20th Ramadhan ~Masih Pantaskah Kita berLebaran?~


Bismillahirrahmanirrahiim

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Lebaran sudah di depan mata. Dan ini mungkin sudah lebaran yang lebih dari 20kali nya untuk kita. Lebaran seperti biasanya di Indonesia, pasti diliputi dengan penuh kegembiraan, mudik , ketupat opor ayam sambal goreng ati, ataupun bertambahnya karunia berupa baju baru atau barang baru. Ya, masih banyak mungkin kebiasaan-kebiasaan lain di Indonesia, ritual ataupun insidental yang memang kerap dilakukan saat lebaran, dan itu tidak terdapat di negara dengan penduduk muslim lainnya.

Lebaran memang momen untuk setiap orang. Orang shaum atau tidak berhak merayakan lebaran. Orang shalat tidak shalat berhak merayakan lebaran. Perampok bersenjata dengan M-16 di Medan, juga berhak merayakan lebaran. Koruptor-koruptor juga tak dilarang untuk merayakan lebaran. Bahkan mungkin lebaran mereka jauh lebih meriah daripada orang yang Allah janjikan kembali fitri di hari lebaran.

Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, saya pribadi juga tidak tahu kenapa Idul Fitri kemudian dikenal dengan nama Lebaran, seringkali kita lupakan esensinya. Esensi yang jauh lebih bernilai di mata Allah. Sesuai dengan namanya Fitri, diambil dari kata Al-Fithr atau fitrah. Sesuai dengan kondisi awalnya, bahwa manusia dilahirkan dari rahim ibu, dan terlahir dalam kondisi fitrah atau bersih, bersih dari kotoran dan dosa. Maka Idul Fitri adalah momen dimana seorang hamba yang setelah berpuasa satu bulan lamanya, dan shaumnya diterima, maka akan diampuni seluruh dosanya oleh Allah SWT, sehingga ketika hari Idul Fitri datang, maka hamba tersebut suci kembali seperti bayi baru lahir dari rahim ibunya.

Tapi apakah setiap orang akan fitri kembali di Idul Fitri? Lebih spesifik lagi, apakah setiap orang yang shaum akan fitri kembali di Idul Fitri? Padahal dalam Hadist Rasulullah :

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” HR Ahmad

Padahal syarat pengampunan dari Allah dalam hadist Rasulullah:

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR Bukhari)

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari)

=========

Hari ini sudah menginjak hari ke-20 Ramadhan, dan di malam nanti insya Allah kita akan bertemu dengan malam ke-21, yang berarti kita harusnya sudah semakin semangat untuk memburu amalan utama di bulan Ramadhan ini, Lailatul Qadar. Lailatul Qadar, dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa malam ini lebih baik dari seribu bulan. Dan untuk mendapatkannya kita dianjurkan untuk beritikaf (berdiam diri mendekatkan diri beribadah kepada Allah) di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Maka jika diibaratkan sebuah kendaraan yang melaju di dini hari tol cipularang, maka di 10 hari terakhir ini, ibadah kita harusnya sudah ada di gigi 5 dengan kecepatan 180 km/jam. Semakin kencang untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Kita tentu ingin bahwa kita adalah orang-orang yang kembali fitri di hari fitri. Tapi apakah kita termasuk yang diampuni dosanya di akhir Ramadhan? Apakah kita termasuk hamba-Nya yang digolongkan dan memperoleh la’alakum tattaqun? Hambanya yang bertakwa. Entah menjadi kebiasaan atau mungkin keharusan, bahwa fenomena bulan Ramadhan begitu memilukan di akhirnya. Su’ul khatimah – akhir yang buruk. Dan entah apakah kita menjadi bagian dari fenomena itu. Di akhir Ramadhan, kita ternyata lebih sibuk menjadi jamaah mall dan rumah makan, dibanding di awal Ramadhan dimana kita memenuhi jamaah salat subuh dan shalat tarawih. Di akhir Ramadhan, kita lebih sibuk memikirkan mudik, bahkan rela untuk menanggalkan puasa untuk melaksanakan mudik. Padahal di awal Ramadhan kita begitu menjaga puasa dengan sungguh-sungguh. Di awal Ramadhan, kita begitu rajin menjadi barisan shaf shalat fardhu berjamaah di Masjid, tapi di akhir Ramadhan, menunaikan shalat saja sudah untung, kita lebih sibuk menyiapkan lebaran dengan ketupat yang enak dan kue-kue kecil yang manis. Padahal Ibnu Qayim Al-Jauziyah ra mengungkapakan meninggalkan sholat lima waktu dengan sengaja adalah lebih besar dosanya dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Na’udzubillah.

Kita masih jauh dari ulama salaf. Kita begitu pede bahwa ibadah kita diterima sehingga yakin bahwa diakhir Ramadhan kita kembali menjadi fithri. Ulama Salaf begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, sehingga mereka berharap-harap cemas agar amal mereka diterima dan khwatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah :

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (Al-Mu’minun 60)

Tidak diterimanya amalan mereka lebih dikhawatirkan daripada banyak beramal. Lihat pula perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri,

“Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.

=========

Insya Allah masih ada 9 atau 10 hari tersisa Bulan Ramadhan ini. Mari kita isi hari-harinya dengan kedekatan dan semangat untuk beramal sebanyak-banyaknya karena Allah. Mari kita isi malam-malamnya dengan memohon ampunan dosa kepada-Nya. Mudah-mudahan momen lebaran nanti, kita akan dirundung kesedihan dan kebahagiaan. Kesedihan di dunia karena kita berpisah dengan Ramadhan, bulan yang pernuh berkah dan ampunan, dan kita tidak tahu apakah ini Ramadhan terakhir kita mungkin. Dan kebahagiaan di akhirat, ketika kita berjumpa dengan Allah dengan ampunan dari-Nya. Mudah-mudahan kita senantiasa diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk mengisi hari-hari terakhir kita di bulan Ramadhan ini dengan kebaikan. Sehingga lebaran kita adalah lebaran yang spesial, lepas dari sekedar ritual, apalagi hanya perayaan insidental.

Wallahu ‘alam bi shawab

Inspirasi : Panduan Ibadah Ramadhan : Muhammad Abduh Tuasikal


~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~