Menumbuhkan Mental Kaya


Meminjam anekdot popular, tua itu pasti, dewasa itu pilihan. Maka, miskin itu pasti dan kaya itu adalah pilihan. Kenapa?  Ya, karena manusia memang terlahir dengan kemiskinan, tak memiliki apa-apa, telanjang. Melalui orang tua kita lah Allah menitipkan rezeki kita, ketika kita lahir. Ada yang langsung dianugerahi orang tua kaya, ada yang serba berkecukupan, bahkan banyak yang serba kekurangan. Ketika mati pun sama, kita kembali pada kondisi awal kita, kembali telanjang. Ya tambahan sedikit lah, kain kafan secukupnya ditambah wewangian dan beberapa gumpalan kapas. Terbujur dalam kotak tanah 2 X 1 meter, kedalaman 2 meter.

Nah fase diantara kelahiran dan kematian lah yang menjadi pilihan kita, apakah tetap dalam kemiskinan atau dalam kekayaan. Kenapa merupakan pilihan? Ya karena kaya adalah sikap mental, terlepas dari takdir atas rezeki yang telah Allah tetapkan untuk kita. Akan sangat berbeda sikap mental seorang kaya, atau seseorang yang ingin menjadi kaya dengan sesorang yang miskin atau tetap ingin menjadi miskin (emang ada ya?).

Kita perhatikan beberapa mental atau kebiaasan orang-orang kaya.  Yang pasti adalah rajin. Mereka jauh dari kemalasan. Kita lihat bagaimana para pengusaha atau para pedagang dari etnis Cina ketika mereka berusaha. Pergi pagi pulang petang. Bahkan kalau bisa jangan sampai melihat matahari. Dalam artian, pergi sebelum matahari terbit, dan baru pulang setelah matahari terbenam. Dan sifat rajin ini pastinya identik dengan sifat tekun. Pernah tau tentang buku “outliers”? Tentang rahasia-rahasia seseorang yang sukses dalam membangun kariernya dimanapun dan di bidang apapun? Disebutkan dalam buku itu, ternyata salah satu kebiasaan orang-orang sukses untuk menjadi ahli di bidangnya, dibangun dengan latihan skurang-kurangnya 10 ribu jam! Mau itu Bill Gates, Thomas Alfa Edison, Steve Jobs, siapapun! Dan jelas mereka sangat terbukti kepakarannya di bidangnya. Jadi sekali lagi, untuk menjadi kaya, maka sifat pertama yang harus dimiliki adalah rajin dan tekun. Atau jika dibalik, kaya itu adalah efek dari kerajinan kita. Kerja keras, kerja keras!

Mental yang kedua adalah amanah dan disiplin. Ya, orang kaya adalah orang yang amanah, mereka tepat waktu, menepati janji, dan jujur. Bagaimana seorang pebisnis atau seorang pengusaha, akan dipercaya jika mereka lalai menepati janji dengan kliennya. Dan bagaimana juga seseorang akan dipercaya ketika dia tidak jujur atau menipu kliennya. Karena bisnis pada hakikatnya adalah sebuah kepercayaan. Dan orang bisnis tahu benar bahwa waktu adalah uang, terlambat sedikit maka uang melayang. Dan tentunya ketika kita berusaha untuk amanah, menapati waktu, dan menepati janji, maka kita secara langsung juga adalah orang yang disiplin. Disiplin waktu, disiplin kerja, disiplin diri. Lantas bagaimana jika kita lihat kok saat ini malah banyak orang yang sudah kaya malah korupsi? Tidak amanah pada jabatan? Nah, yang harus kita percayai adalah bahwa hidup ini bukan hanya di dunia semata. Kita tidak mau di dunia ini kaya, tetapi ketika di kehidupan setelah dunia kita bangkrut. Nah orang yang korupsi dan tidak amanah ketika di dunia, berarti dia adalah orang yang telah menyiapkan kebangkrutan di akhirat.

Dan mental yang terakhir, seorang yang kaya adalah seorang yang derma. Ya, seseorang baru bisa disebut kaya jika dia senang memberi. Karena memberi adalah konsekuensi dari sebuah kekayaan. Kaya itu berarti berlebih. Ketika kita berlebih maka seharusnya kita berbagi dan saling memberi. Maka aneh ketika seseorang itu “kaya”, namun ternyata dia malah semakin pelit dan enggan berbagi dengan orang lain. Frame pikirannya masih serba kekurangan. Ya, kasihan betul orang seperti itu. Mungkin hartanya kaya, tapi hatinya masih miskin. Dan sebaik-baik kekayaan adalah hati yang kaya, hati yang lapang. Bahkan salah satu amalan yang sangat bernilai di sisi Allah adalah ITSAR. Apa itu ITSAR? Itsar adalah berkorban materi (barang – jasa – apapun) demi saudara kita yang membutuhkan, padahal di satu sisi kita pun sangat membutuhkan  materi tersebut.

Jadi jika ada yang menyebut bahwa kaya itu adalah turunan atau bakat, pikir lagi deh. Saya termasuk orang yang percaya bahwa kaya itu adalah sikap mental, yang bisa kita bentuk dan kita latih, dengan kerja keras dan kerja keras. Just Share!

[nasihat dari si ustadz pas perpisahan]