Terpaksa ke Gili dan nyimpang di Bali – Catatan Perjalanan Pendakian Rinjani (Bonus)


papan pemberitahuan selamat datang di Gili Trawangan

Berpedih-pedih di Gunung, saatnya menikmati semilir angin di pantai. Yup, sayang sekali jika ke Lombok hanya mengeksploitasi Rinjani. 5 Hari di gunung (2 November – 6 November), kini saatnya menjelajah pantai-pantai di Lombok. Banyak destinasi wisata yang indah dan primadona di Lombok. Untuk pantai, pantai barat menuju utara Lombok adalah yang paling ramai dan sudah terkenal, seperti Pantai Senggigi dan juga Pantai-pantai di kepulauan Gili. Adapun di daerah timur dan selatan Lombok, pantainya tidak kalah indahnya – bahkan masih sangat alami – karena belum banyak wisatawan yang mengunjunginya (itu kata teman saya, Bang Andi, yang menjadi petunjuk kami berwisata di Lombok).

Karena waktu yang membatasi, termasuk budget juga sih hehe, kami memutuskan untuk mengunjungi GIli Trawangan. Pulau terluar dan terbesar dari tiga gugusan Kepulauan Gili. Terletak di sebelah barat laut Lombok, tiga gugusan pulau Gili menawarkan penosa pantai yang indah. Dari mulai yang terdekat, Gili Air, Gili Meno, dan GIli Trawangan. Dan ketiganya memiliki sajian pantai yang relatif masih alami, terawat, dan bersih. Airnya yang masih jernih, dan terumbu karang yang masih terawat, jadi surga bagi para penyelam ataupun hanya sekedar snorkelling mengelilingi batas luar pantai Gili.

Kali ini kami mengunjungi GIli Trawangan, pulau terjauh dari tiga deretan GIli. Gili Trawangan relatif lebih ramai dibandingkan GIli yang lain dan lebih bersahabat secara dompet dengan Pulau Gili lainnya. Alasan lain, Gili Air dan Gili Meno, karena masih sepi, katanya banyak diisi oleh  pasangan-pasangan yang bulan madu. Haha, jadi tidak cocok buat kami yang jomblo-jomblo ini😀. Dari segi akomodasi dan penginapan, GIli Trawangan pun lebih ramai dan lengkap, dengan jumlah penduduk lokal yang paling banyak diantara ketiga pulau lainnya.

Untuk menuju Gili Trawangan, Anda harus menggunakan perahu boat sewaan dari pelabuhan Pemenang. Perahunya cukup besar, memuat sampai 40 – 50 orang penumpang. Tarif penyebrangan resmi adalah 10 ribu rupiah. Hanya saja tiket resmi hanya bisa dilayani di loket pelayanan dari pagi jam 8an hingga pukul 3 sore saja. Diluar waktu itu Anda harus nego sendiri dengan para calo ataupun nelayan yang ada disana, berapa harga tarif yang harus dibayar menuju GIli Trawangan. Sekedar saran, karena pasti lebih mahal, sebisa mungkin nego mendekati angkat 10 ribu dan tidak lebih dari 20 ribu. Karena saat itu kami pun baru tiba di Pemenang jam 4 sore, kami pun harus membayar tiket lebih dari 10 ribu untuk bisa menyebrang ke Gili Trawangan. Total waktu penyebrangan kira-kira 30 -45menit, bergantung pada kondisi ombak.

perahu membawa penumpang menelusuri Gili

subhanallah indahnya matahari terbenam-Mu

Di Gili Trawangan, kami tiba menjelang malam, ketika sunset. Berniat untuk meng-capture Sunset, tapi sayang hasrat untuk segera mencari penginapan – untuk menyimpan barang bawaan – lebih menggebu. Meski kuat 5 hari menanggung ransel, tapi sudah sampai Gili, bawaannya ingin santai menikmati pantai.

