Menulis lagi…


Bismillahirrahmanirrahiim,

menjelang tengah malam, menjelang waktu istirahat. Atau mungkin bagi sebagian besar malahan sudah pada beristirahat (tidur). Semoga sebelum tidur nyaman kita, kita sempet melantunkan doa. Bukan hanya doa sebelum tidur, tapi juga doa untuk saudara-saudara kita di tanah air yang sedang dilanda duka nestapa. Dilanda gempa dan tsunami di Kep. Mentawai, dilanda wedus gembel-nya Merapi di Yogya dan sekitarnya. Dan juga bencana banjir bandang di Tanah Papua, di daerah Wasior. Ketiga kejadian itu adalah yang fenomenal dan terangkat media. Mungkin masih banyak lagi musibah-musibah lainnya yang sedang menimpa bangsa ini. Seperti ketidak amanahan wakil rakyat kita yang terhormat yang duduk manis di kursi dewan pun adalah musibah yang sedang menimpa bangsa ini. Maka sudah selayaknya doa-doa memohon kebaikan akan negeri ini kita selipkan dalam ruang hidup kita.

Menulis lagi, karena dengan menulis bisa menunjukan eksistensi manusia itu ada. Bahkan jauh melampaui batas umur duniawinya. Dengan menulis, umur Plato dan Aristoteles bisa mencapai millenium ke 3 saat ini. Dengan menulis, sajak-sajak keberanian para Sahabat bisa kita teladani hingga saat ini. Dengan menulis, kita jadi tahu bahwa Thomas Alva Edison perlu melakukan ratusan kali percobaan gagal, sebelum akhirnya formulasi bola lampunya ditemukan. Ya, hanya dengan budaya tulisan setidaknya peristiwa-peristiwa masa lampau terekam dan tidak berubah redaksinya hingga saat ini. Berbeda mungkin dengan budaya lisan, yang hanya mengandalkan “katanya, katanya, dan katanya”. Kalau dalam ilmu hadist, udah pasti nggak shahih hehe.

Menurut Capt. Chappy Hakim, menulis adalah suatu skill. Oleh karenanya menulis adalah kemampuan yang bisa dilatih. Ya, mungkin bakat juga berpengaruh, tapi dengan semakin sering menulis, kemampuan seorang penulis akan jauh lebih berkembang. Dan yang jelas, seorang penulis adalah seseorang yang berwawasan. Mana mungkin seorang penulis bisa tidak berwawasan? lantas apa yang ia tuliskan? sejelek apapun tulisannya, pasti ia harus tahu terlebih dahulu apa yang ia tuliskan. dengan demikian menjadi seorang penulis, besar kemungkinan ia adalah seorang pembaca juga. seorang pelahap ilmu, untuk kemudian menuliskan kembali ilmu sesuai dengan apa yang dipahaminya.

Jadi mungkin kita bisa memperingkas pekerjaan pemerintah yang mencanangkan gemar membaca bagi masyarakat. Kenapa tidak kita rangkum saja, jadi gemar menulis. Otomatis dengan menulis, penulis sebelumnya telah membaca atau mengetahui apa yang ia tulis. Apapun itu. Jadi sekali merangkuh dayung, banyak pulau terlampaui. Kalau pun, ntar tidak bisa menulis, minimal sudah pernah membaca hehe.

 

mohon maaf, hanya tulisan tengah malam. sudah lama tidak menulis di blog, jadi maaf kalau ngalor ngidul.
Yuk ah membaca lagi, membaca do’a sebelum tidur maksudnyašŸ˜€

 

nb: seminggu kedepan mau ke tempat dewi anjani, mohon doa biar diberi keselamatan ya, hehe..