Monkey Attack! – Catatan Perjalanan Pendakian Rinjani (Part 5 – Habis)


Alhamdulillah. Perjuangan yang berat. Dengan izin-Nya dan langkah demi langkah, puncak berhasil dicapai. Waktu menunjukan waktu dhuha. Matahari sudah jauh dari waktu terbitnya. HIkmahnya, kondisi puncak saat itu menjadi cerah, tak berkabut. Terang benderang. Memang selalu ada hikmah dibalik semua peristiwa. Di depan kami terbentang pemandangan indah, Lombok yang dikelilingi lautan. Memang tidak terlalu jelas, karena awan-awan menghalangi pandangan. Saat itu kami memang layaknya berdiri di negeri di atas awan. Tapi jika memang anda jeli, akan jelas terlihat lautan menghampar mengelilingi Lombok. Di sebelah barat, terlihat menonjol Gunung Agung dari pelataran Pulau Bali. Karena terhalang awan yang cukup tebal juga, Danau Segara Anakan kurang terlihat jelas dari puncak. Tak apa, ketika turun nanti kami akan mengunjunginya, dan menikmatinya dari dekat.

Puncak Rinjani berada di ketinggian 3726 mdpl. Gunung ini merupakan gunung api aktif kedua tertinggi di Inonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatera Barat. Puncaknya tidak luas, mungkin hanya cukup untuk berdiri 20 orang saja. Jadi biasanya ketika padat pendaki, kira-kira di bulan Agustus, pendaki harus ekstra hati-hati dan bergantian menikmati puncak. Hari itu, nampaknya hanya kelompok kami yang mendaki ke puncak Rinjani. Karena itu Puncak serasa menjadi milik ber-4. Leluasa berlama-lama di Puncak. Satu ritual yang masih ada hingga kini di Gunung Rinjani adalah peletakan sesajen di Puncak Gunung RInjani oleh pemeluk Hindu yang ada di Lombok. Ketika di puncak pun, kami melihat ada sesajen yang tampak masih baru diletakan di puncak.

lansekap ketika menuruni puncak

Tak mau keasyikan dan khawatir kembali diserang cuaca buruk, kami memutuskan untuk segera kembali ke camp. Target kami adalah tiba di camp sebelum pukul 12. Waktu menunjukan masih jam 09.30. Dengan asumsi waktu turun lebih cepat dua kali dari waktu naik. Tak hanya naik yang membutuhkan kekuatan fisik, turun pun ternyata cukup merepotkan. Jika pada waktu naik, betis dan paha anda yang terkuras, maka ketika turun anda akan merasakan lutut anda tereksploitasi. Huh. Meski demikian, beberapa pemandangan yang tersaji ketika turun mampu mengalihkan lelah menjadi ceria. Canda diantara kami pun mencairkan lelah dan laktat-laktat di tubuh menjadi tawa bahagia. Karena itu pulalah baru pukul 1 kami tiba di camp.

Pada rencana awal, kami akan menghabiskan 4 hari 3 malam di Rinjani, dari Sembalun hingga Senaru. Namun ketika kami tiba di camp dan disambut teman-teman dari Malang dan Kaskuser, rencana itu berubah. Terutama ini karena provokasi Bang Pian (terima kasih Bang!). Kami memang berencana ke Segara Anakan dan menghabiskan malam disana, baru kemudian pagi harinya menuju Senaru. Namun katannya, terlalu sayang jika kami hanya menghabiskan waktu sebentar di Segara Anakan. Justru disanalah anda bisa santai dan berleha-leha. Anda bisa memancing. Anda bisa menikmati pemandian air panas dan Gua-Gua yang masih perawan. Hoho, tawaran yang menggoda. Sepakat. Kami pun memperpanjang waktu satu malam untuk bisa menikmati Segara Anakan.

Lepas makan dan packing barang, pada waktu yang menunjukan pukul 16.00, kami pun menuju Segara Anakan. Plawangan Sembalun menuju Segara Anakan memakan waktu perjalanan 2 Jam dalam waktu normal. Dengan berpamitan kepada teman-teman Malang dan Kaskuser, kami memulai perjalanan. Adapun mereka baru berencana ke Segara Anakan esok harinya setelah malam nanti melakukan Summit Attack. Dari Plawangan menuju Segara Anakan, anda akan dihadapkan pada tebing tebing curam yang menurun tajam. Harus ekstra hati-hati. Beberapa kali diantara kami terjerembab terjatuh. Beruntung tak cedera parah, hanya sedikit luka-luka dan benturan di bagian belakang. Buat saya, medan seperti ini benar-benar tidak bersahabat. Pertama turunan tebing yang terus menerus. Dengan medan ini lutut serasa terus diperas menahan beban ransel dan gravitasi. Habis turun, memang hanya ada beberapa tanjakan kecil, tapi entah, stamina seperti habis. Lelah. Beberapa kali tercecer oleh kawan-kawan di depan, karena sengaja berhenti sejenak membenarkan ransel dan mengatur ritme napas. Entah karena setelah dini hari fisik sudah habis karena summit attack, tapi perjalanan saat itu bagi saya seperti perjalanan terberat selama fase pendakian. Ditambah kami sekali tersesat karena salah mengikuti jalan setapak, membuat mental menjadi down. Benar-benar melelahkan. Dari 2 jam yang direncanakan, kami baru tiba pukul 9 malam. Hampir 5 jam. Semua tenaga seperti habis. Tak berlama-lama segera berbenah menyiapkan tenda dan makanan. Lalu istirahat selepas sholat.

