23rd Ramadhan ~Keberkahan dalam Makanan~


Bismillahirrahmanirrahiim

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

“Mendekati Hari Raya Idul Fitri, daging tidak layak konsumsi kembali marak ditemukan di berbagai pasar tradisional. Berdasarkan inspeksi mendadak yang dilakukan Dinas Peternakan maupun Dinas Perdagangan di sejumlah daerah petugas menemukan daging sapi yang dicampur daging babi serta daging yang mengandung cacing hati. Di Jember, Jawa Timur, polisi menangkap seorang pedagang daging di Kecamatan Kencong. Pedagang bernama Samsul Arifin itu menjual daging sapi yang dicampur dengan daging babi dengan komposisi 70 persen daging sapi dan daging babi 30 persen. Kepada polisi Samsul mengaku sudah menjual daging oplosan ini selama dua bulan seharga Rp35 ribu per kilogram. (MetroTVnews.com)

“Tim gabungan dari Dinas Pertanian Surakarta, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah serta Kepolisian Daerah Jawa Tengah menyita 2,5 kilogram daging sapi busuk yang ditemukan di Pasar Nusukan Surakarta, Rabu (25/08). Daging tersebut disita agar tidak dijual oleh pedagang kepada konsumennya. Selain menemukan adanya daging busuk, tim tersebut juga masih menemukan pedagang di Pasar Legi yang menjual daging ayam serta daging babi dalam satu meja. “Penjualan daging babi harus dilakukan secara terpisah,” kata Wenny. Sebab, daging babi merupakan barang haram bagi sebagian besar masyarakat. (tempointeraktif.com)

“Menjelang Lebaran, disinyalir banyak daging ayam bangkai, daging sapi glonggongan, dan daging sapi bercampur daging babi beredar di pasar-pasar di Yogyakarta. Penjualan daging yang tidak layak konsumsi dan diharamkan, khususnya bagi umat Islam itu, mulai ditemukan di beberapa pasar di Yogyakarta, antara lain di Pasar Terban dan Pasar Beringharjo. Untuk mengatasi peredaran daging tersebut, pemerintah provinsi (pemprov) diharapkan segera mengeluarkan peraturan daerah (perda) yang mengatur kelayakan daging yang dijual di pasar. Hal itu diungkapkan dr Bambang Dwijo MPH, Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akhir pekan lalu, di Yogyakarta. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan beberapa waktu lalu di Pasar Terban dan Pasar Beringharjo, dia menemukan pedagang ayam yang menjual daging ayam bangkai. Bambang Dwijo mengatakan, seharusnya ayam bangkai langsung dimusnahkan, sebab sering terjadi ayam bangkai yang dijual pedagang untuk pakan lele dibeli pedagang daging ayam lainnya untuk dijual kembali di pasar dalam bentuk potongan-potongan. Untuk mengelabui pembeli, mereka memberikan zat pewarna kuning untuk menutupi warna merah yang menjadi ciri daging bangkai. Dengan cara itu, daging tersebut berwarna putih, sama dengan daging ayam segar. (poultryindonesia.com)”

==========

Lebaran sudah di depan mata. Banyak umat Islam, disadari atau tidak, jauh-jauh hari pasti mempersiapkan kedatangannya. Salah satu hal yang biasanya tak pernah lupa, adalah hidangan untuk bersantap. Mulai dari daging-dagingan, kupat-kupatan, kacang-kacangan, kue-kuean, dan masih banyak lagi. Membaca berita-berita di atas dari beberapa media nasional, tentu miris melihat kondisi makanan kita yang nampaknya masih jauh dari standar halal dan baik. Perlu kehati-hatian yang serba ekstra, bagi umat muslim, mungkin khususnya bagi kaum perempuan yang biasa berbelanja di pasar untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya. Padahal makanan adalah unsur yang tak mungkin untuk dihilangkan dari kebutuhan manusia, dan sudah menjadi fitrah tentunya.

Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”.(HR Muslim)

Dalam Al-Qur’an dijelaskan makanan-makanan yang diharamkan oleh Allah SWT,

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Al-An’am 145)

Dari halalguide.info, Dalam penjelasan hadist-hadist dari Rasulullah SAW, beberapa tambahan jenis makanan yang diharamkan antara lain:

  1. Bangkai. Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan.
  2. Darah. Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang mengharamkannya”.
  3. Babi. Babi baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama.
  4. Sembelihan untuk selain Allah. Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.
  5. Hewan yang diterkam binantang buas. Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta,sapi dsb, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin. Adapun hewan yang diterkam binatang buasa apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.
  6. Binatang Buas bertaring. Hal ini berdasarkan hadits : “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan” (HR. Muslim)
  7. Burung yang berkuku tajam. Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” (HR Muslim)
  8. Keledai jinak (khimar). Dari Jabir berkata: “Rasulullah melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”. (HR Bukhori)
  9. Al-Jalalah. Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua-yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manuasia/hewan dan sejenisnya.
  10. Hewan yang diperintahkan agama untuk dibunuh. “Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak” (HR. Bukhari)
  11. Hewan yang dilarang untuk dibunuh. “Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad. ” (HR Ahmad)
  12. Binatang yang hidup di dua alam. Sejauh ini BELUM ADA DALIL dari Al Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Binatang yang hidup di dua alam yang halal untuk dimakan adalah kepiting, kura-kura/penyu, anjing laut. Sedangkan katak/kodok haram untuk dimakan.

==========

Keberkahan dalam makanan, baik cara memperolehnya, jenis makanannya, penting sekali dalam kehidupan seorang muslim. Selain makanannya halal, tentu cara memperolehnya pun harus halal. Kita lihat bagaimana sahabat memakan suatu makanan. Kisah Abu Bakar r.a dibawah ini bisa menjadi pelajaran:

Seperti biasanya, Abu Bakar As Shiddiq Radhiyallahu ’Anhu menyuruh budak laki-lakinya, mengambil uang upah untuk beliau. Saat itu, si budak usai mengambil upah dan Abu Bakar menggunakannya untuk membeli makanan. Setelah semuanya dihabiskan, tak lama kemudian, si budak mengakan,”Anda tahu, apa yang telah Anda makan?” Abu Bakar menjawab,”Apa?”. Si budak mengatakan,”Di masa jahiliyah saya telah melakukan ramalan untuk seseorang, akan tetapi saya menipunya, dan ia mendatangiku dengan memberi sesuatu, yakni barang yang telah Anda makan itu. Mendengar ucapan si budak, Abu Bakar segera memasukkan jarinya ke kerongkongan, hingga beliau memuntahkan seluruh isi perutnya. Abu Bakar mengatakan,”Celakalah engkau! Hampir saja engkau mencelakakanku! Aku takut kalau dagingku tumbuh karena harta haram ini. Bagaimana bisa aku melakukan hal itu, sedangkan aku telah mendengarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) bersabda,”Sesungguhnya daging tidak akan tumbuh dari harta haram, kecuali neraka lebih utama untuknya.”

Bisa jadi umat Islam di Indonesia sudah selektif dalam memilih makanan yang berasal dari yang halal saja, namun mungkin bangsa ini lupa, dengan memperolehnya dengan cara yang haram. Buktinya, korupsi sudah mengakar dari masyarakat jelata hingga kaum elitis dan langitan. Wajar mungkin jika keberkahan dari makanan yang kita makan belum bisa mengangkat bangsa ini dari keterpurukan. Na’udzubillah.

Wallahu ‘alam bi shawab.


~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~