11th Ramadhan ~Jika Rasulullah SAW duduk di samping Anda~


”Assalamu’alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh,” sapanya.

”Wahai saudaraku, betulkan engkau benar-benar beriman kepadaku di samping beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para nabi, hari akhir dan qadha dan qadar dari Allah? Sudahkan keimananmu itu menjadikanmu tentram dan tidak mencari kedamaian dari keimanan-keimanan yang lain?”

”Wahai saudaraku, benarkah cintamu kepadaku lebih dalam dan lebih besar dari cintamu kepada harta, jabatan dan keluargamu? Sudahkah engkau siap untuk mengorbankan kedudukanmu yang begitu engkau banggakan ketika sunnahku mengharuskan engkau berkata benar dan bertindak tegas dan jabatan adalah taruhannya? Bukankah engkau telah melihat bagaimana nasih ummatku yang kelaparan, telanjang kedinginan dan tidur di bantalan rel kereta api? Sudahkah engkau berbuat sesuatu dengan hartamu?”

”Wahai suadaraku, sesekali aku medengar engkau membaca shalawat kepadaku, bersenandung diba dan barzanzi memujiku sudahkah engkah benar-benar menghayati maknanya dan merenungi arti yang terkandung di dalamnya? Masihkah engkau ingat dengan isi shalawat dan pesan berzanzi ketika engkau berada di proyek, saat melakukan tender, saat transaksi keuangan, saat memilih bank, saat memilih asuransi, saat meluncurkan produk baru, saat sales promotion, saat memilih sales-girl, saat merancang iklan, saat menetukan pakaian model iklan, saat membahas PERDA di DPRD, saat meminta pengusaha membayar sejumlah dana untuk meloloskan RUU, saat menentukan SPJ, saat melihat korban tsunami, saat ada gempa, saat menerima karban lumpur? Ataukah engkau hanya membaca shalawat untuk ”lip service” saja dengan harapan aku akan memberimu shafaat di Padang Mahsyar di hari kiamat nanti? Mulutmu mengucap tetapi hatimu kosong, fikiranmu menerawang, dan tindakanmu teramat jauh dari sunnah ku.”

”Aku memahami hidup semakin hari semakin sulit apalagi di kota besar. Harga barang dan kebutuhan pokok semakin mahal, pendidikan semakin elitis, kesehatan semakin tidak terjangkau, transportasi tidak murah dan amburadul. Aku melihat di atara kalian banyak yang stress dan ciut nyalinya. Demikian pula anak-anak kalian yang sudah beranjak remaja dan dewasa. Mereka seolah limbung melihat kebingungan orang tuanya dan tidak terlalu bergairah melihat masa depan mereka sendiri.”

”Jangan sedih saudaraku! Aku juga dulu mengalami masa-masa yang sulit di usia kecilku. Aku terlahir yatim. Setelah berusia 6 tahun, ibu tercinta pun mangkat di kampung Abwa saat pulang berziarah ke pusara ayahku di Madinah. Saat itu aku pun bertanya kepada Ummu Ayman, pembantu setia ibuku, kemana aku harus pergi? Di rumah siapa aku harus tinggal? Siapa yang akan membiayai sekolahku? Siapa yang akan membelikan bajuku? Siapa yang akan merawatku? Siapa yang akan memberikan belai kasih kepadaku? Ayahku telah meninggal, kini ibuku menyusul pula”

”Ummu Ayman membesarkan hatiku dengan membawaku ke kakenda tercinta Abdul Muthalib. Beliau mencurahkan kasih dan sayangnya kepadaku tetapi apa dinyana hanya berselang 2 tahun ia pun dipanggil Allah SWT. Kini aku harus mencari tempat berteduh lain. Syukurlah kakenda menitipkanku kepada Abu Thalib, saudara tua ayahku. Aku harus berterima kasih dan berbesar hati di rumahnya, meskipun pamanda adalah orang yang keadaan finansialnya tidak terlalu ajeg dan sering kekurangan makan di rumahnya.”

