Ieu Bandung, Lur!


Bismillah

Ieu Bandung, Lur! Beberapa hari yang lalu kahirnya Alhamdulillah bisa mendapatkan buku ini. Buku yang diterbitkan dalam rangka ulang tahun kota Bandung ke-200, tepat di 25 September 2010. Berisikan dari pada ikon-ikon kota Bandung. Ikon-ikon yang berupa orang, tempat, jajanan, benda, kesenian, sagala rupa tentang Bandung. Jika ikon itu disebutkan maka otomatis akan terngiang tentang Bandung juga. Nah jika disebutkan tentang Bandung, maka ikon-ikon tersebut juga tak bisa dilepaskan dari kota Bandung.

Bandung, lepas dari kondisinya yang saat ini telah berusia 200 tahun, adalah ibukota jawabarat tatar sunda parahyangan. 2 abad sudah  kota Bandung menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Dan turut mewarna Indonesia dengan baik buruknya. Kota yang dulu dikenal dengan Paris Van Java, dan kini lebih dikenal dengan surga belanja, terutama fashion dan kuliner. Dan mungkin sekarang lagi nge-trend tentang macetnya juga. Kota yang konon di bangun oleh kolonial Belanda hanya untuk ratusan ribu penduduk, kini tidak kurang telah dihuni oleh 3 jutaan penduduk. Lucunya, penduduk siang jauh lebih banyak dibanding penduduk malamnya, Menandakan bahwa kota Bandung menjadi tumpuan penghidupan bagi warga kota-kota disekitarnya. Kabupaten Bandung, Cimahi, Subang, Bandung Barat, dan Sumedang. Bandung sebagai ibukota Pasundan kini sudah menjadi semacam metropolitan layaknya Jakarta bagi para kaum urban.

Back to Book. Buku ini berisi 200 ikon kota Bandung. Di pas-pas in dengan usia Bandung yang ke-200. Penulisnya sendiri mengklaim, bahwa sangat banyak ikon di kota Bandung, dan mungkin lebih dari 200. Hanya saja, dengan menampilkan 200 ikon, momennya tepat dengan ulang tahun Bandung yang ke-200. Sudah pasti beberapa ikon yang tak mungkin lepas dari Bandung adalah Persib, Saung Angklung Udjo, Peuyeum, ITB, Wanadri, Kang Ibing, Pikiran Rakyat, distro dan factory outlet, dll. Dalam buku ini, beberapa ikon tampak asing. Haha, berarti saya kurang gaul sebagai urang Bandung asli. Semisal sebut saja, RAF, tokoh masyarakat sunda. Ada juga BHHH, semacam perkumpulan pejalan kaki yang sudah berusia puluhan taun. Sangat asing dan unik, terutama bagi saya.

Belum tamat saya membaca buku ini, tapi terbersit keinginan untuk mengunjungi ikon-ikon tersebut. Sebagai urang Bandung asli tentunya, wajar jika harus tahu kotanya, kultur masyarakatnya, dan warisan sejarahnya. Mudah-mudahan saja bisa kesampean, dan bisa berbagi di tulisan-tulisan berikutnya hehe. Sakali deui, “Ieu Bandung, Lur!”

“oh enya, salah sahiji ikon Bandung nyaeta Pasar Seni ITB. Nah pas banget, sekarang adalah waktu pelaksanaan pasar seni ITB 2010. Pas tanggal 10 bulan 10 di duarebu 10. Buka na oge ngan 10 Jam, Ti jam 8 dugi jam 18.00. Hayu urang tingali ikon Bandung nu ieu.”