2500 Rupiah – Catatan Perjalanan Pendakian Rinjani (Part 2)


Rehat semalaman cukup untuk me-recharge fisik dan stamina. Pasti karena lelah, tidur pun menjadi sangat nikmat dan pulas. Hanya adzan subuh yang mampu membangunkan untuk bersiaga kembali menatap pendakian.

Dari rencana semula, disepakati bahwa pemberangkatan menuju pos pendakian dilakukan sepagi mungkin. Mengingat perjalanan menuju pos pendakian tersebut memakan waktu cukup lama. Ditambah angkutan umum/engkel menuju tempat tersebut terbatas dan hanya berangkat ketika penumpang sudah penuh. Oh iya, kami berencana untuk melakukan pendakian di Gunung Rinjani dengan menggunakan jalur Sembalun – Senaru. Ada beberapa jalur yang biasanya sering digunakan oleh para pendaki, yakni Sembalun –Senaru, Senaru – Sembalun, dan jalur Torean. Mungkin ada beberapa jalur lagi yang bisa dilalui, namun ketiga jalur diatas yang lazim dilalui. Bahkan jalur Torean, meski dikenal, jarang untuk dilalui para pendaki.

Jalur Sembalun – Senaru dipilih oleh kami dengan alasan, pada awal pendakian kami akan fokus menuju puncak, baru kemudian pada kepulangannya bisa lebih menikmati danau Segara Anakan. Danau Segara Anakan ini adalah salah satu daya tarik pada pendakian Gn.Rinjani. Jarang gunung-gunung di Indonesia yang memiliki danau yang berada di ketinggian. Yang saya ketahui hanyalah Gn. Semeru dengan Ranu Kumbolo dan Ranu Panenya. Dan dari cerita-cerita para pendaki sebelumnya yang penulis dapatkan dari berbagai literasi, dikatakan bahwa salah satu kenikmatan dalam pendakian ke Gn. Rinjani adalah menikmati Danau Segara Anakan. Jalur Sembalun – Puncak – Senaru, jika diuraikan, akan memiliki rute Sembalun – Puncak – Segara Anakan – Senaru. Dan jalur Senaru – Sembalun adalah sebaliknya. Dengan alasan itulah kami memilih jalur Sembalun – Senaru untuk pendakian.

Daerah Sembalun terletak di Timur atas kota Mataram. Sedangkan kota Senaru lebih ke Barat. Sehingga dari segi jarak, Mataram menuju Sembalun lebih lama dibanding menuju Senaru. Waktu Mataram – Sembalun dapat ditempuh dengan mobil pribadi kira-kira memakan waktu 3 – 4 jam. Dan pastinya dengan menggunakan angkutan umum akan memakan waktu lebih lama. Karena pertimbangan itulah, kami berencana untuk berangkat pagi buta untuk menuju terminal untuk mencari angkutan menuju Sembalun. Dengan pertimbangan tersebut, kami berencana bahwa kami akan tiba di pos pendakian siang menjelang sore, dan mampu untuk berjalan hingga ke pos perkemahan pertama itu sebelum malam. Mengingat belum tahu rute, sehingga untuk alasan keamanan sebisa mungkin kami menghindari perjalanan malam.

Menuju puncak, dari literatur yang didapatkan berdasar website resmi Taman Nasional Gunung Rinjani, perjalanan kami akan seperti berikut:

–          Pos Registrasi (Sembalun) 601 mdpl – Pos 1 (Pos Pemantauan) 1300 mdpl : 2 Jam

–          Pos 1 (Pemantauan) 1300 mdpl – Pos 2 (Tengengean Camp Area) 1500 mdpl : 1 Jam

–          Pos 2 (Tengengean) 1500 mdpl – Pos 3 (Pada Balong) 1800 mdpl : 1 Jam

–          Pos 3 (Pada Balong) 1800 mdpl – Pos 4 (Plawangan Sembalun Camp Area) 2639 mdpl : 3,5 Jam

–          Pos 4 (Plawangan Sembalun) 2639 mdpl – Puncak Rinjani 3726 mdpl :  3 Jam

Durasi perjalanan diatas adalah rute perjalanan normal. Saya tidak tahu definisi normal itu seperti apa, dan siapa patokannya hehe. Yang jelas, ah ntar aja ceritanya, dibaca aja. Dengan estimasi 3 jam dari pos registrasi menuju Tengengean, berarti harus tiba di Sembalun maksimal pukul 15.00 WITA. Dengan perjalanan menggunakan angkutan umum, jika berangkat pukul 7 dan estimasi perjalanan mencapai 5-6 Jam (dua kali lipat durasi kendaraan pribadi), maka masih aman.

