9th Ramadhan ~Man Jadda Wajada~


Bismillahirrahmanirrahiim

Hidup adalah pilihan. Berani hidup berarti berani mengambil keputusan untuk memilih. Beruntung dan suatu karunia yang luar biasa, ketika AllahSWT  memberikan petunjuk pada kita untuk memilih Islam sebagai satu-satunya way of life kita. Alhamdulillah.

Beberapa hari terakhir, ada sebuah novel yang mengisi aktivitas saya. Novel itu diangkat dari sebuah kisah nyata seorang pemuda yang menjadi tokoh sentral sekaligus penulis novel tersebut, bernama Alif Fikri (bukan nama sebenarnya), yang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren bernama Pondok Madani. Dengan berbekal keinginan untuk memenuhi keinginan orang tuanya, meskipun si Alif Fikri ini setengah hati untuk menuntut ilmu di Pondok Madani, dia kemudian dipertemukan dengan 6 teman barunya yang kemudian menjadi teman seperjuangannya selama di Pondok Madani. Ya betul, bagi anda yang sudah menebak novelnya, judul novelnya “Negeri 5 Menara” karya Anwar Fuadi. Sampai saat ini memang saya belum menamatkan novel tersebut, baru setengahnya, tapi Alhamdulillah novel itu sudah memberikan banyak hikmah bagi saya.  Review lebih lengkap bisa dilihat di link Negeri 5 Menara.

Ada petuah menarik dalam novel tersebut, yang memang menjadi ruh dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Man Jadda wajada. Siapa yang bersungguh- sungguh pasti akan berhasil! Kira-kira begitu artinya. Sebuah petuah arab yang mennjadi landasan seorang penulis untuk kemudian mencapai berbagai cita-cita dan keinginannnya. Berbekal hal ini dan pertolongan Allah tentunya, si penulis Anwar Fuadi, mendapatkan 8 beasiswa dari luar negeri dari institusi yang berbeda-beda. Subhanallah.

Sunnatullah atau hukum alam memang tak pernah bohong. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil. Seperti sunnatullah lainnya, siapa tidak makan pasti lapar, siapa tidak minum pasti haus. Siapa belajar pasti pintar, siapa tidak hati-hati bisa celaka. Petuah-petuah orang tua kita dahulu yang sudah sangat familiar. Dan pasti sudah ditanamkan sejak kecil. Tapi namanya manusia, kita ternyata sering lupa dan lalai. Dan kewajiban antara seorang muslim kepada muslim lainnya adalah mengingatkannya.

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil, adalah Sunnatullah yang telah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an :

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS Ar-Ra’ad 11)

Di balik ketetapan yang telah Allah tetapkan di Lauhin Mahfuz, ternyata Allah SWT sendiri yang menyeru kepada kita untuk mengubah diri kita sendiri. Ya tadi, representasinya adalah jika kita ingin menginginkan sesuatu atau pencapaian, sudah menjadi kewajiban kita untuk melakukan usaha dengan keras. Memang benar, ada variabel pertolongan Allah dan juga ketetapan Allah di balik itu semua, tapi apakah pertolongan Allah itu didapat secara gratis? Beberapa kisah sejarah menjadi jawaban, betapa untuk mendapatkan pertolongan Allah itu, dilakukan dengan penuh kerja keras, penuh pelah dan tetesan darah.

