17th Ramadhan ~Manusia~


Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. Dan seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (Ar-Ruum 17-26)


Segala puji bagi Allah yang menjadikan suatu makhluk berwujud manusia. Manusia dengan seluruh perangkat yang dimilikinya, akal dan nafsu, dipercaya oleh Allah SWT untuk mengemban amanah sebagai khalifah di dunia. Hal yang dipertanyakan oleh Malaikat, ditolak oleh Iblis, tapi diyakinkan oleh Allah, bahwa manusialah yang meskipun kerap berbuat kerusakan di muka bumi, diberi kepercayaan untuk mengelola bumi sebagai tempat ujiannya sebelum kembali menghadap Sang Kuasa, Allah SWT.

Ayat Qur’an diatas menerangkan manusia seharusnya, proses penciptaannya, fitrahnya, kewajibannya, dan juga perintah Allah untuk menggunakan akalnya sebagai instrumen memahami semua fenomena yang Allah berikan di bumi. Manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Manusia diberi anugerah untuk bisa berkembang biak dengan memberikan pasangan dari golongan manusia. Terbukti bahwa Islam adalah agama fitrah, agama yang memberikan fasilitas azasi manusia. Islam bukan agama rahib yang rela untuk tidak menikah. Tapi Islam juga bukan agama yang membolehkan dengan sesuka hati menyalurkan nafsunya dimana saja. Ada suatu mekanisme yang dinamakan pernikahan. Sehingga nafsu dan akal menyatu secara harmoni menjadi amal shaleh.

Manusia dan makhluk lain yang Allah ciptakan memiliki satu perbedaan yang prinsip, yakni akal. Itulah yang membuat kemudian malaikat mengakui bahwa manusia memang pantas menjadi khalifah di bumi. Ketika Allah mengajarkan kepada Adam beberapa nama, dan kemudian Adam mampu menyebutkan dan mengingat nama-nama tersebut. Malaikat hanya dibekali nafsu, tapi hanya nafsu kebaikan. Syaitan juga hanya dibekali nafsu, yakni nafsu kejelekan yang selalu membangkang perintah Allah, dan Manusia dibekali nafsu kebaikan dan kejelekan, dan dengan akalnya mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Maha suci Allah yang telah menganugerahkan kepada manusia penciptaan yang begitu sempurna.

Dengan kesempurnaannya manusia, manusia juga merupakan makhluk yang kompleks. Dari fisiknya saja begitu sangat sempurna. Tulisan yang berjudul “Menghitung dari Otak” di majalah New Scientist, menggunakan analogi berikut mengenai kemampuan luar biasa yang ditunjukkan otak. Secara kasar, otak manusia adalah komputer alami yang terdiri dari 10 hingga 100 milyar neuron, yang masing-masing berhubungan dengan sekitar 10.000 lainnya, dan semuanya berfungsi secara parallel. Sistem neuron melakukan 100 langkah pemrosesan dalam melakukan suatu tugas rumit seperti melihat atau berbicara yang bagi sebuah komputer elektronis akan membutuhkan milyaran langkah pemrosesan.

Islam begitu menghargai akal. Bahkan akal menjadi landasan diterimanya amal seorang manusia. Islam mengampuni orang yang gila atau hilang akal, Islam juga mengampuni orang yang lupa. Jika kita perhatikan, syarat diterimanya suatu amal, pertama adalah ikhlas karena Allah SWT, dan kedua juga sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Pertama adalah buktinya keimanan kepada Allah SWT. Dan yang kedua inilah dimana akal kita digunakan. Kita diperintahkan untuk mengkaji apa yang dicontohkan Rasulullah. Seorang muslim tidak diperkenankan untuk taklid, yakni mengikuti apa-apa tanpa ada dasarnya. Dilarang kita melakukan sesuatu tanpa dasar yang memang diajarkan oleh Rasulullah melalui Al-Qur’an dan Sunnahnya. Seorang manusia dewasa adalah manusia yang mampu membedakan mana yang haq dan yang bathil. Dan karena itulah seorang muslim baru diperhitungkan amal kebaikan dan dosanya ketika mencapai akil baligh. Ketika secara pemikiran, dia mampu membedakan mana yang haq dan yang bathil.

Kemuliaan bagi manusia ketika dia mampu mensyukuri dan memanfaatkan anugerah akalnya untuk semakin mendekatkan diri pada pencipta-Nya. Dan semoga kita mampu memanusiakan status manusia kita yang telah Allah anugerahkan kepada kita semua.

Wallahu ‘alam bi Shawab

Inspirasi : QS Ar Ruum 17-26 (Dzikir yang diajarkan Rasulullah untuk selalu dibaca di pagi dan sore hari)

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~