Hari ini (mulai) macet lagi…


Bismillah,

Hari ini Bandungku mulai macet lagi. Kalo dua minggu kebelakang macet nya agak berkurang. Sekarang macetnya makin macet lagi. Ya betul bagi Anda yang menebak bahwa hari ini anak sekolahan udah mulai beraktivitas kembali. Terus terang 2 minggu kebelakang jalanan di Bandung agak lengang, meski tidak bisa dikatakan tidak macet. 2 minggu kebelakang, anak-anak sekolahan, SD, SMP, SMA lagi pada asyik liburan sekolah. Dan tentu, bukan hanya anak-anaknya yang libur, perangkat sekolahnya pun libur. Mulai dari gurunya, pegawai sekolahnya, bahkan mungkin sampai pedagang-pedagang yang turun mengais nafkah di depan pintu sekolah juga ikut-ikut liburan.

Sederhana saja, kita coba hitung berapa sih anak sekolahan di kota Bandung? Asumsi aja nih mulai dari SMA. SMA negeri ada 26, pukul rata penduduknya tiap sekolah ada 1000, berarti ada 26000 anak SMA negeri. Pukul rata SMA swasta ada 24 SMA, dengan penduduk 1000 juga, berarti 24 ribu, total 50 ribu. Belum termasuk SMK baik negeri maupun swasta. Pukul rata jumlahnya sama dengan penduduk SMA, berarti sudah mencapai 100 ribu orang di tingkat ini. Sekarang kita lihat SMP. Di SMP sekurang-kurangnya ada 52 SMP negeri. Kita pakai asumsi yang sama dengan SMA, kita kalkulasikan bahwa jumlahnya total 100 ribu juga. Oke, daripada bingung juga ngitung anak SD, asumsi samain juga 100 ribu. Berarti total 300 ribu anak sekolahan beserta perangkatnya hilir mudik kembali di Bandung hari ini. Tentu ini asumsi minimal, karena yang saya tahu biasanya penduduk SD lebih banyak dari SMP, dan penduduk SMP lebih banyak dari penduduk SMA. Berarti pasti lebih dari 300 ribu penduduk berkeliaran kembali.

Bisa anda bayangkan seperti apa lalu lintas Bandung? Memang belum sepadat Jakarta, yang SMP nya saja sampai orde ratusan. Tapi kita lihat proporsinya pun, luas Jakarta itu berkali-kali luas Bandung. Dan tadi balik ke atas, 300 ribu penduduk berkeliaran kembali tentu dengan menggunakan kendaraan. Asumsi saja setengahnya lah yang menggunakan kendaraan pribadi, sisanya pakai angkutan umum. Wuih 150 ribu kendaraan masuk jalan lagi. Ya wajar saja sangat tinggi asumsinya. Kita lihat saja mungkin di sekolah-sekolah kini udah kaya showroom motor hehe. Parkir motor udah mengalahkan luas taman sekolah mungkin. Bahkan mungkin di beberapa sekolah “elit”, showroom mobil juga panjang memarkir di sepanjang jalan sekolah.

Tidak ada yang bisa disalahkan, terutama bagi para pelajar dan masyarakat. Ya mereka hanya pengguna kendaraan-kendaraan bermotor itu, baik mobil ataupun motor. Apalagi ditambah saat ini pengadaan kendaraan bermotor untuk roda dua begitu mudah didapatkan. Dibebaskan uang muka, kredit ringan, ada cash backnya juga, semakin lah tergiur buat tiap anggota keluarga punya motor masing-masing satu. Ditambah lagi “keanehan” kebijakan dari pihak polisi dan aparat yang sangat “mudah”-nya untuk membuat SIM. Ditambah lagi sebentar lagi ada kebijakan pemerintah untuk mewajibkan mobil berplat hitam untuk harus mengisi pertamax. Komplit dah. Jangan heran jika sebentar lagi motor-motor semakin merajalela, meskipun saat ini sudah dirasa sangat menjadi raja jalanan. Peluang sih bagi yang jeli, bahwa bisnis yang berkaitan dengan motor pasti menjanjikan. Cuci motor, jual helm, cuci helm, tambal ban, variasi, bengkel, suku cadang, onderdil, ya apapun lah yang ada kaitannya ama motor.

Ya, ini menurut saya PR bagi pemerintah. Dari dulu sih, cuma entah kenapa enggan juga membenahi. Bagai menelan ludah sendiri, karena beginilah kota Bandung saat ini. AKibat dari regulasi yang tidak jelas mau dibawa kemana kota ini. Pembenahan lalu lintas yang amburadul, sarana prasana jalan yang tidak diperbaiki, alih-alih buat membenahi sarana transportasi umum. Subway mungkin? kereta kota mungkin? Ya Entah kenapa, sepertinya pemerintah, baik kota ataupun provinsi, ataupun RI, enggan untuk melakukan suatu revolusi jangka panjang yang menfaatnya jangka panjang. Semuanya sibuk untuk saat ini. Ya mungkin untuk cari aman, biar posisinya juga aman.  Jangan heran jika bandung khususnya saat ini dan sebentar lagi, sudah bagai kota “metal” ngikutin Jakarta. Macet total!