Menjadi Indonesia


Berkesempatan mengunjungi Rinjani, hingga mencapai puncaknya, adalah karunia yang luar biasa. Melihat sebagian Indonesia dari salah satu titik tertingginya, akan disadarkan betapa negeri ini tak pernah kehilangan pesonanya. Dari sini, sisi timur akan diperlihatkan kawah Tambora, kawah gunung api terbesar di dunia. Gundukan-gundukan Gunung Agung di sisi barat, juga malu-malu mengintip di balik awan. Hamparan biru selat lombok menawarkan 3 buah gili masih di barat juga, berderet elok juga tak mau ketinggalan menyombongkan pesonanya.

Mengunjungi Rinjani, berarti mengunjungi vegetasi alam yang lengkap. Juga kekayaan alam yang lengkap. Satu sisi menawarkan padang rumput stepa sabana sebatas dada. Kejam, sehingga mentari dengan leluasa bisa menembus manusia yang berjalan menyusurinya. Satu sisi lainnya menawarkan rimbun kawasan hutan  lindung dengan ragam pepohonan melintang satu sama lain. Mendekati puncak, mungkin tidak layak jika disebut gurun, karena beberapa titik masih ditumbuhi Edelweiss satu dua pohon. Tapi mendekati puncak,  memang akan disuguhi pasir-pasir bercampur kerikil besar, bahkan bongkahan-bongkahan batu. Pun sama dengan sisi lainnya, kejam. Bukan hanya oleh sinar mentari, tapi juga tepi jurang kiri dan kanan. Lengah berarti pasrah pada kematian. Lalu dimana air? Jangan takut, Segara Anakan dengan gunung barunya akan memanjakan untuk sekedar bersenang-senang dengan air. Tak hanya air dingin beraroma belerang, tapi juga air hangat hingga panas penuh dengan uap yang sangat bisa untuk bersauna. Tak jauh dari Segara Anakan. Tak ketinggalan, air terjun, goa-goa, tebing dengan kemiringan lebih dari 60 derajat, juga liarnya monyet-monyet kelaparan mencari kudapan.

Negeri ini sudah dianugerahi berlimpah ruah kekayaan alam. Negeri ini juga dilimpahi dengan sumber daya manusia yang sangat banyaknya, bahkan kebanyakan. Negeri ini hanya diberi dua cuaca, panas dan hujan, hingga mentari bisa bersinar sepanjang tahun. Sudah sangat kelewat nyaman. Tapi dimana rasa syukur bangsa ini? Hingga Allah (mungkin) murka dengan bangsa ini? Gampang bagi Allah, cukup dengan membuat batuk satu gunung saja, Indonesia kelabakan setengah mati. Bangsa ini (mungkin) sudah kufur. Kalau kata Abah Iwan, bangsa ini sudah semakin diselimuti sejuta kabut. Kabutnya bisa karena tak transparannya hukum hingga keadilan menjadi hal yang tabu bagi penegak keadilan. Kabutnya bisa karena kebebasan media hingga manusia Indonesia menjadi manusia yang bebas-sebebas-bebasnya mengabaikan akhlak, meniadakan norma. Wajar jika ribut gono-gini antar masyarakat seolah menjadi sajian sarapan pagi di tiap meja televisi penduduk negeri. Kabutnya bisa ketidakpedulian pada pendidikan, sehingga pendidikan menjadi monopoli orang berduit. Wajar jika kepintaran (hanya) menjadi khayalan orang papa.

Saya rindu menjadi Indonesia. Semoga alam tak pernah berhenti mengajari saya untuk terus bersyukur menjadi seorang Indonesia.  Dengan karya nyata, bukan (hanya) dalam medan kata-kata. Semoga alam selalu jujur mengikuti sunnatullah-Nya. Sehingga bisa menyadarkan manusia untuk  berhenti merusaknya, menyadari khilafnya, untuk kemudian kembali pada jalan-Nya.

…….

lekas,
bangun tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu
cuci muka biar terlihat segar
merapikan wajahmu
masih ada cara menjadi besar
memudakan tuamu
menjelma dan menjadi Indonesia

ERK – Menjadi Indonesia

……..

Puncak Rinjani - 3726 mdpl