Bukan Mudik (Hari Kedua)


Perjalanan Eksotis Menyusuri Pesisir Banten dan (sedikit) Jawa Barat.

2nd Day – Senin 13 September 2010

Rehat semalaman, berisitirahat di rumah Saudara cukup untuk mengembalikan energi dan pikiran positif.  Untuk sepenuhnya kembali pada liburan yang mudah-mudahan akan menyenangkan, setelah sehari sebelumnya berpeluh dengan kemacetan. Pagi yang cerah, secerah lepasnya rindu ayahku bertemu dengan kakaknya. Meski sehari sebelumnya menghadapi lelahnya kemacetan, namun rupanya rasa rindu jauh lebih menyenangkan dibandingkan rebahan di tempat tidur. Hingga larut, ayahku berbincang ngalor ngidul dengan kakak jauhnya itu.

Cukup pagi kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Dibekali informasi-informasi mengenai TKP, Tanjung Lesung, cukup untuk menjadi panduan perjalanan kami berikutnya. Untuk mencapai Pantai Tanjung Lesung kami mesti kembali ke daerah yang bernama Panimbang. Untuk kemudian menuju arah Cibaliung. Meski namanya cukup asing, namun papan-papan petunjuk dari DLLAJR sangat membantu memandu perjalanan. Apalagi tempat yang akan kami kunjungi adalah daerah wisata, yang katanya cukup eksotis. Dibanding dengan kawasan wisata pantai lainnya di Banten, memang Pantai Tanjung Lesung belum ramai dikunjungi oleh wisatawan. Disamping letaknya yang cukup jauh, yakni mendekati wilayah Ujung Kulon, ternyata untuk memasuki pantai ini lebih “beda” dibandingkan dengan kawasan pantai lainnya di Banten.

Sekitar 2 jam perjalanan untuk menuju Tanjung Lesung dari daerah Munjul. Jalan yang dilewati sangat baik. Disamping jalan tersebut adalah jalan Provinsi, juga merupakan satu-satunya akses jalan menuju kawasan wisata Tanjung Lesung. Kawasan wisata Tanjung Lesung berbeda dengan kawasan wisata pantai lainnya di sepanjang jalan Raya Anyer dan Carita. Untuk memasuki pantainya, kita akan disambut dengan gerbang utama seperti akan memasuki kompleks perumahan elit. Petugas yang ramah menanyakan hendak kemana kita, kemudian apakah sudah mendapatkan tempat penginapan, juga pemberitahuan mengenai tersedianya penginapan atau tidak dan jika kita tidak menginap akan diberikan alternatif kemana kita seharusnya. Kemudian setelah itu kita akan disuguhi rindangnya pepohonan disepanjang jalan, bercampur dengan pemandangan laut di satu sisi lainnya. Adem dan memang benar-benar dikelola. Hehe, mungkin ini bedanya pantai yang di swastanisasi dengan pantai yang dibiayai dengan retribusi.

Selintas, jalan menuju pantai ini tampak sepi. Atau mungkin benar-benar sepi. Karena kami belum memiliki penginapan, dan tidak menginap tepatnya, maka kami diberikan arahan untuk menuju Pantai umum, yakni Pantai  …… (lupa namanya).  Masuk ke pantai ini sama dengan kawasan wisata lainnya. Dikenakan tiket masuk. Satu Mobil tiketnya 30 ribu rupiah. Dan tiketnya bisa ditukarkan dengan tiga buah soft drink di kawasan pantai. Oh, cukup menarik juga tawarannya.

Ups, sampai ke pantainya, kami cukup kecewa. Ternyata dibawah ekspektasi. Air lautnya bersih sih, cukup sepi juga,  tapi rupanya banyak sampah di pantainya. Pun dengan banyaknya pedagang-pedagang yang agak “liar” menempati gubuk-gubuk agak dekat dengan tepi pantai. Wah, mungkin karena pantai umum juga mungkin ya, jadi pengawasan dan kebersihannya agak sedikit jorok. Entah budaya masyarakat Indonesia masih jauh dari bersih. Tadinya niat main air, jadi urung deh. Ya jadinya coba mencari inspirasi dengan berjalan menyusuri pinggir pantai, ke arah timur mendekati gugusan karang-karang. Makin ke timur pantai ini dipenuhi banyak batu karang. Sedangkan di baratnya cukup terhampar pasir pantai yang cukup luas. Melihat pantai yang agak kurang bersih, terutama di area pasirnya, ditambah juga matahari sudah agak terik, jadi menambah kemalasan untuk sekedar bermain air. Ya, mudah-mudahan pesona alamnya bisa mengobati kekecewaan.    Lumayan dapat beberapa foto sebagai oleh-oleh.

