Don’t Judge someone by his cover!


Bismillah,

Sore itu, lain dari biasanya. Tiba-tiba saya ingin mencuci motor. Bukan mencuci sendiri, tapi ke tempat cuci motor di daerah buahbatu.  Lain dari biasanya karena terus terang jarang sekali saya cuci motor. Mungkin lebih dari 2 bulan terakhir motor saya nggak dicuci. Alesannya sih hujan hehe. Tapi inti cerita ini buka cuci motor. Cuci motor hanyalah media yang mengantarkan saya ke peristiwa ini.

Sambil nunggu cuci motor, saya duduk di kursi tunggu. Sembari ngeliatin mamang yang cuci motor, saya buka buku yang belum beres saya baca. Bukunya Pak Prof Zuhal, yang berjudul “Meningkatkan Daya Saing Indonesia”. Belum beres satu halaman, tiba-tiba datang seorang Pak Tua (ini nih aktor utamanya). Pak Tua ini nawarin buku tentang bacaan shalat. Dengan halus saya menolaknya. Okei tidak masalah kata Pak Tua itu. Lalu Pak tua itu bertanya, lagi baca buku apa? Saya tunjukin bukunya. Wah bagus nih katanya bukunya untuk bisnis. Kemudian perbincangan berlanjut ke pertanyaan dari bapak tua itu kepada saya. Mulai di mana kuliah, sibuk apa sekarang, mau kemana setelah kuliah. Perbocangan lebih ke satu arah, interograsi dari Pak Tua itu kepada saya.

Saya tidak menyangka begitu “capetang” (bahasa sunda yang berarti bicaranya lancar dan cerewet) Pak tua itu ngomong. Tapi bukan tak berisi, justru sangat berisi dan berpetuah. Mulai dari membahas jurusan saya kuliah, yakni Penerbangan. Wah katanya bagus tuh Penerbangan itu, anda nantinya pasti akan jadi orang teliti. Buktinya pilot-pilot itu orang yang teliti, yang manajemen resikonya bagus. Pilot adalah orang yang hati-hati, karena selain memikirkan keselamatan dirinya, juga memikirkan keselamatan penumpangnya. Terus dia juga bilang seorang pilot itu fokus. Sama dengan hidup harus fokus.  Gak bisa dia sembrono, dan lain-lainnya. Terus, nah kalo penerbangan itu harus jago integralnya, differensial, ya kalkulus gitu. Juga Fisikanya harus jago. Wah si Bapak keren juga nih wawasannya.

Terus nyambung ke kedepannya, si Bapak nanya mau apa ntar abis kuliah? Simpel saya jawab jadi dosen aja Pak. Spontan Pak Tua itu menjawab bagus. Katanya kalo jadi dosen ilmu kita itu kepake. Beda dengan bekerja. Biasanya kalo bekerja itu ilmunya banyak ngga kepake. Terus si bapak “ngacapruk” ngomongin tentang jurusan IPA dan IPS. Bicara kalau sekarang di Inggris itu buat masuk olahraga terutama bola, harus dari IPA, Kenapa saya bilang? Iya, coba liat Beckham dengan tendangan bebasnya. Itu kan curve katanya. Nah harus pake perhitungan gak bisa asal. Hmm, ya angguk saya. Percaya-percaya aja deh. Terus nyambung ke pembicaraan tentang kerja yang nyambung dengan bidang waktu kuliah atau nggak. Katanya nggak penting kerjaan itu nyambung atau nggak dengan kuliah. Coba kita liat katanya, menteri-menteri yang ada sekarang. Emang banyak yang sesuai bidangnya? Nggak kan! Soalnya para menteri itu tatanannya kebijakan bukan teknis, jadi nggak penting bidangnya sesuai. Dia punya anak buah, dan anak buah itu yang memberikan masukan teknis. Dan kebijakan itu berbeda dengan teknis, yang strategis itu dari kebijakan. Jadi dibutuhkan yang wawasannya luas.

Wah, saya manggut-manggut aja terus. Terus terang kaya interograsi, satu arah aja. Tapi terus terang saya kagum. Maaf Pak Tua, saya tidak mebeli buku Bapak. Maaf pula jika awalnya saya skeptis terhadap Bapak. Raut muka yang tua, bersendal jepit, dengan tas yang kumal, tapi sungguh pikirannya luas, omongannya lugas dan penuh keyakinan. Terakhir yang saya ingat dari perkataannya sebelum Bapak tua itu pamit adalah, terus kerja keras jangan menyerah. Tanpa raut muka yang mengeluh – karena bukunya tak dibeli – justru bapak itu seperti tak rugi untuk berbagi. Tak ada raut kecewa, tak ada keberatan untuk berbagi. Semuanya sangat jelas, ikhlas dari hatinya, untuk memberikan pelajaran bagi saya yang muda ini.

Terima kasih Pak Tua. Memang hikmah itu ada dimana-mana. Dan milik siapa saja yang mau mengambilnya. Terima kasih ya Allah, sungguh benar bahwa dalam segala peristiwa itu selalu ada hikmah bagi orang yang berakal. Terus berjuang Pak Tua, seperti petuahmu : Terus kerja keras dan jangan menyerah!