SBY nggak doyan cabe!


Bismillah,

“Ngapain ngurusin cabe. Capek. Mending ngurusin pemilu 2014. Lebih nguntungin buat saya, buat keluarga saya, buat anak cucu saya. Cabe naek? Urusin aja ndiri. Daripada ngurusin cabe, mending juga ngurusin setgab. Lebih strategis. Kan keputusan di dewan bisa kita atur dari setgab. Ngapain juga ngurusin cabe. Ngga ada duitnya. Cabe? Capee deh!”

Mudah-mudahan selentingan pikiran di atas, ngga ada di pikiran Pak SBY. Tapi apakah iya? Hanya Pak SBY dan Tuhan yang tahu. Tapi emang gila ya harga Cabe Rawit alias cabe domba, lebih mahal dari harga daging sapi. Pantes aja, 2 hari yang lalu, ke warteg minta sambel, eh kata si Ibu nya, maaf sekarang ngga bikin sambel. Cabe mahal. Wew. Terus terang saya juga termasuk yang khawatir akan naiknya cabe. Maklum ownernya Ramen Rider😀. Kok bisa ya cabe naek semahal itu? Tidak ada pasokannya kah? Permintaan meningkat, produksi berkurang kah? Ada yang nimbun kah? Atau disengaja kah? Permainan politik kah? Ah tak tau juga.

Tak pantas saya berbicara tentang naiknya harga cabe. Apalah saya ini. Bukan ekonom. Bukan petani. Bukan pollitisi. Apalagi pemimpin negara. Eh, tapi kan bagus ya, kalau harga cabe naik.,Petani cabe makmur, keuntungan meningkat? TIDAK. Sama sekali tidak. Jauh dari sejahtera. Harga cabe yang melonjak dari 50ribu per kilogram menjadi 100ribu per kilogram ternyata tidak turut serta menaikan taraf kehidupan mereka. Kenapa? Justru alasan cabe naik, kalau kata media sih, di pasaran cabe langka. Karena petani yang menanam cabe yang sering gagal panen karena anomali cuaca. Jadi, ya petani cabe ternyata kebanyakan justru kehilangan mata pencahariannya dari menanam cabe.

Menyedihkan. Sangat menyedihkan. Karena saya rasa ini bukan sekali dua kali. Mungkin bukan hanya cabe. Siklusnya berganti-ganti. Mulai dari cabe, mungkin berganti bawang, berganti tomat, mungkin berganti telur atau bahan sembako lainnya. Dan yang menyedihkan, juga seringkali beras naik harganya dan hilang di pasaran. Keterlaluan. Kenapa? Negara ini negara agraris, negara yang katanya subur dan kaya akan kekayaan alamnya. Negara yang pernah swasembada beras, tapi seringkali kesulitan beras di pasaran.

Saya sangat setuju dengan tulisannya Pak Zuhal, dalam bukunya “Meningkatkan Daya Saing Indonesia”, bahwa negara ini seolah enggan untuk berinvestasi dalam pangan. Mungkin perlu diulang : PANGAN. Ya, pangan dan turunan-turunannya. Negara kita lebih senang menenggelamkan uang nya dalam teknologi. Sebut saja handphone. Akses handphone sudah menjelajah hingga pelosok desa. Sehingga, maaf, petani yang mungkin belum membutuhkan handphone, kini lebih memprioritaskan mengisi pulsa dibanding membeli pupuk. Yang entah mungkin pulsanya pun diisi untuk mendaftar REG_CABE!

Ya negara ini aneh. Dari buku itu dikatakan, Negara ini pernah menjadi swasembada beras, tapi beberapa tahun kemudian mengimpor beras. Bahkan hingga dikategorikan sebagai produsen beras yang mengimpor beras paling banyak. Kita tak mau belajar rupanya dari Thailand. Lihat Thailand yang saat ini menguasai bioteknologi di bidang buah-buahan dan sayuran dengan buah berlabel Bangkoknya. Jambu bangkok, apel bangkok, pisang bangkok, apapun bangkok. Padahal sebelumnya, buah-buahan itu tak tumbuh di Thailand. Namun dengan sentuhan teknologi mereka mengimpor bibit dari mana-mana dan mengolahnya sehingga menjadi buah berkualitas, hingga berhasil mengekspornya. Seharusnya kita lebih mampu. Dengan dikaruniai negara agraris, kita lupanya terlena. Terlena dengan asumsi bahwa matahari dan cuaca akan terus nyaman. Padahal bukan suatu hal yang tidak mungkin, buat para ahli ilmuan bioteknologi kita untuk merekayasa cabe tahan hujan? Atau mungkin beras dengan waktu tanam singkat? Ya, dan lagi-lagi saya baca di buku itu, pemerintah atau negara kita minim dukungan terhadap perkembangan bioteknologi. Apalagi yang menyangkut pangan. Jangan heran kalo misal kejadian kemarin, dimana sebuah keluarga tewas karena keracunan tiwul, muncul dimana-mana di negeri ini.

Negeri ini di 2010 begitu muram. Kasus hukum, politik, bencana, semua silih berganti. Mungkin cukup manis, di akhir tahun dihadiahi prestasi timnas yang cukup memuaskan bagi sebagian kalangan. Tadinya berharap di awal 2011 banyak cerita manis menghiasi media di negeri ini. Tapi kenapa rupanya masih muram juga. Ya sudahlah. Bagaimanapun ini Indonesia saya. Semoga tidak menjadi apatis. Lebih baik bicara, daripada diam dan tidak peduli.

 

dan langit pun menjadi saksinya!

 

terima kasih timnas sepakbola indonesia. kalian telah memberikan sedikit sunggingan senyum di bibir kami. Walaupun entah mengapa, kok masih ada saja yang enggan mendengar. #NurdinTurun#