Langkah Demi Langkah – Catatan Perjalanan Pendakian Rinjani (Part 4)


Whatever the struggle, continue the climb (Eiger)

Malam kedua benar-benar menguji. Terutama kondisi cuaca yang belum mendukung. Suhu udara yang makin mendingin dengan semakin larutnya malam, hujan juga belum menunjukan tanda-tanda berhenti. Langit masih gelap, bintang enggan keluar. Menandakan awan hujan masih menaungi Plawangan Sembalun, tempat kami berkemah. Dari sore kabut memang sudah turun, sehingga jarak pandang pun tidak terlalu jauh. Pemandangan Danau Segara Anakan  yang seharusnya terlihat sangat jelas dari Plawangan Sembalun, kini tidak terlihat dengan jelas. Hanya sedikit-sedikit terlihat. Kabut benar-benar menutupi pandangan.

Kabut di Segara Anakan menuruni Plawangan Sembalun

segara anakan dari ketinggian

Malam itu kami beristirahat secepat mungkin, tujuannya agar ketika summit attack dini hari nanti, kami dalam kondisi fit, setelah setengah hari melakukan perjalanan diiringi hujan. Selepas menyantap makan malam, kami keluar sebentar menyapa tenda lainnya untuk bertanya perihal summit attack dini hari nanti. Rencananya, kami akan mengejar sunrise di puncak. Dengan waktu tempuh perjalanan 4 jam dalam waktu normal, selambat-lambatnya kami harus mulai naik ke puncak pada pukul 02.00. Itupun pastinya matahari sudah agak menyembul. Rencana itu kami utarakan kepada rombongan lainnya untuk kemungkinan naik bareng. Tim Malang setuju untuk bareng-bareng  ke atas. Sepakat berkumpul jam 02.00 di luar tenda. Adapun kaskuser, mereka tidak memaksakan untuk mengejar sunrise. Mereka cukup naik pada pukul 03.00. Kondisi siang tadi rupanya memang tak bisa dipungkiri sangat menyita tenaga. Tak lupa, kami menanyakan kepada bang Pian (rombongan dari Kaskuser), rute menuju puncak. Beliau adalah orang Lombok TImur dan sudah sering kali mendaki Rinjani, sehingga beliau menjadi tempat bertanya siapapun saat itu mengenai Rinjani. Kami tiba menjelang soredi Plawangan dan kabut sudah turun. Sehingga kami lupa untuk mengecek kemana jalan menuju puncak. Jadi kami memuncak hanya berbekal rute dari Bang Pian.

Alarm sengaja dipasang pukul 01.00. Waktu 1 Jam menuju jam 02.00 cukup untuk persiapan dan sedikit pemanasan. Tapi malam itu memang benar-benar lelah. Malam begitu cepat berlalu. Kami memang terbangun pukul 01.00, tapi rupanya kondisi dingin menambah keengganan kami untuk lekas bersiap. Di luar cuaca masih hujan, meskipun hanya gerimis. Benar-benar ujian. Alarm beberapa kali kami matikan, alasan lah, bentar 15 menit lagi. Bentar lah ntar jam stengah dua aja. Berat sekali. Baru jam 02.00,  itupun teman-teman Malang mengetuk tenda kami dan bertanya, “Jadi muncak?”. Spontan dijawab, “Ayo jadi! Bentar, lagi persiapan.” Jawaban diplomatis. Dan memang kami harus menuju puncak.

Keluar tenda, giliran kami yang mengetuk tenda tim Malang. Hujan saat itu memang masih mengguyur. Dan ternyata kini mereka malah memutuskan untuk tidak jadi ke puncak malam itu. Dingin katanya, khawatir cuaca di atas malah tidak mendukung. Bagaimana para Kaskuser? Dan sama, mereka mengurungkan niat untuk ke puncak dini hari ini. Hoho, how about us? Pantang untuk menggugurkan integritas, sekali azzam sudah dipancangkan untuk summit attack saat itu, maka pantang untuk kembali masuk tenda (haha lebay). Kami sepakat untuk tetap menuju puncak. Dengan persiapan secukupnya, hanya membawa air minum, chunky bar, dan ponco, kami mulai langkah menuju puncak. Barang-barang lainnya sengaja kami tinggalkan di Plawangan dan semua dimasukan ke dalam tenda. Tenda dalam keadaan terkunci, dan pastikan tidak ada celah sedikitpun untuk monyet-monyet liar mencuri barang-barang, terutama makanan.

Waktu terus berjalan. Dengan mengikuti petunjuk Bang Pian, kami mulai   mencoba memilah-milah jalan setapak. Kegelapan benar-benar  membuat kami kebingungan. Kira-kira setengah jam kami berputar-putar pada tempat yang sama, bingung. Dan akhirnya dengan kesabaran kami bisa menemui jalan setapak dan merasa yakin. Jalan yang dilalui adalah jalan berpasir dan berbatu. Pasir-pasir vulkanik  dan juga aliran-aliran lahar lah yang dilalui saat itu. Dengan sedikit rumput liar diantaranya. Medan yang dilalui cukup curam. Bebeapa waktu kami harus menggunakan bantuan tangan untuk sedikit memanjat dan menguatkan pijakan. Baru kemudian setelah medan ini, kami temui punggung gunung dengan bagian kanan jalan adalah jurang yang menganga. Harus ekstra hati-hati. Perjalanan yang mendebarkan. Kiri jalan pun adalah lereng pegunungan. Kemiringannya cukup untuk menggelindingkan anda hingga ke bawah kembali ke pos awal hehe.

