Dago – Cikapundung (Part 2)


Dari tulisan sebelumnya, perjalanan sudah sampai di Tugu KQ380. Tugu yang berfungsi seperti tugu nol kilometernya Bandung saat ini yang ada di jalan Asia Afrika, hanya saja dibuat oleh kolonial Belanda. Tak jelas maksud dari huruf dan angka yang tertera dalam tugu itu, mungkin hanya nama penanda saja. Perjalanan berikutnya adalah Tahura atau Taman Hutan Raya Ir.Djuanda. Jalanan dari Dago Timur memotong ke perkampungan penduduk menuju ke Tahura. Jalanan cukup menurun terjal, dan tentu diimbangi dengan tanjakan yang cukup buat hah heh hoh para peserta. Bukan jalan raya lagi, tapi jalan setapak yang hanya cukup dilalui dua orang berdampingan. Melewati kandang sapai, menyebrangi kembatan kayu, ada juga terowongan dari beton dengan panjang hanya 2 -5 meteran. Meskipun hah heh hoh, tapi perjalanan harus dinikmati. Kata Pak Bachtiar, kalaupun perjalanan itu melelahkan tapi coba saja nikmati. Kalau tidak bisa mintalah kepada Tuhan agar bisa memberikan kenikmatan dalam perjalanan. Nice quotes. 

salah satu sudut tahura dengan pinus-pinus menjulang

Tiba di Tahura hari sudah menjelang siang. Memang belum waktunya makan siang, tapi buat saya udah ngurubuk nih perut meminta jatah rutinnya. Beruntung di Jajal Geotrek kali ini kita diberikan free ticket untuk masuk ke Tahura, alhamdulillah ada koneksi dari dalam hehe. Tahura atau taman hutan raya bisa dikatakan satu-satunya taman hutan atau mungkin taman kota yang tersisa dan terpelihara dengan cukup baik di Bandung. Areanya adalah area kabupaten bandung barat, tapi dengan jarak yang relatif dekat dengan kota Bandung, saya yakin bahwa THR Juanda ini berperan sangat penting dalam mereduksi polusi di kita Bandung. Tahura berdiri sejak 1912, dengan area yang cukup luas. Didalamnya kini ada museum Pak Djuanda, mantan menteri di era Soekarno dan tokoh Jawa Barat sekaligus nama yang diabadikan untuk taman ini. Yang cukup terkenal tentu di tempat ini adalah Goa Belanda dan Goa Jepang. Dua Goa peninggalan kolonial yang digunakan untuk kepentingan mereka. Sebetulnya kurang tepat disebut Goa, tapi lebih tepat disebut sebagai terowongan, terutama untuk Goa Belanda. Goa belanda ini memanjang lurus dari timur ke  barat dan dulunya digunakan sebagai terowongan untuk mengalirkan air, yang kemudian terus dialirkan hingga ke PLTA Bengkok dibawah THR Djuanda. Kemudian beralih fungsi menjadi sarana pertahanan dari serangan Jepang. Adapun Goa Jepang, adalah goa yang buntu yang memang sedari awal disiapkan oleh Jepang sebagai sarana pertahanan. Secara geologi, menurut Pak Bachtiar dan Pak Budi, kedua penjajah itu pintar dalam membuat Goa yang terletak di Tahura. Batuan yang ada diatas Goa itu batuan yang cukup kuat secara struktural (saya lupa alasan jelasnya hehe), jadi memang cocok untuk dijadikan sebagai Goa. Adapun kata Pak Bachtiar, diliat dari batuannya, batu-batu yang membentuk Goa itu adalah lava hasil letusan gunung Bandung Purba yang terlempar dan membentuk batuan seperti itu. Wah dahsyat sekali, material letusannya sebesar itu.