Masih ingat kisah Ismail a.s dan Siti Hajar yang ditinggal di padang tandus? Lalu kemudian Allah memberikan pertolongan dengan memberikan air, yang kita kenal dengan air zamzam. Sebelum mendapat pertolongan Allah, apakah Siti Hajar diam begitu saja? Diabadikan dalam sejarah bahwa Allah menguji Ibrahim a.s., anaknya yang masih kecil dan menyusui Ismail a.s, dan Istri Ibrahim a.s yakni Siti Hajar. Nabi Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan anak dan istrinya di padang tandus dengan hanya berbekal air minum seadanya. Ketika ditinggalkan, dan persediaan air habis, maka Siti Hajar kemudian meninggalkan sementara Ismail a.s untuk mencari air. Untuk mencari air, Siti Hajar mengerahkan semua usahanya dengan berlari-lari kecil mencari sumber air hingga ke bukit shafa dan marwa sebanyak 7 kali. Ingin tahu berapa jarak Shafa dan Marwa? 420 meter. Memang tidak terlalu jauh, tapi dilakukan sebanyak 7 kali kemudian pada kondisi kehausan serba kering dan meninggalkan seorang anak yang masih menyusui, bukankah sebuah kesungguhan seorang Siti Hajar? Dengan kesungguhan tersebutlah Allah kemudian menolong dengan memberikan mukjizat berupa munculnya air dari tempat ditinggalkannya Ismail. Sebuah mata air yang hingga kini tak habis-habisnya dinikmati oleh jutaan muslim di dunia yang mengunjungi Mekkah. Itulah air zamzam.

Ingat kisah perang Khandaq? Atau perang yang dikenal dengan perang parit ketika zaman Rasulullah SAW. Perang ini juga dikenal dengan Perang Ahzab. Ahzab berarti bersekutu. Perang ini terjadi pada tahun ke-5 paska nabi hijrah ke Madinah. Umat Islam saat itu dihadapkan pada peperangan menghadapi kaum kafir yang terdiri dari Suku Quraisy, Yahudi dan Gatafan. Kesemuanya bersekutu untuk berperang ingin menghancurkan umat muslim. Kekuatan kafir quraisy saja berjumlah 4000 orang. Ditambah dari bani-bani lainnya, total pasukan musuh berjumlah 10000 pasukan. Total kaum muslim saat itu belumlah banyak. Baru sekitar 3000 orang, termasuk anak-anak dan wanita. Perang ini berlangsung kurang lebih selama satu bulan, tapi tanpa konfrontasi, melainkan perang jarak jauh, karena antara kaum muslimin dan kaum kafir, terpisah oleh parit (khandaq). Parit ini merupakan usulan dari seorang alim dari Persia, yakni Salman al-farisi. Pembuatan parit ini penuh perjuangan, panjangnya saja 5000 hasta (sekitar 2,25 km) dengan kedalamandan lebar sekitar 6-7 hasta (2,5-3 meter). Rasulullah melakukan penggalian parit dalam waktu yang singkat yang harus selesai sebelum musuh mencapai madinah. Karena itu Rasulullah dan para sahabat tanpa kenal lelah dan sungguh-sungguh melakukan hal tersebut. Dalam suatu riwayat dikisahkan, bagaimana Rasulullah sampai menahan perut nya dengan batu, karena beliau beserta para sahabatnya sudah tidak merasakan makanan selama tiga hari. Dengan usaha yang keras dan sungguh-sungguh inilah kemudian Allah menolong kaum muslimin dengan memporak-porandakan kaum kafir dengan angin taufan ke basecamp mereka.

Kesungguhan adalah syarat untuk mencapai kesuksesan. Itu adalah sunnatullah yang memang Allah telah tetapkan, tak pandang bulu, berlaku untuk seluruh umat manusia. Jangan mimpi bisa menyelesaikan ujian dengan mudah jika kita tidak pernah memperhatikan dosen mengajar atau mengkaji buku textbook kuliah. Jangan mimpi untuk bisa menyelesaikan tugas akhir, jika begadang untuk mengejar deadline draft tugas akhir saja kita enggan melakukannya. Jangan mimpi untuk bisa menjadi seorang pengusaha sukses, jika enggan untuk merintis usaha dari nol dan mengalami banyak kerugian. Seorang Cristiano Ronaldo saja, untuk melatih fisiknya, sehari dia menghabiskan angkatan beban yang jika dijumlah mencapai 20 ton! Jangan mimpi deh.. kalo lo emang pengen sukses tapi hidup lo cuma diisi ama hura-hura dan kongkow-kongkow doang! Please, jangan mimpi!

Man Jadda Wajada!

Wallahu ‘alam bi Shawab

Inspirasi : Buku “Negeri 5 Menara” karya Anwar Fuadi

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~