Accidentally Travelling, Rancabuaya!


Bismillah,

Yosh, satu titik lagi di selatan Jawa Barat berhasil terjamahi. Garut Selatan, Rancabuaya. Atau mungkin saat ini tempat itu lebih populer dengan daerah wisata Pantai Santolo. Pulau terluar Indonesia yang terletak di selatan jawa barat, tepatnya di Kabupaten Garut Selatan, di kecamatan Pameungpeuk.

Kecelakaan perjalananan (perjalanan tak disengaja) menuju Rancabuaya itu terjadi Sabtu kemaren, 3 September 2011, 3 hari selepas lebaran. Pas arus balik lagi rame-ramenya. Kenapa kecelakaan? karena perjalanannya tak direncanakan alias spontan gitu aja. Ceritanya, ayah saya dan kedua adik hendak berburu kambing ke pasar kambing di Banjaran, Bandung Selatan. Selepas dapet kambing yang diincar, ayah saya iseng ngajak ke Pangalengan, jalan-jalan katanya. Itung-itung lebaran ini tak ada planning untuk jalan-jalan. Sebetulnya sempet nolak juga, karena kabar sebelumnya, Soreang – Ciwidey macet parah dan harus ditempuh selama 8 jam. Khwatirnya Banjaran – Pangalengan juga sama, macet parah. Tapi ternyata lancar jaya, Banjaran – Pangalengan ditempuh kurang dari satu jam. wajar sih, objek wisata Pangalengan tidak seramai Ciwidey. Pangalengan hanya “menyediakan” waduk Cileunca, pemandian air panas Cibolang, dan peternakan susu KPBS. Sedangkan Ciwidey, setidaknya ada 3 tempat pemandian air panas, ditambah kawah putih yang sangat indah, ditambah situ patenggang di ujung ciwidey. Apalagi suhu di ciwidey lebih segar dibanding Pangalengan, karena Ciwidey lebih tinggi dibanding pangalengan.

Hendak ke mana kami di Pangalengan? Kami juga tidak tahu hehe, hanya terus jalan saja. namanya juga jalan-jalan. Singgah sebentar di Situ Cileunca, melihat sejenak indahnya waduk buatan peninggalan Belanda. Nah dari sinilah, warga yang mengajak kami ngobrol meracuni kami untuk terus lanjut meneruskan perjalanan ke Rancabuaya. Katanya paling dari Pangalengan ke Rancabuaya hanya 2 jam, ditambah kondisi jalanan yang sudah bagus. Wah teracuni juga nih, apalagi waktu menunjukan baru jam 12. Berarti pulang pergi pun, kira-kira maghrib sudah sampai lagi di Bandung.

Bagi saya, Rancabuaya adalah salah satu titik yang harus dijajaki. Cita-cita saya adalah ingin menyusuri jalur selatan jawa barat, menyusuri pantai mulai dari Pangandaran hingga ke Pantai Carita, dan Rancabuaya adalah salah satu titik yang terlewati. Ditambah kabarnya Rancabuaya ini masih perawan, karena masih pantai liar. paling Pantai Santolo yang agak cukup terkenal karena pernah masuk ke liputan pulau terluar Indonesia. Awalnya saya cukup ragu apakah, Rancabuaya pernah ditempuh hanya dalam 2 jam saja, terlebih saya dan keluarga pernah menyusuri jalur yang hampir serupa, yakni dari ciwidey menuju Cidaun, yakni Pantai di Cianjur Selatan. Hanya saja Pangalengan- Rancabuaya di timur, sedangkan Ciwidey – Cidaun lebih ke barat. Untuk waktu agak cocok jika ditempuh dalam 2 jam, tapi untuk kondisi jalan yang katanya bagus, saya agak sangsi. Karena Ciwidey Cidaun pun jalannya agak cukup parah, dengan kontur berbatu dan berkelok-kelok. Tapi itu 2 tahun lalu, semoga memang kali ini jalannya sudah agak lebih beradab😀

