Ramadhan dan Kesabaran


Bismillah,

Ramadhan dan kesabaran. Bagai dua sisi mata uang. Tak terpisahkan. Karena memang esensi dari Ibadah Shaum di bulan Ramadhan adalah menahan makan dan minum dari adzan subuh hingga maghrib, diiringi dengan menjaga akhlak dan mengendalikan hawa nafsu. Dan tentu kesemuanya butuh kesabaran. Sabar menahan lapar, sabar menahan amarah, sabar menahan dari berpikiran jorok dan cabul, sabar dari tindakan asusila, dan bentuk bentuk kesabaran lainnya.

Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu (sia-sia) dan rofats (kotor). Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Barangsiapa tidak dapat meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa) maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya. (HR. Bukhari)

Ya, dan kemarin benar-benar kesabaran saya diuji🙂 Mati listrik hampir 5 jam. di siang hari. Sangat terasa bahwa selama ini Hidup bergantung pada listrik dan pada internet, Ketika listrik mati, benar-benar mati gaya. Jadi bingung apa yang mau dikerjakan. Seharian biasanya didepan komputer, maka ketika mati listrik, otomatis bingung mau ngerjain apa hehe.. Dongkol juga, sedikit meracau menyalahkan bapak-bapak PLN hehe..

Ya, ternyata memang saya belum benar-benar menjadi hamba yang bersyukur. Mati listrik 5 jam saja seperti kehilangan gairah hidup. Seharusnya saya harus bersyukur bahwa mati lampunya hanya 5 jam, itu pun tidak tiap hari dan siang hari. Bayangkan dengan penduduk penduduk di negeri ini, di pelosok negeri yang tidak mendapatkan fasilitas listrik. Yang untuk mendapatkan listrik, harus menggunakan generator diesel. Padahal harga solar sedang tidak bersahabat. Atau mungkin harus menggunakan sinar lampu petromax, yang harus disimpan hati-hati karena khawatir menimbulkan kebakaran. Atau kesulitan-kesulitan lainnya yang sangat jauh lebih sulit, jika dibandingkan dengan mati listrik 5 jam di siang hari!!😀

astaghfirullahaladziim. Ya, sabar dan syukur, dua hal yang memang tak bisa dipisahkan. Dengan bersyukur tentunya kita akan jauh lebih mudah untuk bersabar. Ramadhan memang bulan yang dahsyat. Bulan yang benar-benar menguji kesabaran dan kesyukuran. Kita harusnya sangat mudah bersabar dan bersyukur, hanya mengalami shaum hanya sebulan saja, itupun siang hari saja. Padahal, Belum tentu saudara kita di jalanan yang mengais rezeki dengan berjalan dari tempat sampah ke tempat sampah bisa makan tiap hari dengan jadwal yang teratur. Kita beruntung dan harusnya bersabar dan bersyukur, ketika mendapatkan kemacetan. Toh kita masih di dalam mobil, di dalam dinginnya AC dan tertutup dari terik matahari. Padahal belum tentu saudara kita yang hidup di jalanan, mendapatkan tempat berteduh di siang ataupun malam.

Ya orang yang bersyukur memang sunnatullahnya sedikit,

“Katakanlah, “Dia-lah yang mencipta kan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (akal)”. Tetapi amat sedikit kamu bersyukur.” (QS. 67:23)

Ramadhan masih tersisa 28/29 hari lagi. Semoga kita bisa memanfaatkan momen Ramadhan untuk melatih kesabaran kita dan melatih kepekaan kita untuk senantiasa bersyukur.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?