerasulan selama satu bulan Ramadhan penuh. Beliau menuju goa Hiro yang terdapat pada gunung Rahmah sebagai tempat beruzlah yang berjarak dua mil dari kota Makkah.  Tatkala datang Ramadhan pada tahun ketiga dari masa uzlah, bertepatan tanggal 10 Agustus 610 M dan usia beliau genap berumur 40 tahun Qomariyah lebih 6 bulan 21 hari turun kepada beliau Malaikat Jibril AS mewahyukan surat Al Alaq yang merupa-kan surat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Inilah yang disebut cikal-bakal turunnya Al Quran di bulan Ramadhan.

Perang Badar adalah perang pertama yang dilakukan oleh kaum muslimin setelah kaum muslimin hijrah dari Mekkah menuju Madinah. 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriah, adalah masa yang menentukan eksistensi kaum muslimin saat itu. Rasulullah sebelum berperang memohon pertolongan kepada Allah seraya berdo’a : ” Ya Allah, jika Engkau menghancurkan kelompok ini (yakni kaum Muslimin), maka engkau tak akan lagi disembah untuk selama lamanya”. Peperangan ini melibatkan 313 kaum muslimin dengan perbekalan seadanya karena tidak bersiap perang melawan 1000 orang kaum kafir quraisy yang bersenjata lengkap. Dengan pertolongan Allah, kaum muslimin memenangkan peperangan dengan menewaskan 70 kaum kafir quraisy dan 70 orang tawanan.

Terbunuhnya Khalifah Ali bin Abi Thalib ditangan Abdurrahman bin Muljam seorang Khawarij pada tanggal 21 Ramadhan 40 Hijriah. Dengan terbunuhnya khulafaur rasyidin terakhir ini, berakhirlah sistem kekhalifahan dalam Islam karena berikutnya diganti dengan sistem dinasti.

Peristiwa pembebasan kota Mekkah atau dikenal dengan Fathu Mekkah. Rasulullah SAW keluar bersama 10 ribu pasukan perang dari kaum Muhajirin dan Anshor menuju Makkah untuk membebaskannya dari kemusyrikan. Usaha ini berhasil dengan gemilang tanpa melalui peperangan. Kota Mekkah pun menjadi milik umat Islam hingga hari ini, dan menjadi kota yang suci dimana tak boleh satupun seorang kafir masuk ke dalamnya.

Kemerdekaan negara mayoritas muslim terbesar di dunia, Indonesia. Tanah air kita. 9 Ramadhan atau 17 Agustus 1945 adalah hari proklamasi bagi bangsa ini, yang secara de facto dan de jure menyatakan kemerdekaannya. Jika dikaitkan dengan Perang Badar, ketika itu kaum muslimin benar-benar dalam kekuatan yang sedikit dengan persenjataan yang kurang memadai, maka Pernyataan proklamasi kemerdekaan Indonesia saat itu juga dilakukan dengan situasi dan kondisi yang getir. Terlepas dari tirani Jepang karena kekalahan perang dunia, dengan hanya berbekal keberanian dan ketepatan dalam memanfaatkan momen, para founding father dengan dibantu siaran kawat Radio memproklamirkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukankah suatu pertolongan dari Allah, jika dimasukan pada logika, apa daya bambu runcing dibandingkan senapan mesin milik penjajah? Wajar jika undang-undang dasar negara kita memuat  kata “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa ….. maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”

Lantas mengapa bangsa ini yang mayoritas muslim, dan telah mencapai usia 65 tahun, nampak belum bergerak dari keterpurukan? Banyak analisis mengenai status kemerdekaan bangsa sebenarnya. Kita bisa jadi memang sudah merdeka secara administrasi, namun ternyata kita masih dijajah secara azasi. Boleh kita terbebas dari penjajahan persenjataan dan invasi militer, namun ternyata kita masih terjajah dari praktik perdagangan bebas, traficking, hutang luar negeri atau ketidakadilan hukum pada masyarakat.

Ternyata mayoritas bangsa ini lupa. Mayoritas bangsa ini lupa terhadap kemerdekaan sejati. Seorang muslim adalah seorang yang merdeka. Apa buktinya? Status Muslim seorang individu adalah diucapkannya dua kalimat syahadat. Kita mungkin memang sudah hafal dengan kedua lafadznya, Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.  Tapi apakah juga maknanya? Pernyataan kemerdekaan adalah bukan kata-kata belaka, perkataannya harus muncul dari hati dengan keyakinan yang penuh terepresentasi dalam tindak-tanduk kehidupan. Pernyataan kemerdekaan ini lah yang membuat seseorang terbedas dari apapun kecuali apa yang ia proklamirkan. Dan syahadat adalah proklamasi hakiki seorang muslim. Dikatakan , bahwa tiada Tuhan (sesembahan) selain Allah. Tapi realitanya bahwa mayoritas bangsa kita masih menghamba dan menjadikan sesembahannya adalah selain Allah. Bangsa ini begitu maju dalam hal korupsi, sehingga menumpuk harta dengan cara apapun,  adalah sesembahan bagi para koruptor. Bangsa ini begitu maniak menjadikan jabatan sebagai sesembahan, sehingga kolusi dan nepotisme sana-sini seolah menjadi jalan yang harus dilegalkan untuk mendapatkan jabatan yang diinginkan. Bangsa ini begitu carut marut dalam akhlak, pembunuhan dimana-mana, bakar bayi hal yang biasa, mutilasi adalah konsumsi, padahal Rasulullah diutus oleh Allah untuk menyenpurnakan akhlak manusia. Bangsa ini ternyata begitu bangga memepermainkan hukum dan keadilan bagi rakyatnya, maka tak aneh jika kemudian Allah enggan menurunkan keadilan di negeri ini.

Mungkin kualitas Proklamasi hakiki kita (syahadat) masih belum teruji. Padahal di zaman Rasulullah, seorang Bilal bin Rabah, seorang budak kulit hitam, rela untuk dipanggang diatas padang pasir dan ditumpuk dengan batu berat hanya demi untuk mempertahankan syahadatnya. Padahal negeri ini sudah sangat kondusif untuk menegakan dua kalimat syahadat. Tak ada cara lain bagi seorang muslim ketika diberi kemudahan melainkan bersyukur. Dan tak ada bentuk kesyukuran yang layak dilakukan selain menepati pernyataan proklamasi hakiki, Kesaksian tiada Tuhan (sesembahan) selain Allah. Dan tak ada hal yang dilakukan oleh seorang penyembah kepada sesembahannya selain melakukan hal yang dikehendaki sembahannya dan menjauhi segala apa yang dilarangnya. Mari kembali menuju kemerdekaan yang hakiki. Ramadhan Merdeka!

Wallahu ‘alam bi shawab

Inspirasi: Era Muslim

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~