21st Ramadhan ~Z.A.K.A.T~


Bismillahirrahmanirrahiim

Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi taubat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (AL-Mujadilah 13)

Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?

Tak ada sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini melainkan sudah sesuai dengan kadarnya. Dan sadar atau tidak, semuanya berjalan penuh harmoni penuh keseimbangan.  Laki-laki perempuan, siang-malam, baik-buruk, panas dingin, bukankah semua itu adalah Sunnatullah yang seimbang? Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhoi Allah juga adalah agama yang seimbang. Islam bukanlah agama yang hanya hubungan vertikal antara seorang hamba dengan Tuhannya, tapi juga agama yang menuntut keadilan sosial atau hubungan harmonis antara manusia dengan manusia lainnya. Karena itulah Rasullah diutus kepada umat manusia sebagai pembawa Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, Rahmat bagi Semesta Alam.

Untuk hubungan antara hamba dengan penciptanya, kita memang seringkali tidak melupakannya. Shalat, Puasa, Ibadah Haji, adalah ibadah antara hamba dengan Tuhannya, hanya unsur niat saja yang nantinya akan membuat apakah ibadah shalat, puasa, dan ibadah haji diterima oleh Allah atau tidak. Dengan niat yang karena Allah, insya Allah membuat ibadah kita diterima, dan niat itu adanya di dalam hati, sehingga hanya menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Tuhannya. Hubungan sesama manusia lah yang mungkin sering kita lupakan. Sehingga Islam sebagai Rahmat bagi semesta alam belum dirasakan. Masih saja ada kesenjangan antara si kaya dan si miskin, masih ada saja satu kekenyangan dan di sisi lain kelaparan. Masih saja ada di satu pintu yang hidup bermewah-mewahan, tapi di pintu lainnya masih beralas tanah bernaung langit.

Padahal Islam telah mengajarkan untuk menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan manusia, melalui shalat dan zakat (termasuk di dalamnya infaq dan shadaqah). Sekurang-kurangnya 26 kali Allah menyandingkan dalam Al-Qur’an antara dirikan Shalat dan tunaikan Zakat.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al-Bayyinah 5)”

Di hadapkan kita, di akhir Ramadhan ini hadir suatu kewajiban dan merupakan salah satu dari zakat. Yakni Zakat fitrah. Zakat yang wajib ditunaikan dari setiap jiwa seorang muslim berupa 2,176 kg beras (kesepakatan ulama) sebagai pembersih jiwa menyempurnakan ibadah shaum kita. Masih banyak jenis zakat yang lain, yang jika sudah mencapai nishabnya (ukurannya) dan telah jatuh haulnya (tempo 1 tahun), maka wajib kita tunaikan zakatnya. Diambil dari situs http://PKPU.or.id berikut adalah jenis-jenis zakat yang ada dan harus kita tunaikan:

  • Zakat fitrah. Zakat ini wajib dikeluarkan bagi setiap jiwa. Besarnya sejumlah 1 sha (2.176 kg) makanan pokok yang wajib dibayarkan di akhir bulan Ramadhan sebelum sholat Ied dimulai.
  • Zakat Emas dan Perak. Yang wajib dizakati adalah emas dan perak yang dijadikan simpanan dan tidak dipakai. Besaran zakatnya adalah 2,5 %. Untuk emas, batasnya 85 gram, sedangkan untuk perak 595 gram. Kesemuanya baru wajib dizakati ketika sudah mencapai haulnya (waktunya) yakni selama satu tahun.
  • Zakat Pertanian. Nishab zakat pertanian adalah 653 kg beras, dengan besar zakat 5% untuk pertanian yang diairi irigasi, dan 10 % untuk pertanian yang diberi pengairan alami. Dibayarkan di tiap panen.
  • Zakat Perniagaan dan Perusahaan, adalah zakat yang dikeluarkan dari harta niaga. Nishabnya yakni 85gram emas. Harta yang wajib dizakati jika sudah mencapai satu tahun, dengan besar zakat 2,5 % total harta niaga kita.
  • Zakat Profesi. Besarnya 2,5 % dari Take Home Pay.
  • Zakat Uang simpanan dan Deposito. Uang simpanan dikenakan zakat dari jumlah saldo akhir bila telah mencapai nishab dan berjalan selama 1 tahun. Besarnya nishab senilai 85 gram emas. Kadar zakat yang dikeluarkan adalah
    2,5%.
  • Zakat Investasi. Zakat invesatasi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil investasi, seperti mobil, rumah, dan tanah yang disewakan. Dengan demikian zakat investasi dikeluarkan dari hasilnya bukan dari modalnya. Besarnya 5% dari total nilai investasi.
  • Zakat Hadiah dan Sejenisnya. Besarnya adalah 20 % dari nilai hadiah.
  • Zakat Peternakan. Ternak yang wajib dizakati adalah Unta, Kambing, dan Sapi. Besar dan haulnya terdiri dari berbagai macam jenis. Lebih lengkap mengenai jenis-jenis zakat dan aturannya bisa diunduh disini