Lagi-lagi disini adalah berkah silaturahim. Pemilik rumah dan juga kawan kami yang rumahnya menjadi tempat penginapan, menawarkan pilihan untuk menyewa mobil travel saja. Disamping lebih fleksibel dari segi waktu, dari segi kenyamanan juga akan lebih baik. Memang dari segi harga lebih mahal, tapi mungkin efeknya jauh lebih baik. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, beberapa sumber mengatakan bahwa harga angkutan dari Mataram hingga Sembalun adalah 50 ribu rupiah per orang dengan akan baru berangkat jika sudah penuh. Dan sewa mobil seharian, berharga 300 ribu rupiah sudah termasuk bensin belum termasuk supir. Beda 25 ribu rupiah saja untuk berempat. Dan untungnya lagi, teman yang menawari menyewa mobil travel, juga memiliki teman yang bersedia untuk mengantarkan kami alias menjadi sopir perjalanan dari Mataram hingga Sembalun. Cocok dah! Memang benar-benar hikmah silaturahim. Menambah rezeki. Berangkat!

Berangkat dari kediaman Rapi’i kira-kira pukul 09.00 WITA. Menuju Sembalun, ada dua rute yang bisa diambil. Melewati utara menyisir pantai melewati Sengigi, atau melalui tengah pulau Lombok ke Timur. Tentu pilihan kami adalah menyusuri pantai. Apalagi ketika dikatakan bisa melewati Senggigi. Hot spot wisata di Pulau Lombok. Menggunakan Avanza, perjalanan dilalui dengan tenang. Sengaja, untuk menikmati pesisir pantai dan juga berfoto-foto.

oleh -oleh menuju sembalun

menikmati pesona pesisir lombok

Karena mungkin terlewat santai, kami baru tiba di Sembalun menjelang pukul 15.00 WITA. Meski musim hujan, namun sore itu, kaki Rinjani belum menunjukan tanda-tanda akan turunnya hujan. Hanya saja, dari Sembalun memang terlihat puncak diselimuti oleh kabut tebal. Dari info yang kami dapatkan bahwa tiket masuk atau biaya registrasi menuju pendakian Gunung Rinjani adalah 10 ribu rupiah ditambah foto kopi identitas diri. Biasakan, ketika kita akan mengunjungi gunung atau taman nasional, untuk mendaftar atau melapor ke pos registrasi atau pos awal pendakian. Tujuannya adalah sebagai pengontrolan juga pendataan siapa saja yang akan mendaki. Ditambah juga untuk identifikasi keamanan untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Intinya, biasakan berlaku tertib dan taat aturan. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selama pendakian.

Tanpa membuang waktu, kami menuju pos registrasi untuk melapor dan mengurus administrasi pendakian. Dari mereka kami dapatkan informasi bahwa baru saja ada 2 orang dari Malang yang sebelumnya baru saja naik. Ada juga katanya kontingen dari Jakarta yang akan tiba bentar lagi buat pendakian juga. Di pos registrasi setelah mengisi administrasi, kami jiberi sedikit penjelasan mengenai kondisi Rinjani, rute yang akan dilalui, sumber-sumber mata air, camp area, dan juga kondisi cuaca. Di pos ini juga ada maket bentang alam RInjani beserta letak-letak posnya, jadi sangat membantu bagi siapa saja yang akan memulai pendakian dari titik ini. Cuaca saat ini yang sedang kurang baik, memang menjadi kendala pendakian. Perjalanan pastinya akan menjadi lebih lama, juga kondisi fisik juga akan lebih terkuras. Kata seorang petugas, dua hari terakhir ketika dia menjadi guide bule-bule Jerman katanya juga hujan terus menerus . Haha, sudah tiba di TKP bung, pantang untuk mundur. Cuaca bukan halangan tapi tantangan.

Sebelum memulai melangkah, yang menarik adalah biaya registrasi ternyata hanya 2500 rupiah per orang. Harga yang sangat murah. Padahal dari googling didapatkan info sekitar 10 ribu rupiah untuk pendaki domestik, dan 150 ribu rupiah untuk mancanegara. Sungguh biaya yang sangat sangat murah dan lebih dari sepadan jika Anda berkesempatan untuk mendaki dan menikmati Rinjani. Ya, memang sejatinya tak perlu ada biaya untuk memasuki suatu kawasan alam. Tapi memang baik juga sebagai salah satu pos PAD (pendapatan asli daerah) daru pos wisatawan. Dan tentu juga diimbangi dengan pelayanan pemerintah daerah tersebut terhadap kenyamanan dan akses informasi terhadap tempat wisata tersebut.

Kami siap bersimbah peluh. Cukup dengan 2500 rupiah, dan hasilnya memang perjalanan ini penuh sensasi, penuh misteri, menyimpan sejuta aksi, menyiagakan stamina kuda, ajang perang mental, mempertaruhkan semangat, ah pokonya sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata haha. Nantikan cerita berikutnya. Selamat berakhir pekan😀.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah keseribu tak akan pernah tercapai
tanpa langkah pertama, kedua, ketiga dan seterusnya
dan langkah keseribu bukanlah langkah terakhir
tapi langkah untuk menapaki langkah-langkah berikutnya..