27th Ramadhan ~Berburu Do’a~


Bismillahirrahmanirrahiim

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Ramadhan sudah menginjak hari ke-27, atau hari ke-7 di  10 malam terakhirnya yang diberkahi. Dimana pada 10 malam terakhir itu, Allah menurunkan Al-Qur’an dan juga Allah memberikan karunia berupa lailatul qadar, suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dalam Al-Qur’an dijelaskan:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS Al-Qadr 1-5)

Secara eksplisit dijelaskan mengenai nilai dari malam lailatul qadar, yakni senilai dengan 1000 bulan. Jika dikonversikan, maka setara dengan 83,3 tahun. Umur yang jauh lebih besar dibanding rata-rata usia manusia saat ini yang mungkin hanya mencapai 60-70 tahun. Sungguh karunia luar biasa, ketika kita bisa meraihnya. Dan cara meraihnya telah Rasulullah tunjukan caranya, yakni:

“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)
“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari Muslim)

Ya, Rasulullah memperbanyak ibadahnya dengan sungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir. Rasulullah saja yang sudah di maksum (dijaga dari dosa), bersemangat untuk meraih lailatul qadar. Sungguh suatu kesombongan bagi kita, jika masih enggan untuk berusaha menggapai lailatul qadar.

Salah satu amalan yang dianjurkan di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan adalah berdo’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan Ummul Mukminin Aisyah untuk berdoa di malam-malam itu. Aisyah berkata; “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika aku ketepatan mendapatkan malam lailatul Qodar, apa yang harus aku ucapkan?”, beliau menjawab: “Ucapkanlah; ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU ANNA” (ya Allah, sesungguhnya Engkau maha pema’af mencintai kema’afan, maka ma’afkanlah daku).” (HR. Ibnu Majah, yang dishahihkan oleh Al Albani)

Sofyan Tsauriy berkata,”Berdoa di malam itu lebih aku sukai daripada melaksanakan shalat. Dan jika dia membaca maka dia berdoa dan berharap kepada Allah didalam doanya yang barangkali Dia swt menyetujui permintaannya. Memperbanyak doa lebih utama daripada melaksanakan shalat yang tidak diperbanyak doa didalamnya namun jika dia membaca lalu berdoa maka itu baik.”

Perintah do’a dalam Al-Quran jelas dan diwajibkan bagi orang-orang yang beriman. Dalam Al-Qurana dijelaskan:

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah 186)

Jika masih enggan berdo’a,

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS Al-Mu’min 60)

============

Kebencian disisi Allah bagi orang yang enggan berdo’a. Bahkan Allah men-cap sombong orang yang enggan berdo’a. Iblis diusir dari surga karena dia merasa sombong, bahwa dirinya lebih mulia daripada manusia. Suatu keanehan untuk sesuatu hal yang gratis, kita masih enggan untuk melakukannya. Tak ada pungutan sedikitpun dalam berdo’a, justru Allah yang memerintahkan, dan Allah sangat mencintai hambanya yang berdo’a dan memohon kepadanya, bahkan Allah sendiri yang menggaransi bahwa Allah yang memperkenankan mengabulkan do’a hamba-hambanya.

Hidup adalah perjalanan yang unik. Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, dan kita tidak pernah bisa mengulang apa yang sudah terjadi dibelakang. Pekerjaan kita adalah saat ini, memberikan yang terbaik apa yang bisa kita lakukan saat ini. Tapi uniknya Allah memberikan harapan mengenai masa depan, bagaimana Allah memberikan suatu harapan akan kebaikan yakni surga atas rahmat dari-Nya. Dan seyogianya, kita manusia, dengan segala bekal yan gdiberikan oleh Allah hendaknya mempersiapkan bekal untuk bisa mendapatkan rahmat-Nya melalui persiapan-persiapan selama di dunia.

Masih ingat tulisan sebelumnya, tentang mimpi dan bersungguh-sungguh dalam bekerja? Satu hal yang menurut saya menjadi kunci kesuksesan dalam mewujudkan sesuatu adalah, kerja keras, mimpi, dan do’a kepada Allah. Mimpi tanpa kerjakeras hanyalah angan-angan, dan tentu mimpi-mimpi yang kita inginkan, tentu bisa diakselerasi dengan do’a. Dan tentunya kita memohon dan berdoa bahwa mimpi kita adalah sesuatu yang diridhoi-nya. Jika tidak, maka mohonlah petunjuknya untuk menyemai mimpi-mimpi yang diridhoi-Nya. Do’a adalah bentuk ketawakalan kita kepada Allah, atas usaha yang telah kita lakukan. Berserah diri atas segala usaha yang telah kita lakukan adalah bentuk dari rasa keikhlasan seorang hamba pada Tuhannya. Coba lakukan tiga hal tadi dengan sungguh-sungguh, mimpi (harapan), kerja keras dan do’a. Insya Allah kita akan berhasil mewujudkan apa yang kita inginkan.

Menarik mengenai do’a. Allah tidak membatasi kuantitas dari isi do’a kita. Bahkan sebisa mungkin kita bersikap “megaloman” dalam memohon kepada Allah. Saya pribadi bisa merasakan, bagaimana relasi antara mimpi (keinginan), kerja keras (realita di lapangan), dan doa yang dipanjatkan. Contoh simpelnya, ketika saya memohon kepada Allah untuk mendapatkan IP = 4 dalam satu semester, maka ekspektasi saya ketika bekerja (belajar) adalah mengarah ke arah situ, dan mengenai hasil yang Allah berikan itu tentu ada pada wilayah kuasa Allah. Tapi memang realitanya, IP saya meskipun tidak 4, ternyata mendekati 4 pada semester tersebut. Saya yakin ketika kita “hanya” memohon IP = 3, maka kemungkinannya adalah mendekati 3 atau maksimal 3. Sangat sulit untuk bisa lebih dari 3. Karena memang harapan kita hanyalah sampai 3.

Kita bisa lihat do’a nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an, betapa dahsyat do’anya dan Allah mengabulkannya,

Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (QS Shaad 35)

Kita tahu bagaimana kerajaan Nabi Sulaiman. Rakyatnya adalah jin, binatang-binatang, dan angin pun berhembus sesuai keinginannya. Dan Allah mengabulkannya.

Mumpung gratis, mumpung Ramadhan dimana do’a-do’a dikabulkan, mumpun masih ada 3 malam lagi di 10 malam terakhir berburu lailatul qadr, maka panjatkanlah do’a terbaik, memohon apa yang kita inginkan. Mungkin yang ingin didekatkan jodohnya, tak ada larangan untuk berdoa, Yang ingin diberikan pekerjaan, silahkan berdoa. Yang ingin mendapatkan rezeki yang tidak disangka-sangka, hayu berdo’a. Karena Allah Maha Mendengar, dan Maha Mengabulkan do’a-do’a hamba-hambanya.

Wallahu ‘alam bi shawab

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~