Dago – Cikapundung (Part 1)


Bismillah,

Tulisan ini bukan mengupas jurusan angkot Dago-Cikapundung. Pertama karena angkotnya pun tidak ada; dan kedua karena satu daratan dan satunya lagi perairan dan belum ada kendaraan amphibi di Indonesia yang dijadikan angkot hehe. Dago – Cikapundung adalah rute perjalanan yang saya jalani di hari Sabtu, 15 Januari 2011 kemarin. Dimulai dari terminal dago hingga ke curug Dago yang merupakan aliran sungai Cikapundung. Sabtu itu, secara sengaja saya mengikuti jalan-jalan santai bernama Geotrek. Heh, apaan tuh Geotrek?

Geotrek adalah jalan-jalan “berbobot” yang diprakarsai dari komunitas atau perkumpulan ilmuan yang meneliti tentang cekungan Bandung. Kenapa berbobot, karena selama perjalanan kita tidak hanya dimanjakan oleh pemandangan yang indah buah dari perjalanan, tapi juga oleh hal-hal mengenai kenapa, apa, bagaimana rute  yang kita telusuri itu sebelumnya. Know what, know why, and know how. Trek-trek atau rutenya sendiri diambil dari Buku Wisata Bumi Cekungan Bandung, yang disusun oleh Pak Budi Brahmantyo dan Pak T.Bachtiar. Keduanya pun adalah peneliti cekungan Bandung dan menjadi intrepreter selama jalan-jalan Geotrek ini. Total ada 9 Trek besar yang tertera dalam buku itu. Dimana trek-trek besar tersebut bisa dipecah masing-masing menjadi dua atau lebih. Adapun trek Dago-Cikapundung ini diambil dari trek besar 3, dan merupakan Geotrek yang ke-6.

The intrepreter : Pak Budi dan Pak Bachtiar

 

Perkenalan dengan Geotrek bermula dari ketertarikan saya melihat foto teman di Facebook. Fotonya tersebut berlatarkan hulu sungai Citarum di daerah Sanghiangtikoro di deket Saguling. Sudah lama saya ingin berjalan-jalan kesana, terlebih Ayah saya pernah bercerita tentang daerah tersebut sebagai tempat kaulinan dikala kecil. Telusur lebih lanjut, ternyata teman saya itu mengikuti suatu kegiatan yang bernamakan Geotrek. Mulailah saya menjerumuskan diri untuk berusaha  ngikut kegiatan Geotrek. Dan dengan gigih menemukan bahwa Geotrek selanjutnya akan dilakukan pada 15 Januari 2011 dengan rute Dago-Cikapundung. Langsung saja RSVP attending di undangan event-nya hehe😀

Geotrek VI dimulai dengan berkumpul di depan terminal Dago pukul 7 pagi. Acara ini pada prinsipnya adalah BS-BS atau bayar sendiri sendiri. Artinya setiap ongkos perjalanan, makan siang, jajan selama perjalanan, akomodasi semuanya ditanggung sendiri. Nah meski demikian, ada syarat untuk mengikuti kegiatan ini, yakni memiliki buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Jadi tiketnya adalah menunjukan buku tersebut. Yang belum punya jangan khawatir, di TKP kita bisa langsung membeli bukunya dengna harga diskon. Kerjasama ini dilakukan dengan penerbit Truedee Pustaka yang menjadi penerbit buku tersebut. Kompensasinya, kita ikut Geotrek, dapet pin Geotrek dan juga air mineral bekal selama perjalanan.

Rute kali ini cukup dekat katanya dibandingkan rute Geotrek V sebelumnya yang menuju daerah PLTA Saguling. Rute geotrek kali ini dimulai dari Terminal Dago kemudian jalan ke atas menuju Dago Pakar dengan melewati mantan tempat pembuangan sampah kota Bandung dan juga tugu KQ 380 (apaan tuh?). Dari Dago Pakar atau Tahura kemudian turun melintasi PLTA Bengkok atau PLTA Dago, dan berakhir di Curug Dago. Tempat-tempat tersebut mungkin cukup familiar dan pernah kita kunjungi berkali-kali, tapi apakah kita tahu “apa” dibalik tempat tersebut? Karena itulah Geotrek ada, melihat sisi geologi dari cekungan Bandung dengan mengaitkannya dengan sejarah Bandung dan berbagai masalah sosial dan lingkungan yang melandanya saat ini.

