Menikmati Peluh – Catatan Perjalanan Pendakian Rinjani (Part 3)


Semangat penuh. Stamina prima. Fisik mumpuni. Mental baja. Semua itu mutlak diperlukan bagi siapa saja yang bertekad untuk mendaki gunung. Terlebih mental dan semangat. Karena seringkali proses perjalanan dari awal hingga akhir pendakian, mental dan semangat lah yang menentukan. Fisik boleh habis, bahkan mungkin sudah habis sebelum mencapai puncak, tapi semangat pantang menyerah, semangat saya pasti bisa, tetap harus dijaga dan digelorakan. Dan sangat perlu untuk ditularkan pada rekan pendakian.

Sore itu, kami juga memutuskan bahwa kami tetap harus menjaga semangat kami. Di awal perjalanan pasti fisik masih prima, entah di tengah perjalanan atau akhir perjalanan. Diawali dengan pemanasan ringan, waktu menunjukan pukul 15.30, langkah kaki mulai diayun dengan target maghrib sudah bisa mencapai camp area, POS II – Tengengean. Dari panduan di pos registrasi, bahwa rute normal dari pos registrasi hingga Tengengean adalah 3 jam. Kami tidak tahu waktu normalnya siapa. Dengan asumsi kami sama-sama normal, berarti aman untuk sampai di pos pada waktu maghrib. Dan, hey! Ternyata hingga pos 1 pun, pos pemantauan, waktu sudah menunjukan pukul 19.00 WITA. Memalukan hehe. Kami sudah gagal memenuhi target, dan resikonya ya harus kami tanggung sendiri, berjalan pelan di malam hari. Beruntung, ternyata jarak pos 1 dan pos 2 tidak terlalu jauh, cukup satu jam perjalanan sesuai dengan panduan peta perjalanan. Baru pukul 20.00 WITA kami bisa ngecamp. Di tempat perkemahan sudah ada rekan-rekan dari Malang, 2 Orang. Ada juga rombongan lebih dari 7 orang, teman-teman dari Jakarta-bandung- Bali- Mataram. Dan rombongan ini ternyata Kaskuser hehe, mantap gan! Cendolnya gan!

menuju plawangan sembalun menyusuri stepa

long road

gagahnya puncak rinjani dari kaki gunung

Rinjani - kokoh menghujam -

Tanpa menunda waktu, kami langsung mendirikan tenda, mengolah makanan, dan sedikit membersihkan badan dan pakaian. Pokoknya makanan beres, siap tidur. Tidak lupa sholat maghrib dan isya di jamak. Meski cuma berjalan selepas ashar hingga isya, namun cukup menyita fisik. Jalur Sembalun hingga ke Tengengean, meski relatif landai, namun cukup panjang. Beruntung tidak turun hujan. Jalur Sembalun – Senaru, di awal pendakian memang menyajikan sabana dan stepa. Berbeda dengan Senaru  – Sembalun. Di awalnya kita akan melewati perkebunan penduduk dan hutan lindung. Dengan medan berupa stepa sabana, maka matahari dengan leluasa langsung menembus tubuh. Beruntung perjalanan kami dilakukan di sore hari, sehingga matahari tidak begitu ganasnya. Jadi kami cukup menikmati peluh yang membasahi tubuh. Nikmatnya berkeringat.

Selain padang stepa dan sabana, dari pos registrasi menuju Pos Tengengean, kita akan disuguhi juga oleh beberapa sungai yang terbentuk oleh lahar dingin. Tidak kurang ada 5 aliran yang kami lewati. Tapi sayang sudah banyak yang tidak dialiri air. Hanya genangan-genangan air tidak mengalir yang terisi oleh air hujan. Selebihnya adalah lahar-lahar dingin yang mengeras. Jika anda tidak jeli, anda bisa dikaburkan oleh menghilangnya jalan setapak akibat dikaburkan oleh aliran lahar dingin ini.

Keesokan hari, pagi kami diawali dengan sholat subuh. Semalam tidak turun hujan. Sehingga cuaca cukup kondusif dan tidak terlalu dingin. Meski demikian jangan coba-coba untuk tidak tidur menggunakan sleeping bag. “Tidak dingin” digunung berbeda dengan “tidak dingin” di kota hehe. Aktivitas berikutnya adalah memasak, bersih-bersih, dan rapih-rapih tenda serta packing barang melanjutkan perjalanan. Di pagi itu, kami bercengkrama dengan kawan-kawan lain yang dari Malang dan juga agan-agan kaskuser. Teman-teman dari Malang (saya lupa namanya, hehe maaf), ternyata tinggal di Lawang, pos awal pendakian ke Semeru. Tadinya sebelum memutuskan mendaki Rinjani, kami menjadikan Semeru sebagai tujuan awal. Sayang akhir-akhir ini Semeru ditutup karena aktivitasnya meningkat. Lupa, kami tidak meminta kontak teman-teman Malang itu, padahal sangat bermanfaat ntar ketika kami berkesempatan mengunjungi Semeru. Adapun agan-agan Kaskuser, mereka berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Beda kota, beda profesi. Ada yang masih mahasiswa, ada yang sudah bekerja. Yang mahasiswa kebetulan berasal dari kampus yang sama dengan kami, ITB. Dia sengaja memanfaatkan jatah bolos buat naik gunung. Adapun yang bekerja, mereka memanfaatkan jatah cutinya. Salut ama mereka, berbeda-beda tetapi satu jua. Naik gunung bareng-bareng. Bhineka tunggal ika banget lah. Biar beda-beda, tapi pas ketemu langsung kompak dan akrab. Mungkin awalnya cuma interaksi di dunia maya, tapi keakrabannya terbawa hingga dunia nyata. Sekali lagi salut ama mereka. Kalau saja semua masyarakat Indonesia bisa demikian, insya Allah gak ada lagi tawuran di negeri ini. Semoga.

