30th Ramadhan “Ya Rahman Ya Rahiim”


Bismillahirrahmannirrahiim,

Dengan menyebut nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (QS. AL-Anbiyaa 107)”

Ramadhan benar-benar telah berada di penghujungnya. Gemuruh takbir menyambut penghujungnya. Syahdu pujian kepada-Nya terlantun sepanjang malam. Hanya kepada-Nya kita memuji. Hanya kepada-Nya segala pujian kita ucapkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Besar. Karunia dan kasih sayangnya lah kita bisa merasakan nikmat berpuasa dan menggenapkannya berpuasa selama 30 hari. Atas karunianya pula kita bisa merasakan nikmat berbuka.

Betapa Rahman dan Rahiim nya Allah, bahkan kasih sayangnya itu meliputi seluruh alam. Tidak pandang makhluk, Tidak pandang suku, tidak pandang agama, tidak pandang keluarga, tidak pandang keturunan, tidak pandang pangkat, semuanya tercukupi nikmatnya. Betapa tidak menyadari murahnya hidup ini, oksigen gratis, darah gratis, hidung telinga bola mata, semuanya gratis, tak ada harga sewa sepeserpun. Kita bisa tertawa, menangis, sedih, gembira, terkejut, lupa, bukankah itu semua karunia dari Allah? Tapi memang sayang sekali, sangat sedikit sekali manusia bersyukur.

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. (QS AL-Mulk 23)”

Rasulullah diutus ke dunia pun untuk menebarkan rahmat Allah bagi semesta alam. Tidak diutus nabi Muhammad kecuali sebagai Rahmat bagi semesta alam jelas disebutkan dalam Al-Qur’an. Dan pengejawantahan dari rahmat adalah akhlak atau sikap yang mulia antar sesama manusia. Dalam hadist disebutkan :

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari)

Disadari atau tidak, ibadah dalam Islam terbagi menjadi dua, yakni ibadah ritual dan ibadah sosial. Ibadah ritual ini adalah ibadah kita seperti shalat, zakat , puasa, ibadah haji, atau yang kita kenal dengan ibadah mahdah. Tapi yang lebih luas lagi ternyata ibadah sosial, yakni sedekah, hubungan sesama muslim, hubungan sesama manusia, adab bertamu, memuliakan tamu, adab berkendaraan, menuntut ilmu, kasih sayang pada orang tua, dan masih banyak lagi, dan bahkan sisa dari ibadah ritual kita harusnya menjadi ibadah sosial yang tergambarkan dalam akhlak kita sehari-hari. Inilah ibadah yang kita kenal sebagai ibadah ghairo mahdah. Yang menarik bahwa ternyata ibadah ritual kita ini harusnya berefek pada kehidupan sehari-hari kita, yakni ibadah sosial kita. Dalam ayat Al-Qur’an disebutkan mengenai efek sholat,

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. AL -Ankabut 45)”

Efek dari sholat adalah akhlak yang mulia terbebas dari sikap keji dan mungkar. Dalam beberapa tafsir disebutkan bahwa keji itu adalah suatu kejahatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, semisal perzinahan, berbohong, mencuri. Dan mungkar adalah kejahatan yang dilakukan secara terang-terangan, seperti menyakiti orang lain. Ketika sesorang masih senang atau tidak merasa bersalah melakukan suatu tindakan keji dan mungkar, berarti sholatnya masih hanya dalam tahap ritual saja. hanya gerakan sujud ruku membungkuk layaknya olahraga. Sholatnya belum neyentuh sisi aspek esensial. Maaka sebuah paradoksial, ketika negara ini yang mayoritas muslim, bahkan pejabatnya juga banyak yang muslim, ampe presidennya juga muslim, tapi negara ini adalah negara terkorup kedua di Asia. Apakah memang sudah sedikit yang sholat? ato memang banyak yang sholat, tapi hanya ritual?

