15th Ramadhan ~Kekayaan~


Bismillahirrahmanirrahiim

15th Ramadhan 1431 H. Hari ini, tepat tengah bulan dari bulan Ramadhan, saat bulan menampakan purnamanya. Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang mengatur kehidupan dan kematian di alam semesta ini. Dialah Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia. Bukan mustahil bagi-Nya, purnama yang kita saksikan di tengah bulan ini, lenyap begitu saja ketika Allah berkehendak.

Dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia, adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang. Manusia cenderung lupa terhadap dua nikmat tersebut, bahkan justru malah menjadi bumerang bagi manusia. Sadar atau tidak sadar, kita merasa dekat dengan Allah ketika kita sedang sakit. Betapa khusyunya kita berdo’a memohon kesehatan, betapa berurainya air mata kita, ketika kita dihimpit kesulitan, dihimpit deadline, dihimpit tugas tak berkesudahan, untuk memohon kepada Allah diberikan kemudahan dan kelapangan. Masya Allah, padahal ketika kita ditimpakan kesenangan, kesehatan, atau kelapangan, apakah kita kemudian mengucap syukur pada-Nya? Apakah kemudian kita mengingat-Nya? Astaghfirullah, semoga kita dihindarkan dari golongan yang demikian.

Banyak manusia memang bisa lulus dari ujian Allah, ketika memang ujiannya berupa kesulitan ataupun kemudahan. Tapi sulit sekali manusia untuk bisa lulus ujian Allah ketika ujian yang diberikan adalah kemudahan, kelapangan, dan kekayaan. Beberapa kisah dalam Al-Quran bercerita tentang bagaimana manusia ternyata malah menjadi sombong dan merasa tinggi ketika sudah kaya, padahal ketika miskin atau cukup, dia begitu taat kepada Allah. Kisah Karun mungkin bisa menjadi referensi bagaimana harusnya kita bersikap terhadap kekayaan.

Dalam Al-Quran diterangkan,

“Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa , maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”  (76) Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(77) Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (78) Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.(79) Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. (80) Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya). (81) Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)” (82) (QS AL-Qashash : 76-82)

Karun adalah representasi dari kecongkakan seorang manusia yang merasa bahwa kekayaan yang dianugerahkan kepadanya adalah kerja keras dirinya dan berkat ilmu yang dimilikinya. Karun dilimpahi oleh Allah kekayaan yang luar biasa banyaknya. Bahkan, untuk membawa kunci tempat penyimpanan hartanya, harus dibawa oleh orang-orang kuat. Ketika dia  dinasihati untuk bersyukur mengenai harta yang dianugerahkan kepadanya, Karun berkata ” Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Allah sangat tidak menyukai orang sombong, hingga datanglah Sunnatullah, Karun dibenamkan bersama harta-hartanya kedalam perut bumi hingga tak bersisa hartanya sedikitpun.

—-

Manusia ibarat Penunggang kuda liar. Kuda itu adalah nafsunya, Pelana adalah akalnya, dan tali kekang adalah imannya. Pelana dan tali kekang inilah yang dibutuhkan untuk mengatur agar nafsu bisa dikendalikan. Momen Ramadhan, yang kemudian orang yang beriman wajib untuk berpuasa di bulan tersebut, hadir untuk memperkuat tali kekang agar tidak putus dihantam nafsu. Momen Ramadhan lahir bagi seluruh umat Islam, untuk mengingatkan rasa lapar, mengingatkan kesulitan menahan makan dan minum, juga sarana berbagi bagi masyarakat tidak mampu di sekitar kita dengan media zakat. Sadar atau tidak, kita tak ada apa-apanya di hadapan Allah. Dalam suatu hadist Qudsi dikatakan :

Dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallahuanhu dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana beliau riwayatkan dari Rabbnya Azza Wajalla bahwa Dia berfirman: Wahai hambaku, sesungguhya aku telah mengharamkan kezaliman  atas diri-Ku dan Aku telah menetapkan haramnya (kezaliman itu) diantara kalian, maka janganlah kalian saling berlaku zalim. Wahai hambaku semua kalian adalah sesat kecuali siapa yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya Aku akan memberikan kalian hidayah. Wahai hambaku, kalian semuanya kelaparan kecuali siapa yang aku berikan kepadanya makanan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian makanan. Wahai hamba-Ku, kalian semuanya telanjang kecuali siapa yang aku berikan kepadanya pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku niscaya Aku berikan kalian pakaian. Wahai hamba-Ku kalian semuanya melakukan kesalahan pada malam dan siang hari dan Aku mengampuni dosa semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku niscaya akan Aku ampuni. Wahai hamba-Ku sesungguhnya tidak ada kemudharatan yang dapat kalian lakukan kepada-Ku sebagaimana tidak ada kemanfaatan yang kalian berikan kepada-Ku. Wahai hambaku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari kalangan manusia dan jin semuanya berada dalam keadaan paling bertakwa diantara kamu, niscaya hal tersebut tidak menambah kerajaan-Ku sedikitpun . Wahai hamba-Ku seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir, dari golongan manusia dan jin diantara kalian, semuanya seperti orang yang paling durhaka diantara kalian, niscaya hal itu mengurangi kerajaan-Ku sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, seandainya sejak orang pertama diantara kalian sampai orang terakhir semunya berdiri di sebuah bukit lalu kalian meminta kepada-Ku, lalu setiap orang yang meminta Aku penuhi, niscaya hal itu tidak mengurangi apa yang ada pada-Ku kecuali bagaikan sebuah jarum yang dicelupkan di tengah lautan. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (Riwayat Muslim)

Wallahu ‘alam bi shawab

Inspirasi : Ceramah Buka Bersama Garuda Indonesia oleh Ust. Jefri Al-Bukhori

baca juga : Al – Wafa (1)

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~