10th Ramadhan ~Beristri Empat~


Bismillahirrahmanirrahiim

Esok akan menjadi kemarin. Tapi kemarin tak pernah bisa menjadi Esok. Sekali lagi, esok akan menjadi kemarin, tapi kemarin tak pernah bisa menjadi esok. Hidup ini adalah perjalanan melingkar. Bukan perjalanan lurus. Bukan perjalanan naik dan turun. Bukan perjalanan ke kiri dan kekanan, tapi perjalanan melingkar. Apa yang dimaksud dengan perjalanan melingkar? Innalillahi wa Inna ilaihi raji’un. Berawal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Ada sebuah kisah penting yang bisa kita renungi, sebuah kisah bercerita tentang seseorang pria kaya raya yang memiliki istri empat. Di saat usia sudah senja, pria ini merasakan bahwa ajalnya sudah dekat. Di saat itu ia merasa perlu mengumpulkan istri-istrinya untuk ditanyai satu persatu. Mengapa? Ia ingin istrinya menemani dirinya untuk bersama-sama menuju alam baqa, alam kekal abadi.

Mulai lah dipanggil satu-persatu istrinya. Dimulai dari istrinya yang keempat. Seperti umumnya, biasanya istri ke empat adalah yang lebih muda dan tentunya memiliki paras yang lebih cantik dibanding istri-istri lannya. Mulailah pria itu bertanya, “Wahai istriku yang sangat kucintai, ajalku kian mendekat, maukah engkau menemaniku hingga ke alam baqa?” Istrinya menjawab ” Maaf suamiku, sorry. Aku tidak mau menemanimu ke alam baqa. Aku masih memiliki banyak kesempatan, masih banyak yang bisa aku lakukan”. Kecewa pria tersebut dengan jawaban istri keempat.

Kemudian dipanggil lah istrinya yang ketiga. Dengan pertanyaan yang sama pria tersebut menanyai istrinya. Dengan jawaban lebih sopan terhadap suaminya, istri ketiga menjawab ” Suamiku, aku sedih harus ditinggal olehmu. Tapi jika aku harus menemanimu ke alam baqa, aku tidak bisa.”. Kecewa dengan istri yang ketiga, dipanggilah istrinya yang kedua. Dengan pertanyaan yang sama, istri kedua pun menjawab dengan lebih sopan lagi dengan menampakan raut muka sedih dan airmatanya, ” Aku sedih jika harus ditinggal olehmu. Tapi maaf jika aku harus mengikutimu ke alam baqa, aku tidak bisa. yang aku bisa hanyalah mengantarkanmu hingga peristirahatan terakhirmu.”

Sempurnalah kekecewaan pria tersebut. Harapannya adalah tinggal pada istrinya yang pertama. Yang paling tidak ia hargai, paling ia sia-siakan dibanding istri-istri lainnya. diliputi ketakutan akan tertolaknya lagi keinginan pria tersebut, dengan pertanyaan yang sama pria tersebut bertanya pada istrinya yang pertama. Istrinya menjawab ” Abang, tentu aku pasti akan menemanimu. Sampai alam baqa pun aku pasti akan terus bersamamu”.

—-

Hidup manusia bagaikan pria tadi yang beristri empat. Istri keempat kita adalah harta. Bisa dikatakan harta inilah yang menguras penuh pikiran kita. Menguras peluh keringat kita, menyita banyak waktu kita. Inilah yang membuat berat kepala kita. Inilah yang membuat puyeng kepala kita. Banting tulang, kepala di kaki, kaki di kepala, pergi pagi pulang petang. Tak kenal lelah, tak kenal istirahat. Padahal dalam hadist qudsi, Allah menyatakan bahwa harta anak adam itu hanyalah tiga perkara, yang pertama adalah yang kita makan kemudian menjadi kotoran, yang kita pakai kemudian menjadi rusak, dan harta yang kita sedekahkan untuk kemudian menjadi amal shaleh.

Maka benar jika Allah menyatakan bahwa rezeki manusia itu sudah ditentukan. Kita mungkin bisa berbelanja berbagai macam bahan makanan, tapi mungkin yang makan adalah para pembantu kita. Kita mungkin bisa membeli mobil mewah, tapi mungkin yang menikmati penuh adalah supir kita. Jika kita perhatikan rezeki, seseorang yang sudah sepuh bisa saja memiliki sejumlah uang di dompetnya untuk membeli daging, tapi ternyata tidak bisa. Karena daging bisa membuat kolesterolnya kambuh. Berarti Allah telah mencabut rizki dagingnya dari dia. Seseorang yang berdompet tebal, bisa saja membeli berbagai macam minuman menyegarkan atau softdrink, tapi ternyata dia tidak bisa karena dia menderita penyakit gula. Berarti Allah telah mencabut nikmat makanan manis dari dirinya. sadar atau tidak bahwa harta yang kita kumpulkan siang malam, jika kita sudah mati itu adalah hak milik ahli waris kita. Hak kita hanyalah sehelai kain kafan yang menemani kita hingga ke liang lahat. Kita yang mengumpulkan harta tersebut, ahli waris kita yang menikmati, tapi di hadapan Allah kita yang mempertanggungjawabkannya. Inilah yang jadi perhatian kita, harta, harta, harta. Masya Allah. Waktu muda cari harta sampai lupa kesehatan. Waktu tua cari sehat sampai tidak bisa mencari uang.