Termakan racun untuk mengunjungi Rancabuaya, kami tancap gas lanjut meneruskan perjalanan. Awal-awal perjalanan jalan memang masih bagus, masih beraspal. Tapi jalur yang menyempit dan juga ramainya kendaraan bermotor, sedikit menjadi kendala terhambatnya perjalanan. Pemandangan perjalanan sebetulnya sangat indah, tapi sayang nggak bawa kamera😦 . Nah baru kira-kira setengah jam perjalanan, jalan-jalan mulai sedikit tidak beradab. Lubang di sana-sini, menyempit dan hanya mampu dilalui oleh satu setengah mobil, kiri kanan tebing dan jurang. Tak jarang sebelah kanan ada bekas longsoran, yang besar kemungkinan longsor lagi kalo hujan deras. Di kiri jalan ada pembatas jalan dari kayu, yang menandai bahaya di kiri jalan adalah jurang! Wohoho jalan yang menantang. Ditambah jalannya berkelok tak berambu, menanjak dan menurun seenaknya. Seru. Apalagi pas nemu mobil berlawanan arah, skill nge-pas jalan benar-benar harus digunakan. Tapi aneh, jalur ini ramai. Ramai oleh kendaraan bermotor yang konvoi, ataupun mobil bak terbuka yang berisikan cukup banyak penumpang di bak terbukanya. Saya yakin tujuan mereka pun sama, Rancabuaya. sama ramainya dari arah berlawanan, arah yang meninggalkan Rancabuaya.

2 jam perjalanan sudah tercapai, tapi ternyata dari informasi warga, Rancabuaya 30 km lagi haha. Kayanya 2 jam itu ditempuh dengan kendaraan bermotor. Mobil nambah 1 jam lagi. Perjalanan dari Pangalengan menuju Rancabuaya kita melalui kecamatan Cisewu, kecamatan Sukaresmi, baru kemudian tiba di Rancabuaya. Daerah tersebut, Sukaresmi dan Cisewu adalah kaki gunung Papandayan. Jadi jalur ini jalur yang memotong gunung papandayan. Dari info pada patok jarak yang terpasang di jalur tersebut, jarak Rancabuaya ke Bandung (Bandung 0 Km di Asia Afrika) adalah 114km. Dan baru 3 jam selepas Pangalengan kami touchdown di Rancabuaya, fiuh. Meleset 1 jam.

Lantas ngapain di Rancabuaya? Nggak ngapa-ngapain, cari masjid, sholat baru kemudian pulang lagi ke Bandung haha. Memang betul-betul spontan, nggak jelas. Hanya memenuhi hasrat penasaran ingin ke Rancabuaya, just it. Perjalanan pulang kami rubah arah, yakni melalui jalur biasa, melewati Kota Garut. Nekat sih, dan yakin bahwa perjalanan akan berlangsung lama apalgi bertepatan dengan arus balik, so pasti MACET. Dan memilih jalur ini karena faktor keamanan, karena kembali lagi ke jalur pangalengan, ayah saya khwatir akan penerangan dan cuaca. Dari patok jalan yang ada, ternyata untuk menuju Bandung itu jika melwati garut kota, jaraknya 180 km-an. Haha, berarti jalur pangalengan itu shortcut banget, hemat 60km-an.

Pulang menyusuri Rancabuaya melwati Pameungpeuk disuguhi pemandangan sisi pantai yang indah. dari Rancabuaya hingga Pameungeuk terus menyusuri pantai, kira-kira 30 km-an. Ya dan memang benar-benar masih liar, wisata masih dikelola seadanya. Dan nampak ramai saya yakin hanya karena lebaran. Jalan dari rancabuaya hingga pameungpeuk sangat bagus dan lebar. baru sehabis pameungpeuk jalanan mulai menyempit dan tak berambu. Kami terjebak malam, dan ternyata jalanan dipenuhi kabut. wah seru pokonya, bergelap-gelapan ditambah jalur yang berkelok-kelok naik turun, harus ekstra hati-hati. Ditambah banyak pengendara motor yang salip kiri kanan. Beruntung kondisi mobil cukup fit, sehingga mendukung perjalanan. Dan sesuai dugaan, jam 8 malam kami terjebak macetnya arus balik di sekitar Leles menuju Ngareg. Alhasil baru jam 1 dini hari kami tiba di rumah kembali. Haha.. perjalanan yang aneh.

No Picture = Hoax ? ya sekali lagi ini perjalanan yang tak direncanakan. Jangankan kamera, kamera handphone pun mati, karena kehabisan batere. Yang jelas keindahan Rancabuaya semakin membuat saya ingin menyusuri jalur selatan jawa barat, mulai dari Pantai Pangandaran, menuju Cijulang, terus ke Cipatujah, pameungpeuk, Rancabuaya, tembus ke Cidaun, ke Sindangbarang, tembus ke Pelabuhan RAtu, Ujung Genteng, lanjut ke Sarwana, Bayah, Carita dan finish di Anyer. Semoga saja bisa tercapai😀