Zakat adalah sebagian kecil dari infaq yang memang senantiasa harus dilakukan oleh seorang muslim. Zakat ada ukurannya, sedangkan infaq tidak ada ukurannya, bebas sekeinginan pemberi infaq. Masih takutkah harta kita akan berkurang karena berzakat atau berinfaq? Janji Allah pada ayat diatas, sekali lagi takkan berkurang dan takkan miskin orang yang menunaikan sedekah. Janji Allah tak pernah salah, dan apabila kita meragukannya maka yang perlu dipertanyakan adalah keimanan kita kepada Allah, bukan pada benar atau tidaknya janji Allah.

Beberapa kisah pada zaman sahabat dan khalifah bisa menjadi pelajaran bagaimana zakat menjadi suatu hal yang sangat penting untuk ditunaikan. Ketika zaman Khalifah Abu Bakar, beliau tidak ragu-ragu untuk memerangi golongan yang enggan membayar zakat. Karena enggan membayar zakat sama dengan  mendustakan agama. Di satu sisi, zakat juga menjadi instrumen yang penting bagi status kesejahteraan suatu masyarakat. Kisah populer ketika di zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz, ketika masyarakatnya sudah terlampau makmur dikarenakan zakat.

Diriwayatkan oleh Abu Ubaid, bahwa Gubernur Baghdad Yazid bin Abdurrahman mengirim surat kepada Amirul Mukminin tentang melimpahnya dana zakat di baitulmaal karena sudah tidak ada lagi yang mau menerima zakat. Lalu Umar bin Abdul Aziz memerintahkan untuk memberikan upah kepada mereka yang biasa menerima upah, dijawab oleh Yazid, “kami sudah memberikannya tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal, lalu Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan untuk memberikan dana zakat tersebut kepada mereka yang berhutang dan tidak boros. Yazid pun berkata, “kami sudah bayarkan hutang-hutang mereka, tetapi dana zakat begitu banyak di baitulmaal”, kemudian Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar ia mencari orang lajang yang ingin menikah agar dinikahkan dan dibayarkan maharnya, dijawab lagi “kami sudah nikahkan mereka dan bayarkan maharnya tetapi dana zakat begitu banyak di Baitul Maal”. Akhirnya Umar bin Abdul Aziz memerintahkan agar Yazid bin Abdurrahman mencari seorang yang mempunyai usaha dan kekurangan modal, lalu memberikan mereka modal tambahan tanpa harus mengembalikannya.

Masyarakat Indonesia pun saya rasa rindu dengan kondisi yang sama dengan kondisi khalifah Umar bin Abdul Aziz. Zakat telah berhasil mengentaskan kemiskinan bahkan menjadi surplus di kas baitul maal. Di tahun 2009 saja menurut Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), KH Didin Hafidhuddin, mengungkapkan, Potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 19,3 triliun setiap tahunnya.  potensi zakat sebesar itu sangat besar, namun belum tergarap secara optimal. Butuh profesionalitas dan kerjasama seluruh elemen umat Islam, dan kita sebagai umat Islam harus turut serta aktif untuk mengkampanyekan zakat dan tentu menunaikan zakat. Meminjam slogan pajak, HARI GINI GAK BAYAR ZAKAT, MAU DIKUTUK DUNIA?

wallahu ‘alam bi shawab


inspirasi : panduan praktis zakat pkpu


~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~