Malam itu benar-benar sepi. Kami lihat sekeliling hanya kami yang berkemah saat itu. Hening. Sama seperti di puncak, malam itu Segara Anakan hanya milik kami ber-4. Ditemani riak-riak air, riuh-riuh angin, dan gemericik ikan-ikan tenangnya Segara Anakan. Beruntung, karena terletak di cekungan, layaknya wadah, cuaca malam itu begitu hangat. Meski diantara kami ada yang tidak memakai sleeping bag karena basah, namun cuaca cukup bisa diajak kompromi.

Diantara hening, kami tidak tahu bahwa ada sekelompok makhluk yang mengintip dan mengendap-ngendap menanti situasi aman terkendali. Monkey Attack! Di heningnya malam, kami benar-benar dikejutkan oleh serangan monyet-monyet tak berperikemanusiaan. Tenda kami diobrak-abrik. Mereka menyerang dari berbagai penjuru. Menaiki tenda, menyerang dari arah kepala, mengacak-acak ransel dan isinya, dan pastinya mengincar beberapa makanan. Tak mau kalah, dari dalam tenda kami pun sibuk bertahan. Memukul meraka dari balik tenda. Mengusir mereka dengan bayangan-bayangan cahaya dari dalam tenda. Cukup lama, sampai akhirnya mereka berhenti sendiri. Entah apakah karena kalah, atau mungkin telah puas mempermainkan kami, monyet-monyet itu berhenti begitu saja. Kami enggan keluar tenda, enggan untuk mengamati sekitar paska penyerangan, khwatir jika monyet-monyet itu menyiapkan serangan dengan memanggil kawan-kawannya. Lebih baik kami bertahan di balik tenda hingga fajar keluar menakuti kawanan monyet itu.

Dan ketika kami keluar, speechless. Entah monyet seperti apa yang menyerang kami semalam. Isi ransel sudah berhamburan keluar. Dan letaknya pun sudah menyebar ke sekeliling tenda. Beberapa makanan telah berhasil mereka angkut. Dendeng, indomie, dan chunky bar telah berhasil mereka rebut. Kami amati lebih lagi, dan ternyata salah satu sudut tenda berhasil mereka lubangi. Sial. Cukup besar pula. Licik. Beraninya keroyokan.

battlefield

Cukup lama membahas si Monyet, dan berencana menyiapkan balas dendam, tapi apalah kami ini hehe. Saat itu memang hanya tenda kami yang ada di-TKP. Lain dibanding di Plawangan, dimana banyak tenda berdiri. Selain itu di Plawangan, ada beberapa kawanan anjing yang ternyata menjadi senjata ampuh pengusir monyet. Dengan adanya beberapa anjing berseliweran, rupanya monyet takut untuk mendekati tenda. Tapi ketika di Segara Anakan, jangankan anjing, manusia pun rupanya hanya kami ber-4. Tak mau berlama-lama dalam bahasan si monyet, pagi itu kami siapkan makanan terbaik dari yang pernah ada sebelumnya. Bahan makanan terbaik kami keluarkan. Ada cumi yang menanti dibumbui, ditambah pancingan-pancingan ikan dari Segara Anakan. Maknyus!

Sesuai dengan tujuannya, bahwa Segara Anakan adalah tempat untuk bersantai. Maka hari itu kami habiskan untuk bersantai. Memancing, bersih-bersih, makan enak, tidur siang, dan berendam air panas. Mana ada pergi ke gunung kemudian menyempatkan mandi. Tapi justru di RInjani lah anda akan merasa rugi jika tidak mandi. Ya mandi dan berendam air panas. Hanya 10 menit berjalan kaki dari segara Anakan, anda akan tiba di sumber air panas alami. Jika anda pernah berkunjung ke Ciater, di Subang Jawa Barat, maka disini tempatnya lebih yahud. Lebih alami. Lebih panas. Lebih menggoda. Betul-betul meluluhkan laktat. Nikmat. Seperti di recharge kembali. Tenang – melayang – serasa terbang. Mana ada pula, ketika naik gunung ada acara tidur siang hehe. Dan itu hanya terjadi di Rinjani. Selepas berendam, maka akan sangat nikmat untuk direbahkan dalam nikmatnya tidur siang. Benar-benar balas dendam dari lelahnya perjalanan sebelumnya.