Perjalanan baru dimulai pada pukul 8. Setelah sebelumnya dilakukan briefing dan juga kata-kata mutiara dari panitia pelaksana. Kali ini peserta yang datang tidak kurang dari 50 peserta mengikuti Geotrek kali ini. Padahal sebelumnya di RSVP sudah melebihi 100 orang. Karena itu mendekati hari-H panitia menyetop registrasi, khawatir semakin banyak dan tidak terkendali. Walaupun kenyataannya kekhawatirannya tersebut tidak terjadi. Peserta sendiri terdiri dari berbagai kalangan. Ada mahasiswa tentunya, karyawan atau pekerja, peneliti Geologi, pecinta alam, wartawan, komunitas Aleut, komunitas Damas – komunitas masyarakat  sunda -, dan ternyata di tengah perjalanan wakil walikota Bandung pun, Pak Ayi Vivananda, mengikuti perjalanan hingga finish di Curug Dago. Yang cukup menarik juga, ternyata ada yang berdomisili di Jakarta, menuju ke Bandung untuk ikut Geotrek ini. Salute!

Tempat pertama yang dijajaki adalah mantan tempat pembuangan sampah Bandung. Letaknya kira-kira 200 meter ke utara dari terminal Dago.  TPS ini sudah ada sejak tahun 80-an, dan kini sudah ditutup, dipindahkan ke Leuwigajah, kemudian Pasirimpun dan kini di sekitar kawasan Rajamandala. Kini tempat itu sudah rata atau mungkin diratakan dan ditimbun dengan tanah. Diatasnya sudah ada bangunan-bangunan liar, dan juga ada lagi gundukan sampah liar yang cukup tinggi. Nah TPS ini secara lingkungan sangat tidak baik, karena pengelolaannya tidak baik. Sampah terus ditumpuk, baru setelah sekian lama ditimbun tanah atau dikenal dengan open dumping. Padahal proses pengelolaan yang lebih baik adalah dengan sanitary landfill, yakni sampah harian kemudian ditutup dengan tanah tiap hari juga, jadi seperti membentuk kue lapis. Area itu kini memang sudah tidak terlihat seperti TPS lagi. Tapi jika kita turun ke bawah, ke sebelah timur TPS, dimana ada sebuah sungai dekat dengan pemukiman warga, sudah sering mengalir air lindi atau air dari resapan sampah. Yang tentunya sangat tidak baik bagi sanitasi masyarakat. Apalagi jika masyarakat menggali sumur sebagai sumber air mereka di sekitar tempat tersebut.

Berikutnya, kita berjalan terus dan tiba di komplek SD di daerah Dago Pakar Timur. Namana daerahnya kalo gak salah daerah Kordon. Nah pasti kalo kita berhenti di suatu tempat, pasti ada sesuatu di balik tempat tersebut. Dan betul, di tempat lapang yang terbuka sebelah resto Sierra dibelakang sekolah, kita diberikan penjelasan oleh Pak Budi dan Pak Bachtiar mengenai ada apa sih di tempat tersebut dahulu kala. Puluhan tahun yang lalu, ratusan tahun yang lalu, bahkanpuluhan ribu tahun yang lalu. Dilatari cekungan Bandung dan landscape pegunungan  yang sangat jelas melingkari Bandung, kita diberikan penjelasan mengenai manusia purba yang berada di area tersebut. Seperti diketahui, bahwa dulu cekungan Bandung adalah sebuah danau purba yang sangat luas. Dimana antara daerah Dago atau tempat kita jajaki saat ini dengan daerah Nagreg di barat atau Malabar di Selatan dihubungkan oleh air. Jadi perairan menghampar seluas itu. Yang menarik, ternyata dari penelitian Van Koenigswald, seorang arkeolog asal Jerman yang turut meneliti di Indonesia di awal tahun 1900an, bahwa di area itu adalah area “industri” dari peralatan purbakala. Didaerah tersebut ditemukan berbagai perkakas dan sisa-sisa perkakas seperti mata panah, alat potong purba, yang digunakan oleh manusia saat itu untuk berburu atau bertahan hidup. Dan ternyata lagi, bahan dasar atau batu-batu yang digunakan itu -batu berjenis oksidian-, dari hasil penelitian para geolog, paling dekat ditemukan di daerah Nagreg. Belum jelas lantas kenapa manusia saat itu jauh-jauh membawa bahan dasar itu untuk diolah di “industri” yang ada di sekitar Dago.