Dari punggung gunung ini puncak sudah terlihat. Optimisme membuncah, puncak sebentar lagi. Waktu menunjukan jam setengah lima lewat, sudah memasuki waktu subuh. Tak perlu menunda, adzan dikumandangkan.

Allahu Akbar Allahu Akbar
Allahu Akbar Allahu Akbar
……

Syahdu sekali. Khidmat sekali. Hening. Alam seolah bersama-sama menjawab panggilan adzan. Hembusan angin berhenti sejenak, mengalirkan adzan menggema di kaki puncak Rinjani. Subhanallah. Allahu Akbar. Betapa besar dan indah ciptaan-Nya. Sungguh sangat kufur dan tidak tahu diri yang terbersit dalam dirinya kesombongan. Astaghfirullah.

Optimisme membuncah. Perjumpaan dengan Allah benar-benar menjadi charger semangat. Kami yakin, kami pasti bisa. Dengan izin Allah. Selepas dzikir, perjalanan dilanjutkan. Hujan mulai sedikit reda, tapi kabut masih setia, sehingga masih terasa uap-uap air menemani perjalanan. Kondisi jalan pun masih didominasi oleh pasir-pasir dan bebatuan. Jalan pasir ini benar-benar menghambat langkah. Kaki seperti sulit untuk digerakan. Sinar matahari mulai sedikit terlihat. Sehingga sedikit membantu perjalanan. Meski demikian, awan tampaknya masih cukup tebal sehingga mendung masih terus menaungi. Si bunga abadi – Edelwiess – mulai banyak terlihat. Ini menandakan bahwa memang puncak sebentar lagi.

Langkah berat menuju Puncak Rinjani

—-

Waktu terus melaju, tak terasa sudah menunjukan lebih dari pukul 6. Puncak ternyata masih cukup jauh dihadapan. Entah apakah pandangan sebelumnya hanyalah fatamorgana, tapi ketika kami sholat subuh puncak memang terlihat dekat. Tapi sudah 2 jam lepas dari sholat subuh, perjalanan masih nampak belum berakhir. Ditambah langkah berat dari pasir yang terus menebal. Cuaca masih belum bisa diajak kompromi. Kabut terus mengiringi, membuat pikiran pesimis terpicu untuk keluar. DItambah ujung-ujung tangan mulai kehilangan rasa, semakin membeku.

Monolog dalam hati berkecamuk. Suara pesimis muncul keluar, “Cuaca buruk nampaknya akan terus hingga ke puncak. Jari kamu sudah membeku, kamu tak mau kan tumbang kedinginan? Kamu bisa kena gejala hipotermia. Kamu nggak mau kan nyusahin temen-temen kamu? Sudah lah cukup, yuk turun saja.” Suara realistis juga mendukung si pesimis, “ Alhamdulillah sampai sini juga. Pencapaian luar biasa. Apalagi kamu seorang newbie. Mantap kan newbie, langsung naik Rinjani. Ditambah musim hujan lagi, udah sampai disini aja. Gak apa-apa, nggak sampai puncak, kamu udah melampaui 3000 mdpl.” Untung si optimis muncul, “Luthfi! Orang lain bisa, lo pasti bisa. Fisik boleh habis, tapi semangat pasti bisa mengalahkan fisik. Gak mau kan capek-capek ke Rinjani, udah hampir puncak, tapi enggan berlelah-lelah beberapa detik lagi? Belum tentu bisa naik lagi Rinjani dalam waktu dekat. Selama tujuannya adalah karena Allah, tak perlu takut, insya Allah syahid! Nanaonan atuh ka Rinjani ari ukur nepi dieu mah!”.

Whatever the struggle, continue the climb!

Melihat teman-teman berteriak, melihat teman-teman terus melaju, melihat teman-teman juga sama-sama melangkah, membuat si optimis memenangkan pertempuran hati. Berteriak, “Saya bisa!”, Benar-benar bisa menumpahkan emosi semangat, bahwa kami bisa. Langkah demi langkah. Terus istiqamah. Berat, tapi dinikmati. Tidak peduli jam berapa sampai di puncak, yang penting istiqamah. Tidak peduli cuaca bisa diajak kompromi atau tidak, yang penting melangkah.

Berfoto di Puncak Rinjani

baru banget sampe puncak

berdiri di atas awan memandang danau dari ketinggian

menapaki langkah langkah berduri
menyusuri rawa lembah dan hutan
berjalan di antara tebing curam
semua dilalui demi perjuangan