16th Ramadhan ~Membumikan Al-Qur’an~


(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah 185)

Ramadhan hendak akan menginjak malam ke-17. Syahrul Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an. Ramadhan mendapat tempat yang istimewa bagi umat Islam. Bulan ini adalah bulan dimana diturunkannya AL-Qur’an. Kitab yang menandai diangkatnya seorang Muhammad bin Abdullah menjadi Rasul, melalui diturunkannya 5 ayat pertama surat Al-Alaq. Dalam tafsir Ibnu katsir dijelaskan Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus (dari Lauh Mahfudz)  ke Baitul Izzah di langit dunia, dan itu terjadi pada bulan Ramadhan, pada malam lailatul qadar. Dalam Al-Qur’an disebutkan :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan” (Al-Qadr : 1)

Setelah itu diturunkan sebagian demi sebagian (secara bertahap) kepada Rasulullah SAW sesuai dengan peristiwa yang terjadi (Asbabun Nuzul nya). Begitulah yang disampaikan oleh Ibnu Abbas dengan periwayatan dari beberapa jalur. Al-Qur’an menjadi begitu istimewa dan menjadi pegangan bagi seseorang yang mengaku Allah adalah Tuhannya  dan Muhammad adalah Rasul-Nya. Dalam ayat diatas (Al-Baqarah: 185), disebutkan bahwa Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Ini merupakan pujian bagi Al-Quran yang diturunkan sebagai petunjuk bagi hati para hamba-Nya yang beriman, membenarkan, dan mengikutinya. Qur’an adalah dalil dan hujjah (argumen) yang nyata dan jelas bagi orang yang memahami dan memperhatikannya. Hal ini menunjukan kebenaran ajaran yang dibawanya, berupa petunjuk yang menentang kesesatan dan bimbingan melawan penyimpangan, serta pembeda antara yang haq dan yang bathil, yang halal dan yang haram.

Pertanyaannya, dengan begitu jelasnya Al-Qur’an sebagai petunjuk yang diturunkan oleh Allah melalui Rasulullah, sedekat apakah kita dengan Al-Qur’an?  Begitu ruginya kita jika di Bulan Ramadhan masih juga belum dekat dengan Al-Quran. Ramadhan adalah suasana yang begitu kondusif untuk dekat dengan Al-Qur’an. Kita perhatikan di masjid-masjid, tadarus Qur’an diadakan rutin setiap harinya. Kajian-kajian tentang Quran juga banyak diselenggarakan di banyak majelis ilmu. Tayangan TV menjelans berbuka juga banyak menayangkan kultum membahas ayat-ayat AL-Quran. Banyak orang-orang yang selain di bulan Ramadhan tidak mampu mengkhatamkan Al-Quran, di bulan Ramadhan ini bisa mengkhatamkan Quran. Ada yang 1 kali, 2 kali, dan berkali-kali. Apakah kita tidak iri dengan mereka? Sungguh keras hati kita jika saja di bulan Ramadhan ini, kecintaan kita kepada Al-Qur’an masih biasa-biasa saja. Bahkan tidak tergerak untuk membaca Quran satu ayat pun.

Motivasi apa lagi yang kurang yang dikaruniakan oleh Allah untuk memotivasi kita untuk membaca Al-Qur’an?

“Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Al-Quran memang bukan hanya bacaan, Al-Quran bukan novel, melainkan petunjuk yang dengan memahaminya, mentadaburinya, dan mengamalkan isinya. Memang mungkin tahapan kita saat ini masih sebatas membacanya, tapi ternyata mukjizat Al-Quran juga sudah bisa menjadikan pembacanya luar biasa. Ada kisah menarik dari sebuah milis mengenai fenomena seorang pembaca AL-Qur’an.

Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan Kentucky bersama cucu laki-lakinya. Setiap pagi Sang kakek bangun pagi dan duduk dekat perapian membaca Al-qur’an. Sang cucu ingin menjadi seperti kakeknya dan memcoba menirunya seperti yang disaksikannya setiap hari. Suatu hari ia bertanya pada kakeknya : “ Kakek, aku coba membaca Al-Qur’an sepertimu tapi aku tak bisa memahaminya, dan walaupun ada sedikit yang aku pahami segera aku lupa begitu aku selesai membaca dan menutupnya. Jadi apa gunanya membaca Al-quran jika tak memahami artinya ?

Sang kakek dengan tenang sambil meletakkan batu-batu di perapian, memjawab pertanyaan sang cucu : “Cobalah ambil sebuah keranjang batu ini dan bawa ke sungai, dan bawakan aku kembali dengan sekeranjang air.”

Anak itu mengerjakan seperti yang diperintahkan kakeknya, tetapi semua air yang dibawa habis sebelum dia sampai di rumah. Kakeknya tertawa dan berkata, “Kamu harus berusaha lebih cepat lain kali “. Kakek itu meminta cucunya untuk kembali ke sungai bersama keranjangnya untuk mencoba lagi. Kali ini anak itu berlari lebih cepat, tapi lagi-lagi keranjangnya kosong sebelum sampai di rumah.

Dengan terengah-engah dia mengatakan kepada kakeknya, tidak mungkin membawa sekeranjang air dan dia pergi untuk mencari sebuah ember untuk mengganti keranjangnya. Kakeknya mengatakan : ”Aku tidak ingin seember air, aku ingin sekeranjang air. Kamu harus mencoba lagi lebih keras. ” dan dia pergi ke luar untuk menyaksikan cucunya mencoba lagi. Pada saat itu, anak itu tahu bahwa hal ini tidak mungkin, tapi dia ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa meskipun dia berlari secepat mungkin, air tetap akan habis sebelum sampai di rumah. Anak itu kembali mengambil / mencelupkan keranjangnya ke sungai dan kemudian berusaha berlari secepat mungkin, tapi ketika sampai di depan kakeknya, keranjang itu kosong lagi. Dengan terengah-engah, ia berkata : ”Kakek, ini tidak ada gunanya. Sia-sia saja”.

Sang kakek menjawab : ”Nak, mengapa kamu berpikir ini tak ada gunanya?. Coba lihat dan perhatikan baik-baik keranjang itu .”

Anak itu memperhatikan keranjangnya dan baru ia menyadari bahwa keranjangnya nampak sangat berbeda. Keranjang itu telah berubah dari sebuah keranjang batu yang kotor, dan sekarang menjadi sebuah keranjang yang bersih, luar dan dalam. ” Cucuku, apa yang terjadi ketika kamu membaca Qur’an ? Boleh jadi kamu tidak mengerti ataupun tak memahami sama sekali, tapi ketika kamu membacanya, tanpa kamu menyadari kamu akan berubah, luar dan dalam.

Membacanya saja sudah memberikan perubahan luar biasa. Tapi kita tak cukup berhenti sampai membaca, karena Qur’an diturunkan sebagai petunjuk, maka mempelajari dan mengamalkan isinya adalah tahap berikutnya yang patut dilakukan oleh seorang Muslim.

Wallahu’alam bi shawab

Inspirasi : Ceramah tarawih Masjid Nurul Barkah PT Angkasa Pura II, Bandara Soekarno Hatta oleh Ust Yusuf Mansyur

baca juga : 14th Ramadhan ~Kita dan Al-Quran~


~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~