”Untuk meringankan beban ekonomi aku bekerja ”serabutan”. Sebagai anak remaja aku mengerjakan apa saja asalkan halal; dari mengembala kambing, mencari kayu bakar, sampai memikul batu untuk pembangunan rumah tetangga. Semua itu aku lakukan sebagai bagian dari self development dan personal leadership.”

“Wahai saudaraku, aku juga gusar mendengar banyak sekali ummatku yang tidak mau berusaha dan memulai bisnis karena alasan klasik, tidak punya modal, tidak punya uang dan tidak punya jaminan untuk pinjam. Sesungguhnya untuk menjadi entrepreneur tidak melulu seluruhnya harus diawali dengan modal uang setumpuk. Menurutku, money is not the number one capital in business, the number one capital in business is trust (amanah) and competency. Uang bukanlah modal utama dan segala-galanya dalam bisnis. Modal utama dalam bisnis adalah kepercayaan dan kompetensi. Bukankah engkau sudah melihat sendiri, aku sudah buktikan bahwa tanpa modal secuilpun aku bisa menjalankan bisnis dengan menerima amanah dagangan para investor Makkah. Dengan kepercayaan itu aku berdagang menjual barang mereka dan berbagi hasil atas dasar system mudharabah. Memang benar, untuk mendapatkan kepercayaan tidak lah mudah; kita harus jujur, walk the talk, melaksanakan apa yang anda katakan, tidak mengumbar janji dan teguh memegang kepercayaan orang.”

“Sungguh pun demikian, jujur saja tidak cukup. Syarat berikutnya anda harus fathanah atau kompeten di bidang anda. Kalau sebagai pedagang, Anda harus tahu barang apa yang sedang laku dan sedang model saat unu, bagaimana consumer behavior masyarakat suatu daerah, anda harus memiliki selling skill yang baik, murah senyum, sabar meladeni nasabah, service excellence dan on-time dalam delivery barang. Di samping itu anda juga harus banyak bergaul dan memperluas network, jangan jadi jago kandang sambil mengharap proteksi dari pemerintah. Ketika aku muda dulu, aku jajakan barang dagangan Makkah di Madinah, dari Madinah aku ke pasar Al-Rabih di Hadralmaut, Souq San’a dan Souq Aden di Yaman, Pasar Suha dan Pasar Daba di Oman, Kota Jerash di Jordan, dan Pasar Al-Mushaqqar di Bahrain.“

”Mohon diingat dengan baik, saat itu belum ada pesawat terbang seperti kalian pakai saat ini. Aku menunggang unta, mengarungi lautan padang pasir yang sangat panas, berbahaya, tanpa toilet, tanpa AC, tanpa pramugari atau makanan siap saji. Saat itu juga aku menghadapi kesulitan untuk berkomunikasi dengan investorku di Makkah karena belum ada faq, email, apalagi sms atau fasilitas teleconference. Lebih dari itu aku juga harus menjaga hasil penjualan dengan ekstra ketat karena belum ada bank dan safe deposite box. Kalau sedang butuh uang tunai tambahan, aku harus pandai-pandai mensiasatinya karena saat itu belum ada ATM seperti sekarang.”

”Mengenai masalah keluarga, terkadang aku suka sedih kalau mendengar sebagian orientalis dan sebagian ummatku yang berfikir seperti orientalis menuduhku dengan tuduhan yang menyakitkan. Mereka menuduhku sebagai seorang hypersex, fedofil dan memiliki istri yang tidak terbatas jumlahnya. Seolah tidak ada cerita lain dari kehidupan tumah tanggaku kecuali poligami.”

”Jika anda melihat perjalanan hidupku anda akan melihat bahwa selama 25 tahun atau lebih aku hanya memiliki seorang istri Khadijah Binti Khuwalaid. Di saat Khadijah hidup cintaku hanya untuk dirinya. Pada usia 51 tahun baru aku diamanahi Allah untuk mencari pengganti Khadijah guna menemani perjuangan dakwah ini.”

