Bukan Mudik! (Hari Pertama)


Perjalanan Eksotis Menyusuri Pesisir Banten dan (sedikit) Jawa Barat.

Ya, bukan mudik. Sekali lagi bukan mudik. Ini adalah jalan-jalan. Terlahir dari seorang Ayah yang orang Bandung (ada sedikit keturunan Palembang sih) dan juga Ibu yang orang Bandung, maka saya adalah jelas orang Bandung asli. Asli Bandung. Jadi kata mudik belum ada di kamus saya. Dan lebaran pun, jelas tak ada alasan untuk mudik. Maka, ketika liburan lebaran tiba, daripada “menjaga” Bandung, yang katanya sepi kalau pas Lebaran, mending kabur sebentar keluar Bandung untuk ikut – ikutan mudik (baca: jalan-jalan).

Diawali dari perdebatan keluarga, mau kemana kita di lebaran kali ini? Ayah saya mengusulkan Tanjung Lesung, pantai terpencil sebelum Ujung Kulon Banten. Adik saya mengusulkan Ujung Genteng, tempat penangkaran dan budidaya penyu di selatan Sukabumi Jawa Barat. Ibu saya mengusulkan Palembang, tempat kakek saya berasal, dan seumur-umur hanya ayah saya yang pernah ke Palembang. Saya? Daripada tidak berpendapat, saya usul Pantai Rancabuaya, pantai dengan ombak ganas, namun belum terjamah di Garut Selatan. Melalui perdebatan sengit, akhirnya diputuskanlah, Tanjung Lesung for our destination. Alasannya, ada kakak jauh Ayah saya di Banten (daerahnya bernama Munjul), yang telah dari tahun 1980 bekerja disana sebagai polisi, dan butuh dikunjungi untuk silaturahmi. Jadi biar ada unsur mudiknya. Terakhir ayah saya ketemu beliau lebih dari 5 tahun yang lalu. Okelah kalo begitu.

1st day – Minggu 12 September 2010

Ini adalah awal dari perjalanan saya. Dengan sedikit was-was dan waspada terhadang kemacetan, pergi sepagi mungkin kami coba lakukan. Berniat pergi sehabis subuh, namun baru jam 6 pagi kami berangkat dari rumah. Oh iya, berhubung pergi bersama keluarga, jadi sebisa mungkin senyaman mungkin. Gak ada isitlah-istilah backpacker-backpackeran hehe, kami menggunakan kendaraan pribadi yang cukup lega untuk dikendarai. Perjalanan cukup lancar, menyusuri tol Cipularang hingga tembus ke tol Merak, sangat lengang. Tercatat jam 9.30 sudah mendekati pintu keluar tol Cilegon Barat.

Mulai nih disini perasaan gak enak, mobil penuh sesak berjejalan, jalanan macet, lebih dari 4km. Waduh, di gerbangnya aja udah macet, nampaknya menuju kawasan wisata Anyer – Carita lebih parah lagi. Karena gak kuat nahan macet, akhirnya musti update status facebook nih (haha nggak nyambung). Statusnya : Anyer Padat Mampus! Lumayan ada beberapa comment dan jempol. Ya, betul saja kira-kira hingga sampai jam 12, masih tersendat di kawasan industri PT. Krakatau Steel. Ya mungkin masih 5 km dari gerbang tol Cilegon Barat, padahal untuk menuju kawasan wisata Pantai Carita masih lebih dari 40 Km lagi. Padahal sebelum berencana keluar di gerbang tol CIlegon Barat, ayah saya sudah mengajak untuk keluar di Serang Timur. Dengan pertimbangan perjalanan akan menuju daerah Munjul terlebih dahulu, memotong lewat Pandeglang, baru kemudian menuju Pantai Tanjung Lesung. Tapi dasar anak-anak, inginnya ke pantai dulu baru silaturahim. Ya akhirnya terjebak macet.