Penginapan di Gili Trawangan sangat bervariasi, mulai dari yang bintang lima hingga ekonomis dan sangat ekonomis. Paket gembel juga bisa hehe, tinggal mendirikan tenda saja di tepi pantai, pasti maknyus. Bosan tidur di tenda, cukuplah kami mencari penginapan yang sangat ekonomis. Rata-rata penginapan untuk kelas ini dimulai dengan harga 100 ribu per malam untuk dua orang. Fasilitasnya kipas angin, kamar mandi dalam, listrik, dan satu  buah kasur untuk berdua. Jika ingin diisi untuk lebih dari dua orang , bisa menggunakan kamar sama, namun menyewa kasur tambahan (extra bed). Tak mau rugi, kami hanya ingin mendapatkan kamar yang 100rban tapi bisa dimasuki berempat tanpa nambah biaya extra bed. Cukup lama berputar-putar, dengan negosiasi yang alot, akhirnya dapat juga. Kalo gak salah nama penginapannya melati cottage. Negonya cukup alot, beruntung ada Kang Gumilar Rahmat Hidayat, mantan menteri ekonomi Kabinet Mahasiswa ITB 2009-2010. Buat apa setahun jadi menteri nego sana-sini, nego penginapan gak bisa? Bukan begitu Kang Gumi, hehe.

Gili Trawangan memiliki penduduk yang sedikit. Penduduk aslinya didominasi oleh masyarakat muslim. Ordenya hanya ribuan penduduk lokal. Dan tentu akan meningkat karena datangnya wisatawan. Wisatawan yang ada di GIli Trawangan bisa dikatakan didominasi oleh wisatawan asing. Sepanjang mata memandang kerumunan, didominasi oleh bule-bule setengah buligir. Kira-kira prosentasenya 3:1. Karena itu, hiburan disini memang betul-betul mengakomodir keinginan mereka, pub, bar, minuman keras, dan hal lain yang memang menurut bule-bule itu lazim dan harus ada untuk mengisi liburannya. Dan karena itu, jika diamati siklus hidup disana seperti setengah kelelawar. Jika kelelawar itu full keluar semaleman, dan tidur full tengah hari, disini para wisatawan berpesta hingga dini hari sampai jam 3-4 subuh. Setelah itu tidur, dan baru pada bangun kira kira menjelang tengah hari jam 10 atau 11 siang. Ini kami dapat dari perbincangan dengan seorang penduduk lokal ketika sarapan. Merasa aneh saja, kok pas waktu sunrise dan pagi, yang biasanya di pantai lain yang pernah saya datangi – Pangandaran, Sanur, Anyer, Carita – itu ramai, disini nampak sepi dan masih lengang. Jadi pagi itu, mumpung lengang, waktu yang asyik buat mengelilingi Gili dengan menyewa sepeda. Dan lagi-lagi Kang Gumi bisa menegosiasikan untuk bisa nego nyewa sepeda dengan harga sangat miring. Miring banget lah pokonya mah. Lumayan cocok untuk olahraga pagi, mengurai laktat di kaki, dengan mengelilingi pulau 6 km persegi.

si tuan teuas lagi mencicipi joging di pantai Gili

empat pemuda tanggung menikmati pantaiMengelilingi Gili Trawangan, cukup dikelilingi dengan sepeda kira-kira 1 – 2 jam. Betul pantai – pantai dan kawasannya masih belum banyak dieksploitasi. Tapi tadi, infrastrukturnya sudah cukup lengkap. Ada Pembangkit listrik sendiri. Jalan-jalan yang relatif sudah bagus, meskipun beberapa masih ada yang belum teraspal, jadi kayuhan sepeda cukup berat karena mengayuh di pasir pantai. Ada Beberapa villa dan cottage terlihat ada yang sangat pribadi, terpisah dari keramaian. Namun kebanyakan villa dan penginapan menyatu dengan keramaian, dekat dengan pemukiman penduduk dan kawasan pasar (souvenir). Altternatif lain selain sepeda, kita bisa menikmati mengelilingi Gili Trawangan dengan menggunakan delman. Tidak ada motor, karena katanya regulasi disana menyebutkan tidak boleh ada kendaraan bermotor. Kebijakan yang baik untuk menjaga lingkungan dan kelengangan Gili. Untuk makanan, tentunya biasanya kawasan wisata, di tempat-tempat makanannya harganya relatif mahal. Tapi jangan takut, di Gili Trawangan, ada beberapa warung lokal yang tak terpengaruh akan hal itu. Harganya relatif terjangkau. Salah satunya yang terkenal adalah warung Mama. aktivitas penduduk bersatu dengan wisata Flat harganya, 8 ribu -10 ribuan. Nasi bisa banyak, lauk bisa variatif, kantong backpacker abis lah hehe. Meski demikian, tak afdhol kalau melewatkan menyantap seafood ketika di sini. Nego-nego dikit, kami dapat merasakan paket makanan 100ribu rupiah untuk berempat dengan komposisi ikan (lupa namanya) yang besar dan cumi yang lumayan juga, beserta nasinya. Pokoknya, sudah sah ke pantai ketika sudah makan seafood😀.

