3726 mdpl – Catatan Perjalanan Pendakian Rinjani (Part 1)


Ide ini berawal dari kegemaran baru seorang teman, dan juga tantangan untuk saya pribadi, untuk mengunjungi gunung-gunung di Indonesia. Sabuk pegunungan yang mengapit Indonesia, sabuk pegunungan mediterania dari Sumatera, Jawa hingga Nusa Tenggara dan sabuk pegunungan pasifik  di Pulau Sulawesi menjadikan negeri ini adalah barisan pegunungan dengan kekayaan alam yang luar biasa. Ditambah bahwa beberapa gunung adalah gunung api aktif, sehingga aspek peninggalan vulkanologi juga menjadi salah satu daya tarik dalam pendakian gunung-gunung di Indonesia.

Awalnya, bukan Gunung Rinjani di Pulau Lombok yang menjadi tujuan kami, melainkan Gunung Semeru di Malang, Jawa Timur yang menjadi destinasi. Namun musibah meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta, ternyata memicu naiknya level beberapa gunung api aktif di Indonesia dari Waspada menjadi Bahaya. Dan Gunung Semeru adalah salah satunya. Beruntung Gunung Rinjani tidak terpicu, sehingga kami “terpaksa” mengalihkan destinasi dari Semeru ke gunung api aktif tertinggi kedua (3726 mdpl) di Indonesia setelah Kerinci (3808 mdpl).

Perjalanan dimulai pada Senin, 1 November, dengan menggunakan pesawat terbang dari Jakarta langsung menuju Mataram. Mungkin agak manja, tapi tujuannya adalah agar pada pendakian nantinya tidak kelelahan. Biar pada kepulangan sajalah, kami cukup “menderita” dengan menaiki angkutan darat, yakni bus dan kereta api. Kontingen pendakian terdiri dari empat orang. Saya, Gumilar, Rihan, dan Yodi. Saya dan Gumilar memiliki waktu yang cukup luang, sehingga dalam memilih waktu keberangkatan lebih fleksibel. Sedangkan Rihan, karena sudah bekerja di suatu perusahaan multinasional, waktunya cukup sempit. Sehingga jadwal pendakian pun kami sesuaikan dengan waktu cuti kerja beliau. Adapun Yodi, baru saja menyatakan keinginan untuk gabung pada H-3 pemberangkatan, dengan fleksibilitas waktu yang tenang. Jadi Yodi bagaikan penyelamat yang menggenapi kontingen sehingga pendakian menjadi lebih rame dan meriah. Dan tentu perlengkapan kelompok pendakian menjadi lebih ringan. Kalau dalam novel Laskar Pelangi, Yodi bagaikan Harun, yang menjadi pelengkap 10 siswa SD Muhammadiyah yang menjadikan program belajar mengajar di sekolah tersebut diadakan hehe.

Kontingen Pendakian (dari depan kiri memutar searah jarum jam : Rihan Handaulah, Gumilar Rahmat H, Yodi Nurdiansyah, M. Luthfi Imam)

1 November adalah 4 hari pasca bencana meletusnya gunung Merapi. Setelah beberapa hari sebelumnya, bangsa ini ditimpa bencana yang besar juga, yakni banjir bandang di Wasior dan tsunami di Mentawai. Tanpa mengurangi rasa bela sungkawa kami, pendakian yang kami lakukan bukanlah sikap melarikan diri dari musibah-musibah yang melanda Indonesia. Bukan pula sikap untuk hura-hura dan foya-foya. Melainkan keinginan kami untuk mentafakuri ciptaan-Nya, melalui tarbiyah jasadiyah mendaki puncak-puncak ciptaan-Nya.

Keberangkatan cukup nyaman, atmosfer mendukung. Hanya sedikit insiden terjadi. Ternyata kami harus transit dahulu di Bali. Perjalanan yang harusnya ditempuh hanya 2 Jam, yakni 12.45 WIB hingga 15.40 WITA, ternyata baru sampai Mataram menjelang pukul 18.30 WITA. Armada pilot dan petugas Air Traffic Control di Bandara Selaparang Mataram memutuskan untuk mengalihkan sementara pendaratan di Mataram sementara ke Ngurah Rai, Bali karena alasan cuaca buruk di Selaparang. Padahal dari balik jendela kabin, kami sudah melihat puncak Rinjani dengan jelas.

Puncak Rinjani dari balik kabin

Ternyata kita harus balik sebentar memutar ke Bali. Dan cukup lama juga menunggu di Bali, hampir 2 Jam. Dan karena cuaca yang kurang bersahabat ini, banyak juga penerbangan di Bali yang harus delay. Ya, itulah dunia penerbangan, safety first!

 

Di Bandara Soekarno Hatta


di Bandara Selaparang Mataram

Tiba di Mataram kami menunggu kedatangan kenalan teman-teman dari Mataram. Namanya Rapi’i. Beliau kenalan kami dan kami mengenalnya dari unit kampus di Universitas Mataram, yakni dari Lembaga Dakwah Kampus-nya. Inilah manfaat menjaga silaturahim hehe. Di tempat Rapi’i ini kami menginap satu malam dan juga persinggahan untuk istirahat dan packing barang. Nah tips juga buat Anda yang bepergian ke suatu daerah yang asing, sebisa mungkin Anda memiliki kenalan di daerah tersebut. Manfaatnya banyak, untuk kelancaran komunikasi, akomodasi gratis, kemudian juga buat update status kondisi tempat yang akan kita kunjungi.

Lepas dari beban ransel dengan menitipkannya di penginapan, target berikutnya adalah makan malam. Dan tidak sah ketika kita mengunjungi suatu daerah, jika tidak mencoba kuliner khas daerah tersebut. Langsung saja, kami berburu ayam taliwang dan pelecing kangkung. Kojo banget lah makanannya. Ditambah lagi ikan (lupa namanya) bakar. Ini nih penampakannya,

Taliwang - Plecing Kangkung - Ikan Bakar - Kelapa Muda Madu Ludes tak bersisa, dahsyat!

Menu makanan yang telah dilahap, benar-benar membuat kami mengantuk. Tapi PR untuk membeli kebutuhan konsumsi untuk mendakian masih harus dilakukan. Berkunjung ke swalayan lokal, yang kami tidak tahu namanya, kami membeli kebutuhan makanan dan minuman untuk pendakian selama 4 hari 3 malam. Berbeda dengan swalayan di Jawa, yang rata-rata teratur (tertata dengan baik penampilan dan kenyamanannya), disini saya mengamati seperti toko kelontong. Meski demikian toko ini tetap ramai hingga pukul 10.00 WITA. Mungkin ini adalah swalayan terlengkap dan murah di sekitaran Mataram.

Kami cukup kaget dengan hasil belanjaan kami yang ternyata sangat banyak. Total mencapai 600 ribuan rupiah. Beras, sarden, dendeng, mie instan, agar-agar, chunky bar, bumbu penyedap, saos sambal, dan minuman-minuman seduh berenergi. Tidak apa, untuk naik gunung, lebih baik berlebih daripada kelaparan hehe. Berniat packing dan membagi jatah beban membawa makanan, malam itu tak jadi kami lakukan. Rasa lelah dan perut terisi, membuat kami lebih memilih beristirahat. Menikmati malam pertama kami di Mataram dan di kota, sebelum malam-malam berikutnya kami habiskan di sunyinya pegunungan. Mari beristirahat😀.