Lumayan cukup lama waktu dihabiskan di Tahura, bercerita tentang proses pembentukan sungai tua dan sungai muda di hulu cikapundung. Mengamati jenis-jenis pepohonan yang ditanam di THR Djuanda. Hingga pukul 13.00 waktu di Tahura. Sudah makan siang, sholat dan berfoto-foto seluruh peserta Jajal Geotrek VI. Bermain-main di Tahura, terakhir saya lakukan ketika masih tingkat 1, di tahun 2006. Hampir 5 tahun tidak mengunjungi Tahura, dan kini ketika berkesempatan kembali masuk ya masih begitu-begitu saja. Tahura adalah taman hutan kota sekaligus juga sarana wisata. Sayang keduanya kurang dioptimalkan oleh Pemerintah Daerah. Terutama untuk wisata, saya masih menemui adanya ‘guide-duide baong’ yang tidak tanggung-tanggung ketika menyewakan senter di Goa dengan harga mahal. Tanpa ada perjanjian di awal, berapa harga penyewaan di awal, tiba-tiba di akhir pengembalian ditagih sejumlah uang yang irasional. Kerap hal ini menimpa wisatawan yang tidak tahu, apalgi bule. Sikap ini secara tidak langsung membuat ketidaknyamanan bagi pengunjung, dan lambat laun juga pasti akan membuat antipati para pengunjung pada ‘guide-guide baong’ ini.

goa belanda dan goa jepang

di depan tugu djuanda : foto bersama

~  ~

Puas di Tahura, selanjutnya perjalanan dilanjutkan dengan menuruni tangga seribu ke PLTA Bengkok. Apakah tangganya ada seribu? Ternyata banyak yang menghitung jumlahnya hanya 700an hehe. Mungkin males sebutnya karena kepanjangan dan susah diingat, jadi cukup disebut saja “Tangga Seribu”. Tangga ini berdampingan dengan pipa tua yang sudah tidak digunakan lagi. Dahulu pipa tua inilah yang mengalirkan air dari atas, dari kolam tenang di Tahura, menuju ke turbin -turbin di PLTA Bengkok. Memamnfaatkan efek ketinggian, penjajah Belanda dengan baik mengalirkan air dari ketinggian melalui pipa menuju turbin untuk membangkitkan generator yang akan menghasilkan listrik di PLTA Bengkok. Dan PLTA bengkok ini cukup untuk mengalirkan listrik untuk rumah-rumah di area Dago dan sekitarnya. Kini Pipa tua itu tak digunakan lagi. Ada pipa di dalam tanah yang digunakan untuk mengalirkan air-air dari Tahura ke turbin di PLTA. Beruntung kita bisa masuk ke PLTA Bengkok yang restricted area, bahkan hingga bisa masuk ke jeroan-jeroan ruangan operasionalnya. Lebih lagi salah satu jajaran direksinya bersedia bercerita lebih tentang PLTA Bengkok, dan juga menyediakan cemilan nikmat di akhir penjamuan hehe. Lanjut…

tangga seribu dan pipa pesat

Lanjut menuju Curug Dago, tempat terakhir Jajal Geotrek kali ini. Ternyata eh ternyata, ada sejarahn yang tersimpan di Curug Dago ini. Padahal saya masih ingat dulu waktu ospek jurusan, saya menggunakan salah satu spot di curug Dago untuk mengadakan kegiatan. Karena tidak tahu dan menganggap bentang alam biasa saja (curug biasa aja), bahkan  airnya sangat kotor oleh berbagai macam kotoran manusia, ya jadi tidak aware. Padahal dan ternyata, ada prasasti yang terletak di Curug Dago dan merupakan peninggalan Raja Thailand. Nih saya copas langsung infonya dari panpel tentang apa sih yang tersimpan di Batu prasasti itu :

“Coporo 34 Ra Sok 120”

Begitulah bacaan inskripsi yang ditatah pada bongkah batu andesit di Curug Dago dalam karakter huruf Thailand. Dari informasi yang didapat melalui ahli batu mulia, Sujatmiko, tulisan Thai kuno itu diinterpretasikan sebagai: Chalacomklao Paramintara (Chulalongkorn) 34 Ratanakosin 120 yang diartikan sebagai kunjungan Raja Rama V (Raja Chulalongkorn) pada usia 34 tahun dalam rangka peringatan Kerajaan Siam Rat…anakosin ke 120 tahun.

