Bobotoh Indonesia


Bismillahirrahmanirrahiim

Deg-degan. Itu mungkin perasaan pemain timnas saat ini hingga saat menjelang pertandingan melawan Malaysia. Tapi mungkin deg-degan itu juga kini yang dirasakan oleh hampir seluruh bobotoh timnas Indonesia. Pembelajaran (ngotot belum ngaku kalah :D) dari Malaysia 0-3 di hari Minggu kemarin, serasa menampar harapan negeri ini untuk menjadi kampiun kejuaraan AFF atau Tiger Cup sepanjang sejarah untuk pertama kalinya. Dan juga momentum kembalinya negeri ini meraih titel dalam sepakbola yang telah lama tak hinggap kepada pasukan Garuda. Ya, semoga pembelajaran itu sangat berharga dan menyadarkan kembali bahwa perjuangan belum usai, masih ada harapan untuk menang dan juara. Masih ada 2 x 45 menit ditambah injury time yang masih bisa diperjuangkan.

Sebelum pertandingan lawan Malaysia kemarin, pasukan Garuda benar-benar seperti diagungkan dan dijunjung ke langit ke tujuh. Sensasi Irvan Bachdim dkk benar-benar melupakan duka negeri ini. Yang kalau  kata S.Ito di detik.com, penampilan timnas sangat menggembirakan, sehingga kegembiraan itu adalah kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Irvan Bachdim, Christian Gonzalez, Okto Maniani, Firman Utina, kontan menjadi selebritas instan. Wawancara dari berbagai media datang dan pergi bergantian menghampiri para punggawa timnas. Euforia itu terus membuncah, dari media ke media. Dari headline news ke headline news. Newsticker pun terus mengulas timnas. Tak ketinggalan infotainment juga hadir dan sama-sama nimbrung membuntuti timnas ini. Dahsyat. Semua rakyat berharap sangat besar pada para pesepakbola ini. Seolah semua beban masalah negeri ini diletakan di pundak mereka. Ya, karena disadari atau tidak, rupanya kita lupa dengan  masalah amoralnya Gayus, masalah asusilanya Ariel, masalah pembatasan Premium, meroketnya harga cabai, banyaknya gagal panen di berbagai sektor pertanian, dan masalah-masalah lainnya. Ya kita lupa, karena fokus kita saat ini adalah prestasi timnas yang sedang menanjak. Hingga saatnya kemarin kita disadarkan oleh pembelajaran 0-3 di Bukit Jalil. Pembelajaran yang menyadarkan kita untuk kembali membumi.

Bola memang bundar. Dipandang dari berbagai sisi, bula tetaplah bundar. Hanya sayang saja, di Indonesia katanya, bola yang bundar itu diberi sentuhan politik, sehingga bola itu tidak sepenuhnya bundar. Begitu kata rekan saya di salah satu milis. Ya. Dan Alfred Ridel pun mengakuinya, terlalu banyak campur tangan dalam sepakbola negeri ini. Dan sayangnya campur tangan itu adalah hal non-teknis. Sudah tak perlu dijelaskan hal non-teknis apa yang terjadi pada timnas kemarin sebelum pertandingan melawan Malaysia. Kita sudah sama-sama tahu, bahwa ketua PSSI kita adalah orang yang kelewat budeg. Dan juga keras hatinya untuk mengakui sebuah kesalahan dan kekeliruan. Wajar jika salah seorang pengamat sepakbola ada yang mengatakan, Timnas kita mungkin bisa bagus dan berkembang, tapi tidak dengan PSSI-nya.

Ah sudahlah. Semoga tulisan ini di menjadi demotivasi. Ngga penting juga mengomentari PSSI, lebih baik menyemangati para pemain tim nasional kita. Masih ada 90 menit kawan. Dunia telah membuktikan, dengan comebacknya MU di 3 menit terakhir untuk mencetak dua gol di Final Liga Champion 1999. Dunia juga telah membuktikan, bahwa dengan defisit 3 gol di babak pertama, Liverpool mampu membalikan keadaan di babak kedua untuk kemudian tambil sebagai juara di Liga Champion 2005. Esok, Rabu, buktikan bahwa GBK adalah panggung anda. Bermain bola lah. It’s just a game, ada menang dan ada kalah. Sportiflah, karena olahragawan sejati adalah yang menghargai kemenangan dan tidak menyalahkan kekalahan.

Karena,
Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas.
Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran.
Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada.
Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita (S.Ito)

Sampai bertemu di GBK kawan!🙂