28th Ramadhan ~Minoritas~


Bismillahirrahmanirrahiim

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Shalawat dan keselamatan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, para keluarganya, para sahabatnya, dan para penerusnya hingga akhir zaman. Tauladan seluruh umat, pribadi santun, penuh cinta, penutup para nabi. Lewat beliaulah Allah menyempurnakan agamanya, yang kita anut saat ini, satu-satunya agama yang diridhai Allah SWT, yakni Islam.

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS Al-Mulk 23)

Dikisahkan bahwa Umar bin Khattab terheran-heran dan bertanya kepada Abu Bakar, atas do’a yang sering dibacakan oleh Abu Bakar  as-Siddiq Radhyallahu anhu, ”Allahummaj ‘alni minal qaliil” “Ya Tuhanku jadikanlah aku dari golongan orang yang sedikit”. Mendengar itu, Umar terkejut dan bertanya, ” Kenapa engkau berdoa demikian?” Abu Bakar menjawab, “karena Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur”.

Disadari atau tidak, ternyata Sunnatullah memang selalu berbicara bahwa hanya sedikit orang yang disadarkan, tersadar, menyadari, dan terpaksa sadar bahwa golongan kebaikan hanyalah sedikit dibandingkan kejelekan. Merupakan sebuah sunnatullah, jika orang yang berkeliaran di pasar jauh lebih banyak dibandingkan orang yang beraktivitas di masjid. Kalaupun masjid ramai, itupun hari Jumat ketika pedagang di pasar pindah berdagang di masjid. Tak usah jauh-jauh, Ramadhan-Ramadhan yang kita lalui dan kita jalankan saat ini pun, seperti memang sudah di-setting, jamaah sholat tarawih ataupun fardhu di masjid, menjadi kembali sedikit. Kembali ke tabiat awalnya, mungkin hanya diisi satu shaf atau dua shaf tidak penuh. Wajar jika kemudian Abu Bakar memohon kepada Allah untuk dimasukan pada golongan yang sedikit.

Dalam Al-Qur’an,  banyak ayat yang menjelaskan, hanya sedikit golongan saja yang bersyukur, bersabar, berfikir, atas segala fenomena yang terjadi di dunia ini.

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidaklah (pula sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal saleh dengan orang-orang yang durhaka. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran.” (QS Al Mu’min 58)

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS As Sajadah 9)

Peringatan Allah adalah benar adanya. Realita yang ada menunjukan hal sesuai dengan janji Allah. Tak perlu jauh-jauh, tengok saja Indonesia. Normalnya, Indonesia dihuni oleh tidak kurang dari 150 juta yang mengaku muslim. Didata dari status keislamannya di KTP. Tapi berapa banyak yang mengaku muslim itu kemudian berpuasa? Berapa banyak yang mengaku muslim itu kemudian menunaikan sholat? Jika semua taat, saya yakin jumlah masjid di Indonesia pasti kurang untuk menampung 150 juta muslim yang tiap lima waktunya menunaikan shalat.

Pertanyaan retoris (untuk kita sendiri), jika kemudian ditanyakan, dari seluruh muslim yang ada, berapa banyak yang benar-benar beriman? Dari yang beriman, berapa banyak yang imannya dilandasi oleh ilmu? Dari yang beriman dan berilmu, berapa banyak yang ilmunya kemudian diamalkan? Dari yang suka beramal, berapa banyak yang amalnya dilakukan dengan ikhlas karena Allah?  Karena syarat diterimanya amal adalah, ikhlas karena Allah dan benar ilmunya, maka wajar jika memang sebuah sunnatullah sangat sedikit sekali yang mendapat kebaikan dari Allah.

================

Disadari atau kita dilahirkan dari sesuatu yang sedikit namun berkualitas. Dari Jutaan sperma yang dipancarkan, kita adalah hasil dari satu buah sperma yang sangat berkualitas, yang mampu menembus sel telur, mengalahkan jutaan sperma kurang satu dalam kompetisi memenangkan sel telur. Kompetisi hidup di dunia pun, hanya dimenangkan oleh orang yang sedikit, orang yang berkualitas. Tidak ada ceritanya, juara satu perlombaan diisi oleh 10 orang, pasti hanyalah satu.  Kompetisi memasuki suatu perguruan tinggi pun, hanya diisi oleh kuota yang sedikit, yang memang berkualitas. Perlombaan mencari kerja, mengisi lowongan kerja juga, hanya diberikan pada orang-orang yang sedikit yang memang benar-benar qualified. Sedikit yang berkualitas. Maka wajar jika Allah dalam Al-Qur’an juga menerangkan, betapa banyak terjadi golongan yang sedikit mampu mengalahkan golongan yang banyak atas izin Allah (Al-Baqarah 249).

Ramadhan tinggal 3 hari kurang lagi. Tinggal sedikit waktu kita, untuk menginginkan termasuk pada golongan yang sedikit yang dijanjikan Allah untuk memasuki surganya. Tak ada kata terlambat, tinggal bagaimana kita mengoptimalkan sisa waktu kita di bulan Ramadhan ini untuk menghadirkan amalan yang berkualitas agar tujuan Ramadhan, meraih peringkat taqwa bisa kita dapatkan. Masih ada dua malam lagi yang bisa kita isi dengan I’tikaf di masjid, mengisi kesibukan dengan mengingat Allah.

Surga terlalu luas jika kita hanya berusaha sendiri untuk menjadi yang sedikit. Maka ajak sebanyak-banyaknya kawan, keluarga kita untuk bisa memanfaatkan sisa Ramadhan ini, untuk sama-sama berusaha mendapatkan surga-Nya. Masih ada kesempatan untuk memohon ampunan dan rahmat dari Allah agar terbebas dari api  neraka. Dengan ibadah yang berkualitas, ibadah yang sungguh-sungguh. Karena surga terlalu indah, bagi orang yang enggan berlelah-lelah untuk mendekatkan diri pada-Nya.

Wallahu ‘alam bi shawab

Inspirasi : Ceramah Ust. Syamsoe Basaroedin Itikaf Masjid Salman ITB

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~