8th Ramadhan ~Ghaib~


Alhamdulillah, puja dan puji hanyalah untuk Allah SWT, Rabb semesta alam. Dia-lah yang mengatur bumi ini untuk berputar pada porosnya dan berputar dengan kecepatan tertentu, sehingga bumi menjadi tempat yang nyaman bagi manusia. Dia-lah yang mencukupkan kadar oksigen yang ada di bumi ini, sehingga manusia tidak kekurangan dan kelebihan oksigen. Kenapa kalau kelebihan? Ternyata dalam suatu penelitian bahwa jika kadar oksigen di bumi ini berlebih, hutan-hutan akan mudah terbakar, karena panasnya sinar matahari akan mudah teroksidasi karena kelebihan oksigen (info lebih lengkap baca bukunya Harun Yahya). Subhanallah.

Dalam permulaan Al-Quran, di ayat-ayat awalnya, Allah menyebutkan bahwa ciri dari orang yang bertaqwa adalah mengimani yang ghaib. Dalam Al-Baqarah ayat 2-3 disebutkan dengan jelas:

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib , yang mendirikan shalat , dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Jika akal kita masih sehat, maka dengan jelas dari ayat di atas, dinyatakan bahwa ciri dari orang yang bertaqwa adalah mengimani yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang dianugerahkan. Tapi kenapa kok di ayat ini tidak disebutkan bahwa puasa juga merupakan ciri orang bertaqwa? Kalau kita lihat cermati ibadah yang kita lakukan di bulan Ramadhan saat ini, yakni melaksanakan shaum, maka shaum ini adalah sarana cara untuk menuju taqwa. Dalam Al-Baqarah 183 jelas dikatakan:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, “

Nah jika dianalogikan, ayat Al-Baqarah 2-3 menyatakan taqwa memiliki ciri keseharian (menghasilkan) mengimani yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfaqan rezeki yang dianugerahkan. Sedangkan Al-Baqarah 183 menyatakan bahwa puasa merupakan sarana untuk menuju taqwa (proses). Jadi wajar jika Allah tidak akan menerima seseorang yang berpuasa namun tetap meninggalkan sholat. Karena ketika kita meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja, maka bisa jadi kita termasuk orang yang kufur. Sabda Rasulullah SAW:

“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, mengenai ayat 3 Al-Baqarah dijelaskan bahwa perkara mengimani yang ghaib adalah mengimani Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul Rasul-Nya, hari akhir, surga dan neraka, serta pertemuan dengan Allah, dan juga beriman akan adanya kehidupan setelah kematian, dan adanya hari kebangkitan. Kesemua itu adalah hal yang ghaib. Dalam suatu riwayat dikisahkan, Seorang sahabat, yakni Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, bertanya pada Rasulullah SAW : ” Ya Rasulullah, adakah seseorang yang lebih baik dari kami? Sedangkan kami telah masuk islam bersamamu dan berjihad bersamamu pula?” Rasulullah menjawab ” Ya ada. Yaitu suatu kaum setelah kalian, mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak melihatku”

Jelas bahwa sebagian besar keimanan kita adalah keimanan terhadap yang ghaib. Wajar jika kemudian mengimani yang ghaib, adalah keharusan yang harus kita yakini untuk kemudia kita amalkan, mengesampingkan logika pikiran kita. Dalam buku Harun Yahya mengenai “Runtuhnya teori evolusi Darwin”, dijelaskan bahwa para orientalis begitu dahsyatnya mengagungkan logika atau akal dalam proses penciptaan manusia. Mereka meyakini bahwa manusia merupakan suatu makhluk yang merupakan hasil evolusi dari kera. Padahal sudah jelas dalam Al-Quran bahwa Allah-lah yang menciptakan manusia, yakni Adam a.s sebagai manusia pertama. Inilah perkara yang ghaib dan memang benar-benar harus dipercayai oleh seorang muslim. Mengimani atau mengingkari.

Dalam perkara Shalat pun, jelas bahwa keyakinan kita terhadap yang ghaib, dalam hal ini Allah SWT yang menyaksikan shalat kita, haruslah selalu kita yakini. Dalam Al-Quran dijelaskan “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sholatnya” (Al-Mu’minun 1-2). Bagaimana ciri orang yang khusyu dalam sholatnya? Yakni seseorang yang merasa Ihsan dalam sholatnya, merasa sedang menghadap Allah SWT atau sedang diawasi oleh Allah SWT. Lagi-lagi sesuatu yang ghaib. Memang sulit untuk khusyu dalam shalat, tapi memang kita harus selalu meniatkannya dan mengusahakannya, dengan memohon daan berdoa kepada Allah untuk selalu diberikan kekhusyuan ketika beribadah.

Mengimani hal yang ghaib adalah tonggak keimanan seorang muslim. Ibadah haji ke Baitullah Mekkah juga mungkin hanya akan menjadi pelesir dan wisata biasa saja jika tidak didasari keimanan pada hal yang ghaib. Shaum yang kita lakukan pun mungkin tak ubahnya hanya diet saja, menahan lapar dan minum, jika tidak didasari oleh keimanan kepada Allah SWT. Karena keimanan lah, ketika ketika sendiri ataupun ketika kita beramai-ramai, kita selalu merasa diawasi oleh Allah SWT. Shaum tak ubahnya adalah ibadah rahasia, rahasia antara seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Kita bisa saja sembunyi-sembunyi dari penglihatan manusia, untuk kemudian curi-curi menyantap makanan dan minuman. Namun karena keyakinan pada yang ghaib lah, yakni kesadaran bahwa Allah-SWT selalu mengawasi, yang kemudian mudah-mudahan menjadikan shaum kita adalah shaum yang berbeda dengan diet, tapi shaum yang didasarkan untuk mendapatkan keridhaan-Nya. Insya Allah.

Wallahu ‘alam bi shawab


Inspirasi : Ta’lim Bada dzuhur Masjid At-Taqwa Garuda Indonesia


~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~