A B C D E


Bismillah

Bagi yang nebak tulisan ini tentang alphabet, jelas bukan. Ini tentang kisah hidup. Flashback waktu zaman kuliah dulu. Meskipun sekarang juga masih kuliah, tapi dengan jenjang yang berbeda. Ya kisah kuliah sarjana. Kuliah S1 di Teknik Penerbangan ITB. Jurusan keren, jurusan sexy kalau kata Almarhum Prof. Said D. Djenie (Ketua BPPT), dan tentu jurusan paling tinggi di ITB setelah Astronomi (lho?).

Sudah tentu masa kuliah bisa dikatakan masa untuk memperebutkan nilai A, B, C, D, dan E. Tentu yang dicari adalah nilai A. Dan nilai D dan E adalah nilai yang dihindari, sedangkan nilai B dan C adalah nilai perjuangan, Alhamdulillah masih bisa lulus. Meski seringkali dosen berkata kalau kuliah jangan cari nilai, karena kepahaman pasti linear dengan nilai yang dihasilkan, tapi tetap saja mahasiswa tidak bisa munafik untuk berlomba-lomba mencari nilai A. Bahkan kalau perlu, nyari kuliah yang kejar Paket A. Dimana itu terbukti di tingkat 4, dimana salah satu kuliah umum yang peserta kuliahnya mencapai ratusan, karena menjanjikan paket A haha. Mana ada mahasiswa yang tidak mau transkripnya diisi oleh rentetan nilai A.

Sesuai judul, A B C D E, adalah nilai-nilai yang pernah saya dapatkan di perkuliahan. Alhamdulillah pengalaman saya lengkap. Saya pernah merasakan semua nilai itu selama kuliah di Teknik Penerbangan ITB. Kalau boleh dibilang, transkrip saya colorful – berwarna – paripurna. Bahkan, ketika kurikulum ITB pun berubah dalam memberikan nilai, yakni adanya nilai AB dan BC, saya pun pernah mendapatkannya. Jadi nilai saya di transkrip A AB B BC C D dan E. Komplit! Untungnya yang A dan B lebih banyak dibanding nilai lainnya, jadi IPK masih dikategorikan lebih dari cukup untuk seleksi PNS🙂 .

Tentu, nilai D dan E ini selalu diingat sejarahnya, alasannya, dan juga lika-likunya kenapa saya bisa mendapatkan dua nilai tersebut. Memang aneh ya otak manusia, pasti sangat hapal dan mampu mengingat lebih lama hal yang jelek dibanding yang baik. Orang sering lupa untuk membuang sampah pada tempatnya, padahal anjuran untuk dilarang membuang sampah sembarangan sudah dimana-mana. Mungkin kosakata ini bermakna positif sehingga sulit diingat, beda kalo anjurannya mungkin selamat membuang sampah sembarangan -nampaknya orang pasti lebih ingat kata-kata itu (mungkin). Makanya kemudian timbul ajaran : Anti Marketing. Metode marketing yang antipati namun ternyata justru lebih mengena. Seperti, Jangan baca buku ini atau Jangan beli buku ini. Pasti orang – orang penasaran untuk membelinya.

Ups, ternyata bahasannya jadi melantur. Back to D and E. Nilai D dan E saya cukup diwakili oleh masing-masing satu mata kuliah. Satu di tingkat TPB. Satu lagi di tingkat Sarjana. Nilai D diwakili oleh Kalkulus II. Masih inget dosennya : Pak Muchlis. Subhanallah Bapak Dosen ini, tapi entah kenapa saya nggak ngerti-ngerti ya ajarannya hehe. Yang jelas saya sering mengantuk pas Pak Dosen ini mengajar. Baik, bahkan sangat baik nih Dosen. Tak pernah marah – apalagi mengusir mahasiswa walaupun ada yang tertidur. Salah satu hobinya ketika ngajar adalah ngasih tebak-tebakan. Mirip TTS. Mendatar dan menurun, terdiri dari berapa kotak. Yang paling saya ingat juga, jurusan saya sekelas dengan teman-teman IF. Teman-teman IF ini cukup aktif dalam merespons pertanyaan si Bapak dengan TTS-nya, sedangkan teman-teman Penerbangan termasuk saya, lebih asyik tunduk – mengamati – penuh tatapan kosong (mengantuk itu artinya😀 ). Jadi wajar si Bapak ini nampak lebih memperhatikan teman-teman IF dibanding PN. Hingga akhirnya pengumuman nilai UTS, dan ternyata antusias tidak sebanding dengan perolehan nilai.  Nilai tertinggi UTS diperoleh oleh anak PN : Mahesa Akbar. Haha terima kasih Mahesa, kamu menyelamatkan muka Penerbangan. Meskipun nilai Mahesa nggak ngaruh terhadap nilai saya yang tetap di bawah standar, tapi tetap kebanggaan haha. Dan saya, tetap berakhir dengna nilai D. Beruntung masih di tahap TPB, jadi nilai D masih dianggap lulus.

Kemudian Nilai E atau nilai 0. Untuk mata kuliah Termodinamika. Ini mata kuliah dari jurusan Mesin, tapi wajib untuk anak Penerbangan. Pasti tiap anak teknik, terutama jurusan-jurusan di FTI dan FTMD dapat yang namanya Termodinamika. Konyol sebenarnya saya bisa tidak lulus mata kuliah ini. Disebut mata kuliahnya susah, ya memang susah. Tapi sayang sekali, saya “dibuat” menyerah sebelum bertanding. Bapak Dosen “takut” menghadapi saya sehingga tidak mengizinkan saya ikut UTS dan UAS (haha.. pembelaan :p). Pengen ketawa sendiri sebenarnya mengingat saya tidak “diluluskan” di kesempatan pertama kuliah ini. Anak PN 2005 pasti paham kenapa saya harus ketawa sendiri, menertawakan diri sendiri lebih tepatnya, stupid mistake. Oh iya nama Dosennya Pak Toto Hardiyanto – disingkat Pak Toto H. H adalah simbol entalpi, satu bahasan dalam termodinamika. Jadi memang bapak ini didesain untuk menjadi Dosen Termodinamika oleh orangtuanya, dengan membubuhkan H dalam namanya😀. Ya memang mata kuliah ini susah, dan terbukti mayoritas teman-teman saya yang lulus pun lolos dengan nilai C. Entah darimana datangnya nilai ajaib itu. Yang jelas lulus dari mata kuliah ini adalah karunia luar biasa. Sangat luar biasa hehe. Untungnya saya bisa lulus dalam kesempatan kedua mengikuti kuliah ini. Dengan dosen yang sama pula. Dapat B pula.😀 . Tentunya mengulang bersama teman-teman seperjuangan lainnya :p

Hidup memang harus dinikmati. Menikmati perjuangan. Perjuangan ketika dibawah, dan juga perjuangan ketika diatas untuk mempertahankannya. Enjoy saja. Mungkin ketika kita mengalami kesulitan, keluh kesah, keringat, penyesalan, dan air mata adalah hal yang wajar dikeluarkan. Tapi rupanya ketika kita berhasil melewatinya, itu menjadi pelajaran yang berharga. Bahkan menjadi sebuah nostalgia yang “menyenangkan” untuk dikenang setelahnya. Seperti kisah D dan E saya diatas sana hehe…

 

 

– Ditulis sambil meng-coding
untuk menghibur dan menyemangati diri sendiri –