Bandung kini : Macet.


Bismillah,

Sebenernya pengen nulis dari kemaren malam, lantaran tunduh jadi baru bisa nge-note sekarang.

Lebih tepatnya tulisan ini adalah curhat. Curhat buat kota Bandung, juga tentang kota Bandung. Yang kian menunjukan ketidakmampuannya mengimbangi geliat pertumbuhan ekonomi warganya (termasuk pendatang). Bandung yang dulu, 5-10 tahun kebelakang, masih nyaman untuk ditempuh dengan kendaraan bermotor, baik mobil ataupun motor, kini telah berubah layaknya kota Jakarta: identik dengan kemacetan. Terutama pada saat pagi di jam berangkat kantor/sekolah, siang di jam makan siang, dan sore hingga malam di saat bubaran kantor.

Memang di satu sisi kemacetan ini menunjukan pertumbuhan ekonomi warganya. Gampang saja identifikasinya, kendaraan bermotor semakin banyak. Terlepas dari cara mendapat motor yang mudah, dengan downpayment  0 rupiah saja, kini tiap orang bisa memiliki kendaraan bermotor. Hanya saja pertumbuhan ekonomi ini rupanya (entah tak terantisipasi atau memang sengaja tak diantisipasi) tidak mampu diimbangi oleh pembenahan insfrastruktur jalanan di kota Bandung. Rasio panjang jalan dengan jumlah kendaraan yang semakin jomplang, kondisi jalan yang seringkali tidak baik, dan juga traffic light yang kerap tidak berfungsi.

23 tahun hidup di kota Bandung, lebih tepatnya di Bandung bagian selatan, setidaknya memberikan gambaran kondisi kota Bandung sebelumnya. Perlu disadari bahwa kini penduduk kota Bandung jumlahnya telah mencapai angka 2,5 juta jiwa (Agsutus 2011). Ini adalah penduduk ber-KTP kota Bandung. Padahal yang beraktivitas di kota Bandung bukan hanya yang ber-KTP kota Bandung saja. Konon katanya, penduduk siang kota Bandung lebih banyak 500 ribu jiwa dibandingkan di malam hari. Artinya ada mobilitas yang rutin dari 500 ribu jiwa itu menuju dan keluar kota Bandung. Dimana tambahan itu berasal dari daerah-daerah perbatasan kota-kabupaten bandung, yang biasanya terkonsentrasi di Bandung Selatan (terusan Buah Batu, Dayeuh Kolot, Kopo, dll) dan Bandung Timur (Cibiru, Gedebage, dll), yang juga merupakan area pemukiman warga Bandung umumnya saat ini.

Kembali lagi ke kemacetan, salah satu hal yang menyebabkan kemacetan adalah ketidakdisiplinan pengguna kendaraan bermotor. Nerobos lampu merah, mengambil lajur jalan kendaraan lainnya, menerobos trotoar, adalah hal-hal yang sering saya temui di jalanan. Entah mereka tidak mengerti aturan berkendaraan atau mungkin SIM-nya nembak, yang jelas ketidakdewasaan berkendara merupakan salah satu kontribusi kemacetan. Dan ketidakmampuan aparat (pak polisi) mengatur ketidakdewasaan pengendara ini seharusnya diimbangi oleh sistem (teknologi, untuk hal ini traffic light) yang baik. Yang parahnya seringkali traffic light ini tidak berfungsi (entah karena tak ada pasokan listrik), lamanya durasi traffic light yang tidak adil, atau traffic light  yang hanya terus menerus menyala di warna kuning(?). Ketika manusia tidak bisa diatur oleh manusia, maka setidaknya sistem atau teknologi bisa berperan untuk mengatur manusia.

Kondisi diatas sering saya temui di area Buahbatu dan Soekarno Hatta. Sudah 3 hari terakhir ini, untuk melalui 300 meter perempatan buahbatu – soekarno hatta ke arah terusan buahbatu, harus dilalui selama 30 menit hingga 1 jam. Di perempatan Soekarno Hatta saja, ada satu lajur yang lampu hijaunya terus-terusan selama 200 detik (lajur dari Soekarno Hatta timur ke Barat). Di lajur yang lain durasinya kurang dari 60 detik. Hal ini menurut saya fine-fine saja ketika dilakukan di pagi hari, dimana dari arah Soekano Hatta timur memang arus kendaraan sangat banyak. Tapi untuk sore-malam hari, justru yang terjadi kan sebaliknya, arus kendaraan dari arah barat jauh lebih banyak dibanding dari arah timur. Tapi nyatanya traffic light untuk tiap lajur tetap dengan durasi yang sama di pagi hari. Hal yang sama juga terjadi untuk area perempatan Soekarno Hatta dan Buahbatu, terutama dari arah utara (buahbatu) ke selatan (terusan buahbatu).

Saya tidak tahu bagaimana algoritma pengaturan traffic light . Tidak tahu juga dimana traffic light itu diatur dan juga seperti apa sistem kerjanya. Tapi logikanya kan tinggal dibalik saja pengaturan waktunya, dengan sedikit memberikan input waktu pagi hari dan sore hari, sehingga durasinya berganti saat pagi dan sore hari. Daripada capek-capek nurunin polisi, yang terbukti kurang efektif, kenapa tidak mengaplikasikan teknologi yang lebih cerdas. Kemudian seringkali matinya traffic light karena tak ada pasokan listrik, kenapa tidak beralih ke solar energi yang sudah banyak digunakan umumnya untuk lampu jalan di berbagai negara. Kenapa dan kenapa.

Padahal kan Bandung punya banyak universitas yang didalamnya mempelajari pengaturan lalu lintas, Teknik Sipil atau Planologi misalnya, yang seharusnya secara aplikasi teknologi mampu mensiasati masalah-masalah tersebut. Tapi entah kenapa, kok sepertinya seperti tak ada komunikasi atau tak ada koordinasi ataupun kolaborasi untuk mensolusikan masalah-masalah kontemporer di kota Bandung.Ya, hanya bapak-bapak yang terhormat diatas saja yang lebih tahu dan mampu membuat kebijakan. Abdi mah rakyat, ngan bisa ngorejat.

Terus terang saya malu juga sih, saya belum bisa berkontribusi untuk solusi kemacetan ini. Saya juga bagian dari pengguna motor atau mobil yang juga menjadi kontribusi bertambahnya kendaraan di kota Bandung. Ya, mudah-mudahan social media ini menjadi sarana kontribusi, minimal dengan menyuarakan ke-galau-an kondisi kota Bandung. Mohon tanggapannya teman-teman yang berkompeten.

Bandungku, Bandungmu, Bandung kita semua.
your city, your responsibility