Ieu Bandung, Lur! Pasar Seni ITB


Bismillahirrahmanirrahiim

10 – 10 – 10 , 10 jam saja, tapi tidak mulai dari jam 10. Event empat tahunan ITB atau mungkin Bandung, bisa juga Jawa Barat atau bahkan mungkin Indonesia. Pasar Seni ITB. Dan yang kemarin, adalah Pasar Seni ITB 2010, Pasar Seni ITB entah yang ke berapa yang ke-10, dan yang jelas event ini sudah dilaksanakan sejak tahun 70an. Sakali deui, Ieu Bandung, Lur! Dan salah satu ikon yang tertera pada buku 200 ikonnya Bandung, menyambut ulang tahun Bandung yang ke-200, adalah Pasar Seni ITB. Hebring euy!

 

satu ikon pasar seni depan panggung utama

 

Kemarin, 10-10-10, akhirnya saya mampu menerobos masuk ke Pasar Seni. Kenapa harus me-nerobos? Ya, karena sangat penuh sesak, padat merayap. Bukan hanya oleh kendaraan menuju ITB, tapi juga oleh massa yang telah berkerumun di Pasar Seni. Sebetulnya di pagi hari, pas pasar seni baru dibuka, jam 8-an, saya sudah mampir disana. Mampir setelah perjalanan pulang dari Car Free Day-nya Bandung di Dago. Namanya juga mampir, jadi selewatnya saja. Hanya menyapa area sawah, di area parkir Seni Rupa dan Lapang Rumput Seni Rupa. Dan juga sedikit area boulevard, dan kawasan gerbang ganesha. Pengunjung belum padat, tapi sudah ramai, sehingga saya masih bisa berlalu lalang mampir di Pasar Seni sambil menuntun sepeda. Baru pada siang hari, selepas dzuhur, pukul 2 siang, saya kembali lagi dengan niat betul-betul mengunjungi Pasar Seni.

Karena sudah tau adat-adatan Bandung, kalau ada kegiatan yang melibatkan massa besar, pasti macet. Dan juga pasti susah untuk mencari parkir. Saya memutuskan untuk memarkir motor di Tubagus Ismail di kantornya teman saya, sebut saja inisialnya GRH, sekaligus jalan bareng menuju pasar seni. Bahkan katanya, kata teman saya lagi, sebut saja inisialnya MR orang kopo yang membuka stand bernama Rempugan, ada sebagian orang yang rela untuk memarkir kendaraannya di BIP baru kemudian meluncur ke Pasar Seni. Mantabs!

Berbeda dari pagi hari, kali ini saya datang dari arah belakang, dari arah gerbang Belakang ITB. Memasuki pasar seni pun dari area depan GKU baru, yang menyajikan stand makanan. Masuk ke arah depan Plano, ada stand-stand yang menawarkan kesenian unik nan aneh. Ada yang jual rajutan, hiasan, arcrylic, lukisan kaos, kaos sablon, ukiran, ah dan tak taulah apa namanya itu. Pokona mah aneh dan alus. Masuk ke area boulevard, ada panggung  di sebelah kiri, pertunjukan musik. Di lapangan voli ada lukisan-lukisan. Dan di tengah boulevard ada ukiran-ukiran patung kayu. Yang saya ingat, ukiran kakek-nenek- dan cucu-cucunya,bagus. Nih gambarnya,

Bergerak maju ke depan menuju gerbang ganesha, ada tower menjulang. Diatasnya ada keamanan nampaknya, panitia seorang diri mengawasi pasar seni dari ketinggian. Gagah euy. Dibawahnya ada kerumunan seniman sunda sedang bermain-main. Dikelilingi  penonton sura-seuri melihat aksinya. Didekat gerbang depan, ditengahnya terpampang tiga buah patung yang “dirobohkan”. Patung itu dibawa langsung dari Bekasi, tinggal tersisa kepalanya saja. Yang menarik buat saya adalah spanduk di sekelilingnya. Terutama tentang debus. Kata spanduknya, Bedog aing! Jara aing! It is not Debus but Debus. The Pain killer is Thariqah, the strength is the iman. Syariah bond us all together in the integrity and harmony of our cultural tradition.