Kontur pantai Gili cukup unik. Seorang teman menyatakan mirip gelas pesta. Jadi cukup rawan bila terkena gempa.  Terdapat lengkungan yang cukup dalam di struktur pulaunya. Hal ini bisa dibuktikan ketika Anda bersnorkeling di kawasan pantai Gili Trawangan. Anda akan menjumpai kontur pantai yang tiba-tiba langsung menjadi kawasan laut dalam. Beberapa meter dari garis pantai, oke masih dangkal, tapi kedangkalan itu tidak mulus dengan sedikit-demi sedikit semakin dalam, tapi akan langsung anjlok ke laut dalam. Terlihat dari luar – dari daratan – , ketika matahari cerah, kita bisa membedakannya dari warna bias air yang dipantulkan air laut. Biru muda untuk pantai dangkal, dan biru tua untuk yang dalam. Hal ini sangat menarik. Terutama ketika kita menyusuri –melalui snorkeling atau diving- batas batas antara laut dangkal dan laut dalam. Kita akan menemui kura-kura yang habitatnya ada pada perbatasan tersebut. Dan jangan ragu-ragu untuk bersnorkelling, biaya sewa peralatannya sangat murah, hanya 25rb – 30rb seharian penuh. Dari jam 9 pagi hingga pukul 5 sore. Sepuasnya.

Kami hanya menghabiskan waktu di Gili satu hari satu malam. Cukup untuk menikmati Gili Trawangan lewat bersepeda, menikmati seafoodnya, dan bersnorkling. Rasa penasaran akan indahnya Gili terpenuhi. Budget yang kami keluarkan pun ternyata cukup hemat juga untuk liburan yang menyenangkan. Kami harus segera menuju Bali, sebelum berikutnya menuju Surabaya dan pulang ke Bandung menggunakan kereta. Kami menuju Bali menggunakan kapal, dari pelabuhan Lembar di Lombok ke Padang Bai di Bali dengan tiket perorang 31rb rupiah. Perjalanan sendiri memakan waktu 4 – 5 jam. Dengan estimasi tersebut kami ingin tiba di Denpasar subuh, sehingga bisa memanfaatkan waktu cukup banyak di sana, nyimpang kebeberapa destinasi wisatanya, sebelum malam hari menuju Surabaya dari Denpasar. Strategi ini adalah strategi backpacker, dimana sebisa mungkin memanfaatkan waktu perjalanan untuk berisitirahat atau tidur. Dan cocok sekali jika fase perjalanan itu dilakukan di malam hari.

berpoto di depan gapura selamat jalan di Gili Trawangan .. bye bye

perjalanan pulang menuju pelabuhan pemenang

sunset lagi di belakang gunung agung

sebelum menyebrang ke bali

Tak banyak tempat yang kami kunjungi di Bali. Berbekal waktu dari pagi hingga sore saja, dan motor sewaan, kami mengunjungi beberapa tempat saja. Pertama, menitip barang di kampus Udayana. Kemudian bergegas melesat menuju ke Kintamani. Banyak cobaan menuju Kintamani. Mulai dari ban sepeda motor yang bocor, nyasar, dan juga hujan yang lumayan deras. Dari Kintamani, belok sebentar ke Ubud. Menyaksikan desa wisata dan juga mengunjungi “monkey forest”. Tak berlama-lama di Ubud bergegas mencari masjid. Dan yang saya ketahui itu ada di Sanur. Sekalian makan siang menjelang sore, kami berisitirahat sejenak di Sanur untuk sholat dan makan. Dan finally, mengunjungi Kuta. Belum sah kalau ke Bali belum berkunjung ke Kuta. Apalagi saat itu waktu menjelang maghrib, saat yang tepat berburu sunset. Lumayan lama juga di Kuta. Destinasi terakhir sebelum meninggalkan Bali.

di kuta bali menikmati semilir angin

Liburan yang menyenangkan. Wareg lah kalau kata orang Sunda. Sudah berikutnya tinggal menikmati perjalanan pulang ke Bandung. Menggunakan bus dari Denpasar ke Surabaya, dilanjutkan dengan kereta dari Surabaya menuju Bandung. Alhamdulillah.

———–