————-

Beranjak dari Segara Anakan menjelang sore. Kira-kira pukul 16.30. Tujuan kami berikutnya adalah menginap di Pos III Mondokan Lolak ke arah Senaru. Dari waktu normal  4 Jam, ternyata 5 jam kita habiskan. Itupun hanya sampai di pos IV Plawangan Senaru. Gelapnya malam ditambah angin kencang dan kabut yang membuat jarak pandang hanya lima meter, membuat kami terpaksa menginap dan berkemah di Plawangan Senaru. Tidak adanya air memperparah keadaah. Angin bertiup begitu kencang. Kami benar-benar menghemat air. Membagi jatah untuk masak makan malam dan air minum. Dan diputuskan tak ada air minum malam itu, cukup sari-sari air dari makanan. Huh. Semoga lelah dan tidur bisa melupakan kami dari kehausan.

Jalan menuju Plawangan Senaru pada awalnya anda seperti mengitari Segara Anakan dengan berjalan ke arah Barat. Memang dari perjalanan akan terlihat sangat indah Segara Anakan dengan gunung barunya. Namun kondisi jalannya sama ekstrimnya dengan turun dari Plawangan Sembalun ke Segara Anakan. Tapi kali ini jalannya naik, menanjak, dari ketinggian kira-kira 2200 mdpl ke 2600 mdpl. Kali ini, benar-benar kekuatan tangan dan kaki digunakan. Three point contact untuk memanjat. Dahsyat, memang lengkap benar medan Rinjani. Ketika anda harus ekstra kuat menjaga three point anda untuk memanjat, anda juga harus hati-hati, karena sisi kiri anda adalah tebing curam. Ditambah gelap gulita, sedikit saja lalai, maka bisa terjadi celaka. Hal yang tentunya tak diinginkan.

Bermalam di Plawangan Senaru benar-benar memberikan hikmah. Kami akhirnya bisa menemui sunrise yang indah. Ditambah cuaca cerah, sehingga puncak pun terlihat begitu gagahnya terlihat. Di Utara terlihat tiga pulau gili berderetan serasa memanggil, diakhiri oleh undakan Gunung Agung. Nice view. Sayang dilewatkan untuk mengambil gambar hehe.

mentari dibalik puncak rinjani dan dihampar segara anakan

Ini hari terakhir kami di Rinjani dari yang direncanakan, dan memang benar. Kami tak mau berlama-lama. Bukan tak ingin menikmati Rinjani lebih lama, tapi perbekalan makanan yang menipis, dan juga keinginan untuk mengunjungi destinasi wisata lainnya di Lombok. Jadi cukup 5 hari saja.

Plawangan Senaru menuju Pos Registrasi di Senaru memakan waktu 7 jam. Target jam 14.00 WITA kami harus sudah sampai, karena dari kordinasi sebelumnya kami sudah meminta untuk dijemput oleh teman Mataram kami di Senaru jam 14.00. Dari Plawangan hingga Senaru jalan akan terus turun. Dengan medan berupa sedikit bukit-bukit berbatu, kemudian jalan setapak yang merupakan aliran air hujan, baru kemudian memasuki hutang Lindung. Sumber air cukup banyak di rute ini. Dua kali kami mengisi ulang air minum dari sumber yang ada di sepanjang perjalanan. Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki lainnya. Dan yang kami amati, hampir semuanya wisatawan mancanegara. Yang kami ingat hanya sepasang suami istri yang merupakan produk dalam negeri. Ya ditambah porter-porter dan para guide. Selebihnya adalah wisatawam asing. Jangan – jangan memang kebanyakan penikmat alam di Indonesia adalah wisatawan asing, sebagaimana destinasi wisata Gili Trawangan yang “dikuasasi” wisatawan asing, ataupun resort-resort Pulau Moyo yang juga dikelola oleh mereka.

Dan langkah demi langkah terus kami lalui. Turunan demi turunan kami lewati. Turun memang lebih cepat dibandingkan naik. Tepat waktu sesuai rencana, jam 2 kami tiba di pos Senaru. Kawan kami, Andi sudah duduk tersenyum menanti kedatangan kami. Alhamdulillah. Segala puji bagi-Nya. Perjalanan panjang ini berhasil kami lewati. Selamat sehat wal afiat. Sedikit goresan luka di sekujur tangan, lecet di kaki, membekunya ujung-ujung jemari, menjadi saksi perjalanan panjang ini. Terima kasih ya Allah atas karunia-Mu mengizinkan kami menginjak di ciptaan-Mu yang indah. Berjuta hikmah berjuta petuah. Terima kasih.

Next: Gili Trawangan.
“buat monyet-monyet nakal, tunggu pembalasan kami! :D”