Glokalisasi


Bismillahirrahmanirriim

Stop sementara dari kosakata “airplane” dalam pikiran. Mari keluar sebentar, berefleksi, mencoba mengambil hikmah dari sederhananya dunia di sekeliling. Pagi ini, seperti pagi lainnya, dan pagi-pagi bertahun-tahun sebelumnya pasca reformasi, media seakan menjadi “racun” bagi pikiran. Terlebih setelah kebebasan pers yang sebebas-bebasnya digaungkan. “Racun” itu Pertama, karena mungkin memang realita yang ada di negeri ini didominasi oleh berita negatif. Entah itu pembunuhan, kekisruhan rumah tangga, bunuh diri, kemiskinan, korupsi, dan tindakan amoral lainnya. Kedua, juga mungkin provokatif dari media dalam menayangkan berita itu sendiri. Berita biasa menjadi luar biasa, berita sederhana menjadi membahana. Bad news is a good news, and good news is a bad news, adalah pakem media saat ini. Meskipun tidak semua. Dan pagi ini, dua buah berita dari media online cukup menjadi bukti ulasan diatas. Pertama, berita mengenai pengakuan DPR bahwa ada praktik percaloan dalam penetapan anggaran di DPR. Kedua, berita mengenai “kekonyolan” dalam soal Tes CPNS Departemen Perdagangan. Yang salah satu soalnya bertanya mengenai judul lagu apa yang telah diciptakan oleh Presiden SBY. Konyol.

Anyway, lepas dari itu semua, saya ingin mencoba mengulas yang lain. Masih tentang media juga, namun saya rasa dalam kerangka positif dan produktif. Dari Pasar Seni ITB, saya membawa pulang oleh-oleh berupa kaos oblong yang unik. Produsen atau merk dagangnya adalah HARAX. Kaosnya sendiri bergambar salah satu inohong Sunda, Kang Ibing. Tong ngaku urang sunda kalau tidak tahu Kang Ibing. Gambarnya sederhana, hanya foto karikatur muka Kang Ibing di bagian depan kaos, dan tulisan pileuleuyan Kang Ibing di bagian belakang kaos. Kira-kira ilustrasinya ada pada gambar di samping. Ada lagi yang lucu dari produk ini, yakni sablonan di bagian dalam kaosnya. Jika kita melihat kaos umumnya, akan ada keterangan mengenai ukuran, kemudian cara mencuci-menjemur-menyetrika seperti do not dry iron . Nah di kaos ini, sama ada keterangan mengenai ukuran dan cara mencuci. Hanya saja keterangannya, ukuran XL (Xagok Logor), L (Logor), M (Mahi), dan S (Sereg) – (semuanya dalam bahasa sunda, silakan tanya artinya pada teman sunda anda). Kemudian cara mencuci, begini tulisannya “montong nyeuseuh dihidjikeun djeung lamak pel, komo deui djeung seuseuhan batur mah, matak riweuh”.  Membuat gelak tawa. Masih ada desain lainnya yang bercerita tentang Bandung, kemudian tentang ITB, yang kesemuanya mengangkat nilai lokal dari Bandung atau Sunda.

Berpikir tentang nilai lokal, mungkin ini yang harusnya kita bawa saat ini. Kita, yang  katanya sudah memasuki era globalisasi, secara tidak sadar malah menjadi korban globalisasi. Kita seperti tidak pede menghadapi perdagangan bebas. Dengan lebih banyak menerima (masuknya barang impor), dan sedikit sekali untuk menjual (kecuali bahan baku yang masih mentah belum diolah). Beruntung ternyata di sektor ini, per-kaos-an atau industri kreatif, masih ada angin segar menyelimuti. Sebut saja di Bandung, pasca resesi ekonomi di akhir 2000-an, distro-distro menjamur dan menjadi tuan rumah. Menyusul kemudian di kota-kota lain. Kemudian hadir juga brand-brand lokal, seperti Mahanagari. Brand yang juga membawa citarasa bandung dalam produknya. Kaosnya yang terkenal adalah yang bertuliskan sablonan F=V=P. Mengangkat ketidakberdayaan urang sunda yang katanya sulit untuk membedakan ketiga huruf konsonan tersebut. Selain itu, jauh-jauh hari, kita pun mengenal brand Dagadu dari Jogja, kemudian Joger dari Bali. Surabaya punya Cak-Cuk Surabaya, ada juga Okko’ khas Makassar, dan juga Kaos berpantun Padang. Dan tentunya yang sudah mendunia, kita memiliki batik sebagai kain dan motif yang sudah diakui sebagai world heritage. Dan dengan bahasa daerah yang sangat beragam, suku bangsa yang beragam, kesenian daerah, khazanah lokal, Indonesia tak akan pernah kehabisan ide untuk menampillkan kekayaan budaya bangsanya.

Think Globally Act Locally. Glokalisasi bukan Globalisasi. Itu yang seharusnya kita bawa saat ini. Menjadi tuan rumah di negara sendiri. Kita memiliki pasar dalam negeri yang luar biasa banyaknya, 240 Juta manusia. Dan akan terus bertambah tiap tahunnya dengan laju pertambahan mencapai 4 juta jiwa pertahunnya. Sebuah modal yang luar biasa untuk bisa menjadi mandiri (sekalipun negara ini diembargo). Dan akan menjadi  ironi ketika yang menjadi brand komoditi di negeri ini seperti Nike, Adidas, Levis, dan brand luar lainnya. Memang betul dan diakui jika brand luar negeri itu memiliki kualitas yang lebih baik dari brand dalam negeri, dan disinilah harusnya peran pemerintah untuk memberikan proteksi pada brand-brand dalam negeri. Baik itu berupa subsidi, pembinaan, kemudahan yang lebih, rendah pajak, dll (Konon gosipnya juga, entah betul atau tidak, kasus Indomie di Taiwan, katanya karena adanya proteksi Pemerintah Taiwan terhadap merk lokal yang ada di Taiwan, karena Indomie menjadi pemimpin pasar di Taiwan).

Menjadi bangsa yang berdikari dan mandiri mutlak dibutuhkan oleh bangsa ini. Prinsip kalau bisa beli kenapa harus buat sendiri, harus dibuang jauh-jauh dari bangsa ini. Dengan terus mengadopsi budaya tersebut, maka kita akan terus konsumtif dan hanya menjadi komoditi pasar. Dan seolah menjadi omong kosong, ketika kita menggaungkan untuk memboikot suatu produk karena kebencian kita pada produsen produk tersebut, namun kita tidak memiliki substitusinya baik secara kuantitas maupun kualitas. Kita masih saja konsumtif dan enggan untuk produktif. Industri kreatif mungkin bisa menjadi pemicu untuk produktif di aspek lainnya. Terutama consumer goods dimana saat ini didominasi oleh perusahaan asing. Dan disinilah peran media, media seharusnya turut serta menjadi media positif dalam pencitraan positif bagi bangsa ini. Tidak melulu menampilkan keburukan bobroknya negara ini secara vulgar. Mungkin media perlu mencontoh hot threads di KasKus yang menampilkan gambar-gambar indahnya kekayaan alam Indonesia, keunikan pulau-pulau terpencil Indonesia, dan kelebihan-kelebihan Indonesia lainnya.

Be positive, keep productive and Go Glokalisasi!