12th Ramadhan ~Hikmah di balik Ujian~


Sehalus-halus kehinaan di sisi Allah adalah tercabutnya kedekatan kita dari sisi-Nya. Hal ini biasanya ditandai dengan kualitas ibadah yang jauh dari meningkat, atau bahkan menurun. Tidak bertambah bagus ibadahnya, tidak bertambah pula ilmu yang dapat membuatnya takut kepada Allah, bahkan justru maksiatpun sudah mulai dilakukan, dan anehnya yang bersangkutan tidak merasa rugi. Inilah tanda-tanda akan tercabutnya nikmat berdekatan bersama Allah Azza wa Jalla. Pantaslah bila Imam Ibnu Athoilah pernah berujar, “Rontoknya iman ini akan terjadi pelan-pelan, terkikis-kikis sedikit demi sedikit sampai akhirnya tanpa terasa habis tandas tidak tersisa”. Demikianlah yang terjadi bagi orang yang tidak berusaha memelihara iman di dalam kalbunya. Karenanya jangan pernah permainkan nikmat iman di hati ini. Ada sebuah kejadian yang semoga ada hikmah yang bisa diambil.

Kisahnya dari seorang teman yang waktu itu nampak begitu rajin beribadah, saat sholat tak lepas dari linang air mata, shalat tahajud pun tak pernah putus, bahkan anak dan isterinya diajak pula untuk berjamaah ke mesjid. Selidik punya selidik, ternyata saat itu dia sedang menanggung utang. Karenanya diantara ibadah-ibadahnya itu dia selipkan pula doa agar utangnya segera terlunasi. Selang beberapa lama, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Kaya dan Maha Mengabulkan setiap doa hamba-Nya pun berkenan melunasi utang tersebut. Sayangnya begitu utangnya terlunasi doanya mulai jarang, hilang pula motivasinya untuk beribadah. Biasanya kehilangan sholat tahajud menangis tersedu-sedu, “Mengapa Engkau tidak membangunkan aku, ya Allah ?”, ujarnya seakan menyesali diri.

Tapi lama kelamaan tahajud tertinggal justru menjadi senang karena jadual tidur menjadi cukup. Bahkan sebelum azan biasanya sudah menuju mesjid, tapi akhir-akhir ini datang ke mesjid justru ketika adzan. Hari berikutnya ketika adzan tuntas barui selesai wudhlu. Lain lagi pada besok harinya, ketika adzan selesai justeru masih dirumah, hingga akhirnya pun ia memutuskan untuk sholat di rumah saja.

Begitupun untuk shalat, biasanya ketika masuk mesjid shalat sunat tahiyatul mesjid terlebih dulu dan sholat fardhu pun selalu dibarengi sholat rawatib. Tapi sekarang saat datang lebih awal pun malah pura-pura berdiri menunggu iqomat, selalu saja ada alasannya. Sesudah iqomat biasanya memburu shaf paling awal, kini yang diburu justru shaf yang paling tengah, hari berikutnya ia memilih shaf sebelah pojok, bahkan lama-lama mencari shaf di dekat pintu, dengan alasan supaya tidak terlambat dua kali. “Kalau datang terlambat, maka ketika pulang aku tidak boleh terlambat lagi, pokoknya harus duluan!” Pikirnya.

Saat akan sholat sunat rawatib, ia malah menundanya dengan alasan nanti akan dirumah saja, padahal ketika sampai di rumah pun tidak dikerjakan. Entah disadari atau tidak oleh dirinya, ternyata pelan-pelan banyak ibadah yang ditinggalkan. Bahkan pergi ke majlis ta’lim yang biasanya rutin dilakukan, majlis ilmu di mana saja dikejar, sayangnya akhir-akhir ini kebiasaan itu malah hilang. Ketika zikir pun biasanya selalu dihayati, sekarang justru antara apa yang diucapkan di mulut dengan suasana hati, sama sekali bak gayung tak bersambut. Mulut mengucap, tapi hati malah keliling dunia, masyaallah. Sudah dilakukan tanpa kesadaran, seringkali pula selalu ada alasan untuk tidak melakukannya. Saat-saat berdoa pun menjadi kering, tidak lagi memancarkan kekuatan ruhiah, tidak ada sentuhan, inilah tanda-tanda hati mulia mengeras.

Kalau kebiasaan ibadah sudah mulai tercabaut satu persatu, maka inilah tanda-tanda sudah tercabutnya taufiq dari-Nya. Akibat selanjutnya pun mudah ditebak, ketahanan penjagaan diri menjadi blong, kata-katanya menjadi kasar, mata jelalatan tidak terkendali, dan emosinya pun mudah membara. Apalagi ketika ibadah shalat yang merupakan benteng dari perbuatan keji dan munkar mulai lambat dilakukan, kadang-kadang pula mulai ditinggalkan. Ibadah yang lain nasibnya tak jauh beda, hingga akhirnya meninggallah ia dalam keadaan hilang keyakinan kepada Allah. Inilah yang disebut suul khatimah (jelek di akhir), naudzubillah.

Semoga kita dilindungi dari sifat yang demikian. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan sebaik-baik umur kami pada akhirnya, sebaik-baik amal pada penutupannya, dan sebaik-baik hari hari kami adalah saat bertemu dengan-Mu.

Wallahu ‘alam bi shawab

Inspirasi : Ceramah Ust. Abdullah Gymnastiar “Hikmah di balik Ujian”

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~