Earth Hour, perlukah?


Bismillah,

Sabtu, 26 Maret 2011 antara sadar nggak sadar, masuk parkiran kampus malem-malem, loh kok gelap? Mikir bentar, lalu monolog dalam hati, oh iya yah kan ada Earth Hour hari ini. Awalnya sih mikir mati listrik, karena memang bukan hal luar biasa kalo kampus ITB mati lampu hehe. Oh ternyata kampus ini ada dalam barisan terdepan buat mengkampanyekan Earth Hour. Full gelap gulita.

Earth Hour, adalah kampanye untuk hemat energi – dalam rangka memperingati hari bumi – dengan cara mematikan lampu selama satu jam saja, yakni jam 20.30 – 21.30. Masih ambigu sih, apakah lampu itu diartikan sebagai listrik secara umum, atau hanya khusus lampu saja. Soalnya pengalaman-pengalaman Earth Hour sebelumnya, lampu kamar mati, tapi laptop tetap menyala hehe. Bahkan di Earth Hour 2011 kali ini juga, sy amati dari ponsel, banyak sekali hashtag di twitter tentang Earth Hour ataupun update status tentang Earth Hour. Jadi nampaknya asumsi saya adalah, Earth Hour adalah kampanye matiin lampu, alat elektronik lain tidak apa-apa masih menyala hehe.

Lantas kalau demikian, perlukah Earth Hour? Atau mematikan lampu dalam satu jam (saja) ?

Saya pernah berdiskusi dengna seorang teman, kebetulan anak Elektro tentang wacana ini. Kebetulan teman Elektro saya ini subjurnya juga Power, jadi pasti hapal banget dan nyambung banget bicarain kelistrikan ama dia. Ya kesimpulan yang saya dapat dari obrolan itu, ternyata dengan waktu yang hanya sebentar (satu jam aja), beban untuk menaik turunkan daya di pembangkit dalam waktu singkat akibat perubahan penggunaan daya listrik yang berubah secara signifikan, itu lebih besar dibanding penghematan (mematikan lampu) yang dilakukan selama satu jam. Jadi simpelnya, ketika kita mematikan lampu secara serempak, itu memang akan menyebabkan penghematan yang besar dan terjadi secara drastis. Namun, karena setelah satu jam kita langsung menyalakan kembali listrik itu secara serempak pula, maka juga dibutuhkan kenaikan daya yang besar pula juga. Beda hasilnya jika dilakukan dalam tempo yang waktu yang cukup lama, dan tidak dilakukan secara serempak. CMIIW. Jadi efektif dan efisien kah Earth Hour?

Menurut saya, Earth hour adalah hal yang efektif, setidaknya memberikan penyadaran kepada masyarakat dunia tentang penghematan energi. Tapi belum efisien, karena ternyata secara beban (beban pembangkit – PLN), itu ternyata malah memberatkan. Meski demikian langkah ini perlu didukung, tentunya sembari mencari cara yang lain agar lebih efisien, sehingga penghematan energi di bumi ini memang betul-betul terjadi.

Sebenarnya banyak hal simpel yang bisa kita lakukan untuk penghematan energi. Bisa kita mulai dari diri sendiri, saat ini, dan hal yang kecil-kecil saja. Setidaknya menurut saya ada tiga hal yang bisa kita lakukan,

  1. Mematikan lampu ketika tidur. Masih banyak orang-orang yang membiarkan lampu kamarnya menyala ketika tidur. Padahal waktu tidur nya cukup lama, katakan 4-8 jam. Padahal kan kalau dimatikan, kita sudah menghemat lampu 4-8 jam kali 365 hari. Daya yang cukup besar. Ditambah ternyata tidur dalam keadan gelap juga sangat bermanfaat. Dari berita voa-islam, Mematikan lampu saat menjelang tidur sangat dianjurkan.Hanya dalam keadaan yang benar-benar gelap tubuh menghasilkan Melantonin, salah satu hormon dalam sistem kekebalan yang mampu memerangi dan mencegah berbagai penyakit termasuk kanker payudara dan kanker prostat. Sebaliknya, tidur dengan lampu menyala di malam Hari. Sekecil apapun sinarnya menyebabkan Produksi hormon melantonin terhenti.
  2. Berhenti menggunakan AC. Memang berat untuk tidak menikmati AC, apalagi misal di kota besar seperti Jakarta. Atau ruang kantor yang memang sirkulasi udaranya kurang baik jika tak memakai AC. Ditambah lagi mungkin untuk kota-kota yang bercuaca panas, rasanya AC menjadi suatu kewajiban. Padahal ternyata secara kesehatan, AC ini kurang baik terhadap kulit. Paparan AC yang terus menerus akan menyebabkan kulit iritasi dan kering. Yah karena itu penting juga, minimal ketika kita tidak beraktivitas, ambil contoh lagi tidur, ya AC-nya dimatikan lah.
  3. Yang terakhir adalah berjalan kaki. Nampaknya indeks manusia indonesia dalam bergerak sangat rendah. Artinya bergerak untuk beraktivitas, berpindah dari satu titik ke titik lain. Bisa kita amati dari banyaknya trayek angkot yang beredar di suatu kota. Di kota saya saja, Bandung, trayek angkot sudah sangat banyak. Bahkan ada trayek yang hingga masuk ke komplek-komplek perumahan. Jadi bisa jadi suatu saat angkot ini akan bisa jadi door to door. Karena angkot yang tersedia itu, jadi kita mungkin sedikit-sedikit naik kendaraan. Padhal mungkin jaraknya hanya 200m atau 500m, atau paling jauh 1km. Padahal jarak itu bisa ditempuh dengan jalan kaki 10-15 menit saja. Dan juga padahal, jalan kaki ini adalah olahraga terefektif untuk menekan serangan jantung, stroke, menguatkan tulang agar tak osteoporosis, menstabilkan badan, menghilangkan stress, dan khasiat-khasiat mujarab lainnya.

 

Nah, jadi masih perlukah Earth Hour?