Bahkan dalam Al-Qur’an dijelaskan dengan jelas hubungan antara shalat dan kaitannya dengan kasih sayang sesama manusia. Dalam surat Al- Maa’uun dijelaskan:

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna (QS AL Maa’uun 1-7)”

Dijelaskan diatas, tentang orang-orang yang mendustakan agama. Orang yang mendustakan agama adalah orang yang sholat. Yakni yang sholatnya lalai, riya, dan enggan menolong orang lain dengan barang berguna. Jadi sholat bukan hanya sebatas ritual. Kata koma pada terjemahan Al-Qur’an yang kita baca, menandakan akumulasi dan bukan atau. Jadi sholat yang baik adalah sholatnya tidak lalai (menunda waktu sholat atau bermalasan untuk sholat) dan dilakukan dengan sholat, dan efek samping dari sholat tersebut semakin mudahnya kita untuk berbagi dengan orang lain.

Contoh lainnya adalah zakat. Meskipun zakat adalah ibadah mahdah, sebenarnya lebih luas kita mengenal yang namanya infaq dan shadaqah, yakni induknya zakat. Jika zakat ditentukan besar dan waktu pengeluarannya, maka infaq dan shadaqah bebas dilakukan kapanpun dan dimanapun. Dan kita sudah pasti sadar bahwa infaq dan shadaqah merupakan salah satu bentuk kasih sayang seorang muslim pada muslim lainnya. Zakat pun demikian. Zakat hanya boleh dikeluarkan pada mustahik. Dan mustahik ini dinominasi oleh kaum fakir dan miskin. Jadi pastilah zakat juga merupakan bentuk kasih sayang dari muslim yang mampu kepada muslim lainnya yang memiliki kekurangan dari segi harta.

=============

Salah satu bukti Rahmaan dan Rahiim Nya Allah yang lain adalah Allah Maha Memaafkan. Allah SWT adalah pemaaf dan mencintai permaafan. Kita perhatikan dalam ayat Allah :

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az -Zumar 53)

Jelas dikatakan Allah maha pemaaf, Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Sehingga Allah menyukai orang yang bermaaf-maafan. Allah akan mengampuni dosa kita, ketika kita bertaubat, meskipun dosa kita segunung atau bergunung-gunung, karena sesungguhnya rahmat Allah itu luasnya meliputi langit dan bumi. Tapi ada syaratnya, asalkan kita tidak menyekutukannya. Karena syirik atau menyekutukan Allah, adalah suatu kedzaliman yang besar dan Allah tidak akan pernah mengampuni dosa syirik.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS An Nisa 48)”

Allah mengampuni dosa antara hamba dengan diri-Nya, yakni ketika hubungan itu adalah antara seorang hamba dengan Tuhannya. Sedangkan ketika kita memiliki kesalahan sesama manusia, maka sebelum diampuni Allah kita harus meminta maaf dan saling memaafkan langsung kepada manusia tersebut. Karena urusan makhluk dengan makhluk harus diselesaikan dengan makhluk juga. Pertanyaannya, maukah kita saling memaafkan? Atau maukah kita meminta maaf? Sungguh sombong jika kita tidak mau memaafkan dan saling bermaaf-maafan. Allah SWT saja pemaaf, kenapa kita nggak?

Wallahu ‘alam bi shawab

~program one day one note kebaikan di bulan Ramadhan~

————————————————————————————————————————————————–

Luthfi sebelum disunat, poto dulu sebelum nangis :D

Dengan datangnya Syawal, dan berakhirnya Ramadhan 1431 H, dengan ini saya mengucapkan Taqabbalallahu Minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Mudah-mudahan kita mendapatkan janji Allah, untuk bisa kembali fitri suci seperti kita terlahir bayi dulu. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kelancangan diri, mohon maaf lahir dan batin. Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terbaik bagi kita, dan amalan Ramadhan membekas di bulan-bulan berikutnya. Semoga kita disampaikan pada Ramadhan berikutnya. Amin.