Istri yang ketiga adalah badan kita. Tubuh atau jasad kita. Sadar atau tidak pasti kita akan memperhatikan penampilan fisik kita. Tiap hari minimal satu kali, pasti kita membersihkan diri kita dengan mandi. Adapun hal lainnya, kita juga butuh bayak waktu dan perhatian untuk membuat penampilan kita lebih baik. Oleh karena itu puasa hadir ditengah-tengah kita untuk menjadi pengingat kebersihan hati kita, setelah kita terlena karena selalu memperhatikan fisik kita. Puasa adalah ibadah rahasia. Ibadah hati. Hanya Allah dan orang yang berpuasa tersebut tahu mengenai kualitas puasanya. Kita begitu sibuk memperhatikan fisik kita, padahal Allah memperhatikan apa isi hati kita. Wajar jika dalam suatu hadist, dikatakan :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR Bukhari Muslim)

kita bisa saja menunjukan pada manusia kebaikan kita, tapi yang tahu isi hati kita hanyalah Allah dan kita sendiri. Karena itu amalan yang dilandasi dengan riya adalah tertolak. Istri kedua yang kita miliki adalah keluarga kita. Keluarga kitalah yang mungkin paling dekat dengan kita, dan ketika kita meninggal hanya mungkin mengantarkan kita hingga ke liang kubur. setelah itu pergi meninggalkan kita. Kita memang berkorban untuk mereka, mencari nafkah siang malam untuk menafkahi mereka, membeli barang-barang untuk dinikmat mereka. Tapi ketika kita mati, ya sudah, mereka hanya mampu mengantar kita hingga gundukan kuburan kita. setelah itu pulang.

Terakhir inilah istri yang pertama kita. Yang sering kita lalaikan. Yang sering kita lupakan. Yang hanya kita lirik-lirik sebentar saja. Yang hanya kita lakukan ketika kita sulit. Yang kita lupakan disaat kita bahagia. Yang kita sapa ketika kita susah, yang kita abaikan ketika kita lapang. Amal ibadah kita. Kita banyak meluangkan waktu untuk harta kita, kita bisa menyediakan waktu untuk badan kita, kita bisa menyempatkan waktu untuk keluarga kita. Tapi ternyata kita sangat sering sering sekali memikirkan amal ibadah kita. padahal amal ibadah ini adalah amalan yang akan menemani kita hingga yaumil akhir kelak. Di alam kubur, amal ini akan menjelma sesuai yang dilakukannya selama di dunia. Jika kebaikan yang kita dapatkan, maka amal akan menjelma menjadi teman yang menyejukan selama di alam kubur menemani hingga hari penghisaban. Jika keburukan yang kita dapatkan, maka amal kita akan menjelma menjadi hal yang menyeramkan, menjijikan, yang menghantui dan menyiksa kita di alam kubur.

Sudahkah kita mempersiapkan istri pertama kita ini? Sudahkah kita memperlakukan yang terbaik bagi istri pertama kita ini? Kalo boleh jujur saya itu mirip dengan Cristiano Ronaldo. Saya juga mirip dengan Presiden SBY.  Saya, Presiden SBY, anda, Obama, Ariel , Luna, tukang becak di depan jalan gang kita, supir pribadi kita, pembantu kita, sama-sama mirip hidup di dunia ini. sama-sama punya waktu hidup hanya tiga hari. Hari pertama adalah hari kemarin atau hari yang lalu. Anda, saya, sama-sama tidak bisa mengulanginya. Hari kedua adalah hari esok. Dimana anda, saya sama-sama tidak tahu apakah akan menjumpainya. Dan hari yang ketiga adalah hari ini, saat ini, detik ini, menit ini, yang sedang kita alami saat ini. Bisa jadi saat ini adalah sia-sia, kebaikan, atau keburukan, hanya kita yang bisa menentukannya.

Kita sama-sama hanya punya waktu tiga hari. Kualitas istri pertama kita lah yang membedakan kita di mata Allah. Karena itu tak layak kita sombong diantara yang lainnya, toh kita sama hanya memiliki waktu tiga hari di dunia ini. Mudah-mudahan kita tidak menyia-nyiakan tiga hari yang kita miliki. Mudah-mudahan tiga hari yang kita miliki, membuat kita sangat memperhatikan istri pertama kita. Istri yang menemani kita hingga hari pengadilan kelak.

Wallahu ‘alam bi shawab.

Inspirasi : Ceramah Tarawih Masjid Nurul Barkah PT. Angkasa Pura II, Bandara Soekarno Hatta

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~