Waktu menunjukan pukul 09.00 WITA. Diawali stretching secukupnya, kami melanjutkan perjalanan. Diantara yang nge-camp disitu, kami berangkat lebih awal. Sengaja, kami sadar kami newbie, jadi khawatir perjalanan memakan waktu lama, jadi cari aman dengan berangkat lebih awal. Dan ternyata memang benar, pada akhirnya rombongan kami “tertangkap” oleh teman-teman Malang dan beberapa agan Kaskuser.  Perjalanan dari Pos II Tengengean menuju camp berikutnya, yakni Plawangan Sembalun, berdasar data membutuhkan waktu tidak kurang 4,5 jam. Itu waktu normal. Dan berkaca dari hasil perjalanan dari pos awal ke Tengengean, kami berada di luar normal atau the outliers, maka pasti perjalanan memakan waktu lebih lama. Dan hasilnya. pukul 16.00 WITA kami baru sampai di camp berikutnya. 7 Jam perjalanan.

gaya dulu sebelum melanjutkan perjalanan

Tuan peurih tumbeng!

Perjalanan dari pos II ke Plawangan Sembalun diawali dengan stepa dan Sabana lagi. Lagi lagi keringat mengucur deras, menguras stamina. Kira-kira 1/3 perjalanan masih stepa dan sabana. Pastikan jika anda mendaki Rinjani, untuk memastikan perbekalan air anda cukup. Dan di Rinjani, pos-pos air ada di area camp. Di Pos II di Tengengean, di Pos Plawangan Sembalun, dan Segara Anakan. Beberapa ada lagi ketika kita turun dari Segara Anakan ke Senaru.

Setalah sabana kita akan menghadapi medan yang benar-benar berat. Anda akan menghadapi jalan setapak dengan tanjakan yang cukup curam. Memang matahari sudah bisa tersaring oleh rimbunnya pohon pohon pinus, tapi jalannya cukup gokil. Tak jarang anda harus menggunakan tangan dan kaki untuk sedikit memanjat. Ditambah hujan yang turun cukup deras, membuat jalanan semakin licin. Dengan menggunakan ponco, dan pakaian yang basah tertembus air hujan, langkah semakin berat. Keringat bercampur air hujan, deras membasahi tubuh. Disini memang benar-benar akan diuji kesabaran anda. Perang mental. Semakin berat. Namun tadi, semangat dan saling menyemangati cukup untuk meringankan beban perjalanan. Nikmati saja.

Dari pos II hingga ke Plawangan Sembalun, kami banyak berpapasan dengan wisatawan mancanegara. Mereka rata-rata menggunakan guide dan porter atau serpa. Turisnya sendiri hanya mengenakan jas hujan dan membawa tas kecil secukupnya yang mungkin hanya berisi barang berharga, kamera, dan air minum. Para porter-nyalah yang membawa kebutuhan mereka. Hebatnya dari para porter ini, mereka hanya menggunakan sendal jepit dan baju ala kadarnya. Celana pendek kaos oblong, tapi sangat cekatan. Tak jarang perang mental juga terjadi dengan mereka. Dalam hati, “gila mereka aja bisa bro, masa gw kagak bisa”. Beberapa kali kami terlewati oleh mereka, dan mereka hanya senyum saja, dan berkata sila (permisi dalam bahasa Lombok). And we just smile and take a deep breath.😀

tak perlu mantel, tak perlu backpack, cuma butuh stamina dan tenaga kuda

mamang porter jawara!

Dan tiba di Pos Plawangan Sembalun cuaca benar-benar menggila. Hujan cukup deras ditambah angin yang cukup kencang. Pakaian yang basah, semakin mendukung dingin untuk menusuk tubuh. Terpikir untuk mencoba mengukur temperatur, sayang tak ada gadget-nya. Kami yakin suhu saat itu dibawah 10 derajat. Tak menunda waktu, lekas mendirikan tenda dan menyiapkan makanan. Siang tadi, di perjalanan, karena hujan, kami hanya mengisi perut dengan indomie yang diremukan ditambah sosis siap makan. Ditambah beberapa minuman energi oplosan buatan Tuan Yodi. Cukup. Yang penting perut terisi, tak terpikir untuk mencoba menepi dan membuat masakan. Karena itu, kami menyiapkan makanan cukup banyak. Untuk membalas makan siang, dan juga makan malam. Masak sekalian biar tinggal istirahat menyiapkan summit attack.

Benar-benar hari yang melelahkan. Tapi sekali lagi, nikmati. Dengan menikmati lah kita bisa merasakan indahnya karunia Allah. Merasakan nikmatnya masih bisa menghilangkan lelah dengan istirahat. Merasakan nikmatnya menghapuskan dahaga dengan minuman energi oplosan. Merasakan nikmatnya kecapaian dengan menarik napas sedalamnya. Merasakan nikmatnya mengobati pegal-pegal di pundak dan kaki dengan merebahkan tubuh dan meluruskan kaki. Alhamdulillah. Saatnya kami beristirahat untuk menatap summit attack dini hari, berharap bisa mendapatkan sunrise di ketinggian 3726 mdpl. Mari.

Salah satu yang kurindu dari mendaki gunung adalah menatap indahnya langit. Anda dan bintang tak terpisahkan. Bukan hanya satu yang berkelip, tapi jutaan bintang memandangi anda. Suatu lansekap yang sudah sangat sulit ditemukan di kota.