maen-maen ama raw. tanjung lesung nan damai

my little brother

with my little brother (again)

Rehat sejenak, menukarkan tiket dengan tiga buah softdrink yang dijanjikan, kami coba berbincang dengan penduduk setempat. Ternyata masih banyak pantai lainnya yang ada disini, namun semuanya ada di balik penginapan yang ada. Jadi untuk memasuki pantainya kita harus menginap di hotel tersebut atau masuk dengan membayar tiket masuk (lagi) ke pantai tersebut. Mungkin begini ya, rata-rata hotel di kawasan banten, seperti di Anyer dan Carita, pantai-pantai sudah dicaplok oleh penginapan sehingga tidak lagi berlaku bagi umum. Berbeda dengan pantai-pantai di Pangandaran, yang bebas dimasuki siapa saja. Daripada penasaran, jauh-jauh tapi nggak nikmat, kami mencoba menuju Beach Club Hotel. Katanya di hotel pantai ini banyak watersport-nya.

Masuk ke Beach Club, kami dibebani tiket masuk 50 ribu rupiah untuk satu mobil. Lebih mahal dari pantai umum sebelumnya. Melihat sekilas, pantainya memang tidak seluas pantai sebelumnya, tapi ternyata memang betul, pasirnya bersih, airnya juga bersih, ada sejenis dermaga yang menjorok ke laut. Dari dermaga itu jika kita lihat ke bawah, maka karang-karang laut akan terlihat jelas. Lebih jeli lagi akan terlihat ikanikan kecil berlalu lalang, pun yang bergerombol. Wah Subhanallah indahnya. Cocok banget buat snorkeling. Tak perlu diving. Disamping mahal, snorkeling bisa lebih lama dibandingkan diving.

Selain sudah siang, bermain di pasir pantai menjadi kurang menarik, karena tentu bermain di tengah laut tentu lebih mengasyikan. Tak perlu berlama-lama,  dengan 50 ribu rupiah kita bisa snorkeling selama satu jam di tengah laut. Kita dibawa oleh perahu ke tangah laut, kemudian dilepaskan untuk snorkeling di area tertentu. Subhanallah, begitu indahnya ciptaan Allah. Snorkeling hampir selama satu jam, tersuguh dihadapanku karang-karang berwarna-warni, gerombolan ikan berkeliling, kecil, besar, cukup besar lenggak-lenggok anggun di bawah laut. Ikan yang cukup sering kutemui adalah ikan ber-strip kuning. Entah ikan apa itu.

dermaga-krakatoa-snorkeling

kangupi-fadhil-hilmi

Lelah bermain, istirahat, mandi, sholat, santap siang, dan tentunya foto-foto. Puas. Alhamdulillah sangat puas. Selepas ashar baru kami bergegas meninggalkan Tanjung Lesung. Bingung mau kemana lagi hehe.. Selain lumayan mahal harga penginapannya, kebetulan juga hotelnya sudah full booked semua. Adiku mengusulkan untuk menginap di Carita. Enak saja kataku, balik lagi ke Carita sama aja balik menuju ke kemacetan. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap di Pandeglang, di hotel kota tersebut. Keputusan yang tidak populer. Namun setidaknya lebih dekat menuju Bandung. Tujuan utama Tanjung Lesung sudah tercapai, ya sudah tinggal pulang. Esok hari kami berniat untuk pulang ke Bandung tidak dengan jalur biasa, tapi melewati jalur perkebunan melewati Rangkasbitung, untuk kemudian tembus ke Jasinga hingga menuju Cipanas, Bogor. Dahulu kami pernah melewati jalanan ini, melewati sungai yang cukup besar. Asyik jalannya, meski belum bagus, tapi melewati perkebunan yang elok.

(Bersambung)

rute hari ke-2