Langit cekungan Bandung

Masih ditempat ini Pak Bachtiar juga menjelaskan mengenai kondisi lingkungan Bandung yang sudah semakin semrawut, menyinggung udara yang semakin panas, juga isu-isu pendirian PLTSa yang tidak ramah lingkungan. Bandung dengan kontur yang seperti mangkok, dengan mayoritas penduduk mendiami mangkok tersebut, akan sangat dirugikan dengan adanya asap PLTSa. PLTSa yang memanfaatkan insinerator atau pembakaran sampah bersuhu tinggi, tentu akan menghasilkan asap yang akan terus berputar di sekitar Bandung. PLTSa yang diletakan di dataran rendah, di daerah Gedebage yang ketinggiannya hanya 600 mdpl, dan mungkin dengan cerobong asap yang hanya puluhan meter, sangat tidak mampu untuk melarikan asap agar bisa keluar Bandung atau keluar keatas menuju atmosfer. Fenomena itu sebetulnya telah kita alami saat ini, hanya saja tidak kita sadari. Ketika malam hari, dimana kondisi di cekungan lebih hangat dibandingkan di atasnya seperti Lembang dan daerah lainnya. Maka asap-asap hasil buangan kendaraan di siang hari tidak bisa keluar dan terjebak di cekungan. Akibatnya secara tidak sadar di malam hari di lelapnya tidur kita, kita berkecamuk dengan asap-asap hasil buangan di siang hari. Wajar jika kemudian Bandung semakin panas, terlebih penghijauan ataupun taman-taman kota kini beralih menjadi Pom bensin. Maka kata Pak Bachtiar jangan disalahkan jika prestasi ataupun keramahan warga kota Bandung menurun. Karena panas, tentu kita akan mudah berkeringat dan juga menyebabkan terpacunya jantung bekerja lebih cepat. Akibatnya kita jadi sulit untuk berkonsentrasi sehingga wajar jika anak-anak Bandung kesulitan belajar. Dengan semakin panas juga tentu temperamen akan meningkat. Lihat saja kenyataannya di perempatan lampu merah saat ini, sudah berseliweran tak taat aturan. Sangat logis dan sayangnya pemerintah kota seperti buta terhadap hal tersebut.

Masih di area Kordon. Kemudian kita memasuki kompleks sekolah dasar. Ternyata dikompleks sekolah ini ada lagi benda bersejarah. Hari itu hari sabtu, dan kebetulan sekolah pun tidak libur. Di pelataran sekolah ramai orang tua murid menunggui anaknya pulang. Di sisi lain sebagian murid-murid dengan seragam pramukanya bersiap berbaris menerima instruksi kakak pelatih berlatih pramuka. Peserta Geotrek bergerombol memasuki kompleks sekolah. Cukup terkejut dan terheran-heran anak sekolahan tersebut dengan kedatangan tamu tak diundang – dan banyak pula. Diujung kelas yang cukup terpecil, terletaklah sebuah tugu kecil bertuliskan KQ380.  Tugu itu adalah tanda yang dibangun Belanda sebagai penanda titik-titik di kota Bandung. Mungkin jika saat ini seperti tugu nol kilometer di Asia Afrika. Jadi jauh sebelum beberapa penanda geografi dibangun oleh pemkot, Belanda juga telah memetakan beberapa titik penanda kota Bandung. Benda itu menurut saya adalah benda bersejarah, dan mungkin bisa dijadikan sebagai pembelajaran untuk melihat kembali kota Bandung tempo dulu. Tapi sungguh menyakitkan, bahwa tugu itu tak terurus sama sekali, dibiarkan begitu saja. Masih untung tidak dirobohkan atau dihancurkan. Bukan mustahil karena ketidaktahuan, suatu saat tugu itu secara sengaja dihancurkan. Dan bukan hanya tugu itu saja saya kira di Bandung ini, monumen-monumen bersejarah atau heritage yang penuh arti dan makna dibiarkan begitu saja untuk kemudian dihancurkan. Tengok saja saat ini pemandian (kolam renang) cihampelas yang sudah rata dengan tanah. Kemudian juga kolam renang centrum di jalan belitung yang kini sedang dihancurkan untuk dibangun area komersial. Dan juga beberapa bangunan Braga yang dulunya menjadi semacam napak tilas bangunan lama zaman Belanda, nampaknya kini perlahan mulai dipugar dan “dimodernisasi”.

Ya, mungkin itu semua karena ketidaktahuan. Atau mungkin sengaja tidak diberitahukan.Melupakan sejarah atau dibodohkan tentang sejarah. Sangat sayang kota Bandung yang penuh sejarah, penuh Landmark dan penuh cerita kini hanya dikenal sebagai kota FO atau kuliner saja. Memang Landmark itu dibentuk penjajah. Tapi menghancurkannya bukan hal yang bijak. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari landmark-landamark peninggalan mereka.

Masih ada tiga tempat yang akan dikunjungi. Perjalanan belum setengahnya dan masih panjang. Ceritanya pun masih panjang hehe. Masih ada THR Juanda, PLTA Bengkok dan Curug Dago. Insya Allah cerita berikutnya disambung ditulisan berikutnya😀. Have a nice day!