Lumayan, menghadapi kemacetan lebih dari 2 jam, sedikit menemukan beberapa fenomena. Ternyata macet ini selain disebabkan oleh padatnya pengunjung, mulai dari konvoi motor, konvoi truk, mobil-mobil besar hilir mudik masuk ke industri, juga lebih disebabkan pada tidak tertibnya pengguna jalan. Lucu juga, melihat polisi sibuk mengatur lalu lintas, nendangin pengendara sepeda motor dan motornya yang baong melanggar aturan. Bukan motor saja yang menyemut, mobil juga tak kalah bandelnya melanggar aturan. Jalan cuma satu jalur, jadi tiga jalur. Nyalip dari kiri, nyalip dari kanan, jadinya ya macet. Satu hal menarik lagi yang menggelitik adalah kondisi sosial ekonomi di sekitar jalan menuju tempat wisata Pantai Anyer dan Carita. Dulu, 8 tahun lalu, saya pernah ke sana, dan kebetulan melakukan perjalanan malam, sehingga perjalanan relatif lebih lancar. Dan di sepanjang perjalanan ke pantai, berjejer banyak industri berat. Diawali dari PT. Krakatau Steel hingga turunan-turunannya, mulai dari industri hulu hingga hilir. Nah, karena malam hari, jadi perjalanan nampak lebih indah, kerlap-kerlip lampu dan megahnya bangunan pabrik yang dihisasi lampu dan asap yang mengepul, menjadi warna tersendiri dalam perjalanan menuju kawasan wisata Anyer dan Carita. Sedangkan kali ini perjalanan dilakukan di siang hari, macet pula, jadi deh keliahatan belangnya. Saya terus terang terheran-heran, kok bisa ya, banyak industri berat dan cukup sukses, kok perekonomian di daerah sekitarnya seperti tidak terpengaruh sama sekali. Terlihat dari infrastruktur jalan yang kurang baik, kawasan pemukiman liar di beberapa titik, dan juga kondisi lingkungan yang tidak terawat. Seolah masing-masing elemen berjalan sendirian, tak ada simbiosis. Apakah fenomena ini juga terjadi di kawasan industri lainnya? Di Papua dengan Freeportnya? Di Sumbawa dengan Newmontnya? Di Kalimantan, dengan tambang batubaranya? Entah, saya belum pernah kesana. Semoga saja tidak. Hehe, sorry jadi serius, hanya sedikit renungan sebagai anak bangsa.  Lumayan, 3 Jam nginjak kopling gas, kopling gas, membuat leuleus tuur. Ya, saatnya beristirahat, mencari Seafood maknyuss. Lumayan dapat juga, biasa menu andalan, cumi goreng tepung dan udang asam manis ditambah cah kangkung.

rehat time dan beberapa capture dari mobil

Ya, hari ini lebih banyak dihabiskan di jalan. Tua di Jalan. Baru menjelang maghrib terlepas dari kemacetan, dan baru keluar dari Carita. Gila, seharian di dalam mobil. Jarak 40 Km ditempuh hampir setengah hari. Hmm, bingung mau lanjut Tanjung Lesung? Atau menuju Munjul dulu? Jam menunjuk pukul 7 malam. Nanya-nanya orang sekitar, katanya Tanjung Lesung masih jauh, dan jalanan ke arah sana sepi. Ya sudah, mengunjungi  kakak ayah di Munjul lebih realistis, sekalian istirahat dan melepas lelah juga, bermalam di tempat saudara.

oleh-oleh poto dari mobil

Perjalanan menuju Munjul juga tak kalah seramnya. Sebelum ke “kota” Munjulnya, akan melewati jalan yang cukup “baik” dan juga kawasan leuweung. Jadi Munjul itu cukup terpencil, dan kawasan yang kalau kata orang sana dikatakan banyak “begal”nya. Pencuri bersenjata tajam. Untung saudara Ayah saya itu adalah polisi, jadi kita meminta untuk dijemput di suatu check point, untuk kemudian bareng-bareng konvoi ke TKP.

(bersambung)

Rute Perjalanan Hari Pertama (Bandung - Munjul)