Raja Rama V adalah raja yang sangat dihormati orang Thailand. Patungnya yang sedang menunggang kuda di Bangkok selalu ramai dikunjungi masyarakat. Mereka menabur bunga, mendoakannya, dan bersembahyang di bawah patungnya, terutama pada hari Won Piya Maharaj atau Hari Chulalongkorn yang jatuh setiap tanggal 23 Oktober, tanggal wafatnya pada tahun 1910.

Sungguh kehormatan besar bagi Bandung ketika Sang Raja besar Siam berkunjung ke Curug Dago dan membuat batu bertulis. Kerajaan Siam berdiri tahun 1782. Peringatan berdirinya Kerajaan Siam ke-120 bersamaan dengan tahun 1902. Namun angka 34 yang tadinya diduga usia Sang Raja menjadi tidak tepat, karena pada 1902 itu, usianya adalah 49 tahun.

Kalau sempat menonton film “Anna and the King” yang dibintangi artis kawakan Jodie Foster dan Chow Yun-Fat, kita akan mendapati bagaimana Pangeran Chulalongkorn yang masih anak-anak dibentuk karakternya melalui pendidikan modern oleh seorang ibu guru bangsa Inggris, Anna Leonowens (diperankan Jodie Foster) atas undangan langsung Raja Mongkut sendiri (diperankan Chow Yun-Fat). Raja Mongkut, ayah Pangeran Chulalongkorn, dikenal sebagai Raja yang berwawasan luas yang ingin anak-anaknya yang jumlahnya 67 dari belasan isteri dan puluhan gundik, mendapatkan pendidikan modern tanpa kehilangan adat ketimuran.

Nah itu tuh ceritanya. Ternyata dulu Raja Thailand pernah berkunjung kesini. Seorang Raja pernah berkunjung ke tempat ini, bisa dikatakan bahwa dahulu mungkin curug Dago adalah tempat yang bagus, minimal dari segi pemandangan. Dan sangat bertolak belakang dengan kondisi hari ini. Gak tau gimana kalau Raja-Raja itu berkunjung sekarang hehe, kayanya bakal diangkut tuh prasasti ke Thailand, karena kondisinya yang tidak terurus. Berbicara sejarah dan juga wisata sejarah, tentu kita lebih sering mendengar dukanya dibanding sukanya. Kurang diminatinya museum, kurang penghargaannya pemerintah pada gedung-gedung heritage, ataupun alokasi dana yang minim untuk pengelolaan dan penjagaan barang-barang sejarah. Padahal wisata sejarah jika dikelola dengan baik tentu akan menghasilkan PAD yang cukup besar. Di Curug Dago juga hal yang sama terjadi. Memang ada penjaga situs/prasasti Raja Thailand tersebut. Namanya Mang Lili (bener kan?😀 lupa euy). Mendengar cerita dari beliau, ya tadi, banyak dukanya dibanding sukanya. Meskipun beliau mendapat SK dari pemerintah provinsi untuk menjaga situs itu, tapi katanya untuk honornya, mending diambil langsung untuk beberapa bulan, Karena jika diambil perbulan, mahal diongkos pengambilannya. Sukanya, ya kalau ada kunjungan seperti ini katanya, ada sedikit saweran dari para pengunjung. Ya tapi itu hanya sekali-sekali dan sangat jarang. Wajar sangat jarang, karena memang promosi tentang hal ini sangat minim, bahkan tidak ada.

Perjalanan berakhir di Curug Dago. Penutupan dan pulang. Tentu diberikan kesempatan bagi para peserta yang ingin mengungkapkan kesan dan pesan selama Jajal Geotrek ini. Ada perwakilan media, ada peserta nubie, dan juga penutupan dari para intrepreter, Pak Budi dan Pak Bachtiar. Satu mutiara yang saya ingat dari Pak Bachtiar, adalah kutipan dari Albert Heim, geologist Swiss, yang mengatakan, “Memandang alam dengan pengertian akan membuat kita takjub”.

Alam memang terkembang tuk menjadi guru. Sejatinya guru kehidupan. Dan sangat jelas bahwa Allah menciptakan alam sebagai sarana pembelajaran bagi manusia, untuk mengoptimalkan akalnya. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi ; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Al-Baqarah 164)
Insya Allah, next Gunung Padang!😀 Be there!