”Lebih penting lagi jika anda perhatikan hampir semua istri-istriku setelah Khadijah adalah janda-janda yang tidak jarang usianya lebih tua dariku. Saudah Binti Zam’ah misalnya berusia 65 tahun saat aku berusia 51 tahun. Ia adalah janda dengan 12 anak yang ditinggal mati oleh suaminya Sukran bin Amsal Al-Anshary. Demikian juga Maimunah binti al Harits, janda Ruham bin Abdul Uzza, ia berusia 63 tahun saat aku 58 tahun. Maimunah banya membantuku dalam dakwah di kalangan Yahudi bani Nadhir, karena ia keturunan Yahudi. Sama juga halnya dengan Juwairiyyah binti Harits AL-Khuzaiyyah, ia telah berusia 65 tahun ketika aku 57 tahun. Ia termasuk janda miskin dengan 17 anak. Satu-satunya wanita yang dinikai dalam keadaan gadis adalah ’Aisyah dan Maria Al-Qibtiyyah, seorang budak yang dihadiahkan oleh Al-Muqauqis Mesir lalu kemerdekakan.

….

”Ingatlah wahai saudaraku, tegakkanlah hukum dengan seadil-adilnya! Dengarkanlah alasan dan argumentasi dari setiap pihak sehingga kau mendapatkan gambarang dengan penuh. Jika ada seorang datang berperkara dengan memperlihatkan matanya yang hancur sebelah sabarlah dahulu sampai pihak kedua datang, siapa tahu pihak kedua datang dengan dua mata yang hancur dan buta. Janganlah kau bersikap keras kepada yang lemah dan lunak kepada yang kuat. Jangan kau putar balikkan putusan perkara hanya karena uang sepuluh, dua puluh juta, seratus, dua ratus juta atau sepuluh, dua puluh milyar. Ingatlah, berapa pun yang sogokan yang engkau terima tidak akan cukup untuk menebusmu dari siksaan Allah di Neraka Jahannam. Lebih dari itu, semakin banyak yang haram yang engkau terima semakin banyak kayu bakar neraka yang akan dinyalakan dengannya.”

”Wahai saudaraku, jagalah Islam ini baik-baik! Aku dan sahabat-sahabatku dahulu memperjuangkannya dengan tetesan keringat, darah, dan air mata. Selama sepuluh tahun tidak kurang dari sembilan peperangan besar dan lima puluh tiga ekspedisi militerku jalani. Dengan segala kekurangan bekal dan kesederhanaan senjata, sedikit demi sedikit bumi Allah dibebaskan dari belenggu kejahiliyahan.”

”Wahai Saudaraku, janganlah egois dan sok sibuk, sehingga tidak mau berjuang serta berkorban untuk Islam, karen aalasan keterbatasan waktu bisnis dan mengurusi proyek. Niscaya jika Sahabat Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Hamzah, Saad dan Abdurrahman Auf mengatakan, ”i am too busy with my business, i don’t have time for Islam” aku yakin Islam tidak akan sampai ke Jakarta, Surabaya, Medan, Brunei, Kuala Lumpur, New delhi, Islamabad, Tunisia, atau Casablanca. Islam sampai ke tempat kalian karena jasa-jasa mereka.”

….

diambil dari tulisan Dr. Syafii Antonio yang begitu sistematis dalam sebuah epilog yang ”seakan-akan” Rasulullah berada di hadapan kita untuk berdiskusi dan memberi banyak nasehat.

Pada akhirnya, kita pun harus mempersiapkan jawaban bila satu saat nanti berjumpa dengannya dan beliau menyapa kita, “ Benarlah kau cinta kepadaku? Sejauh mana kau telah mengikuti sunnahku? Sudahkah kau amalkan suri tauladanku? Sejauh mana ia telah mewarnai kehidupanmu?”…
Bagaimanakah kita akan menjawabnya??


Inspirasi : Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager ~Dr. Syafii Antonio~

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~