 

debus

 

Waktu menunjukan sudah menjelang ashar. Bergegas memenuhi seruan adzan. Sholat dan rehat. Bada ashar saya masuk kembali melalui pintu masuk sebelah timur, melalui pintu Seni Rupa. Masuk dari sini kita akan disuguhi oleh kesenian ornamen tradisional. Ada jembatan yang bisa dinaiki dan melihat pasar seni dari ketinggian, terbuat dari bambu. Ada panggung nya barudak “Mang Ohle”, menampilkan kesenian Karinding. Sejenis alat musik yang terbuat dari  bambu yang dibunyikan dengan sedikit dipukul. Agak aneh sih, tapi ada. Di sebrangnya ada pertunjukan karikatur. Ya seorang pelukis yang langsung melukis objek karikaturnya secara instant. Bisa pake foto atau mejeng langsung. Di sepanjang jalan ganesha ini terbentang karya-karya seni berukuran big. Dan juga lucu-lucu, jeung teu kapikiran. Ada karya seni yang bersuara tentang kondisi sosial, ada yang mengekspos tabung gas elpiji 3 kg dengan judul “Densus 88”, ada mobil kancing, ada karya dengan suara-suara aneh, dan banyak lagi. Yang kojo, menurut saya adalah karya seni yang judulnya kalo gak salah, “Nu Ngamankan Bandung, Nu ngamankeun Pasar Seni”. Bodor pisan.

 

 

abri-pulisi-satpol pp-satpam-viking-buahbatu corp-pemuda pancasila-brotherhood

 

Maju terus sampai ke panggung utama depan gerbang ganesha. Kebetulan lagi perform saratuspersen, salah satu performance yang saya ingin saksikan secara langsung. Setelah lama hanya mengamati di layar TV melalui ajang mencari bakat. Saya juga merasa bertanggung jawab memenuhi undangannya, karena di RSVP facebook udah menyatakan attending menyaksikan saratuspersen di Pasar Seni haha. Hebat maennya euy, memadukan alat musik tradisional nan anggun, dengan instrumen modern nan cadas. Pokona mah Jump! Lagi asyik foto-foto, tiba-tiba kamera dengan tidak sopan menunjukan indikator change the batteries. Waduh, jadi gimana urusannya nih. Bisa mati gaya. Buat saya, saya tidak tahu mana yang nyeni mana yang tidak, selama itu bagus dalam pandangan dan membuat saya tersenyum, saya ambil gambarnya.

Pasar seni memang selalu penuh. Dan selalu dipenuhi oleh penonton. Baik itu penikmat seni atau bukan, ataupun hanya reresepan. Konon katanya disini, para seniman  dari berbagai kalangan “edan-edanan” menyajikan karya seninya. Dan yang unik, katanya lagi, ada semacam aturan bahwa di pasar seni para seniman seolah membanting harga karya seninya agar memang bisa dibeli dan dinikmati masyarakat. Meski harganya murah namun tak ada kesan cuci gudang, karena memang mutunya tetap terjaga.

Semakin sore, saya terus menjelajah pasar. Menjelang maghrib, terus berjalan melihat-lihat. Ke arah Fisika dan Sipil. Ke atas menuju Informatika. Wah banyak stand makanan, dan rata-rata sudah pada sold out. Sayang Ramen Rider tidak buka stand. Melihat ke area elektro dan farmasi di sekitar Indonesia tenggelam, ada panggung performance musik juga. Saat itu yang sedang perform adalah grup musik Blues, saya lupa namanya, yang jelas katanya satu personilnya adalah dekan. Mantap. Dan yang saya ingat nama Bassist-nya Pak YanYan. Ingat, karena maennya bagus. Meski udah aki-aki tapi motah. Terus berjalan kembali hingga balik lagi menuju panggung gerbang ganesha. Sudah maghrib juga.

Overall, banyak yang unik, tapi banyak juga karya seni yang tidak saya ngerti. Sehingga saya mengakui bahwa ternyata otak saya masih eksak, belum abstrak. Sakali deui, Ieu Bandung Lur! Dan Pasar seni adalah salah satu ikon yang ada di Bandung, layaknya ITB, PT DI, dan Teknik Penerbangan yang cuman ada di Bandung. Salut untuk Bandung, salut untuk pasar seni! Sampai jumpa lagi di Pasar Seni berikutnya, insya Allah empat tahun lagi! Tapi bukan di 14-14-14.

 

tong daek dijajah ku batur

 

 

saratuspersen

 

 

karikaturnis-densus88-karinding-disinherated

 

 

kocak