Oleh Oleh Ujung Genteng : Gula Merah Kelapa


Tak afdhol jika seusai melakukan perjalanan, tak ada oleh-oleh yang dibagi. Jika tak bisa berbagi barang, ya minimal sebuah catatan perjalanan ataupun ilmu dan khazanah yang bisa dijadikan pelajaran. Ujung Genteng – Sukabumi, Alhamdullah berhasil dikunjungi di penghujung tahun 2011 bersama keluarga. Perjalanan dari Bandung yang memakan waktu kira-kira 6 Jam berhasil dilalui dengan selamat. Ketakutan-ketakutan yang sebelumnya muncul seperti prasarana jalan yang jelek, penginapan yang penuh, atau perjalanan yang jauh dan melelahkan, ternyata tidak benar-benar terwujud. Jalanan cukup bagus, bahkan lebih baik jika dibandingkan jalur selatan lainnya, seperti Pangalengan – Rancabuaya, ataupun Ciwidey menuju Cidaun. Yang sedikit menjadi halangan adalah hujan yang terus turun hampir sepanjang hari, sehingga pantainya kurang bisa utk dinikmati.

Beruntung, ketika pantai tak bisa dinikmati, masih ada sesuatu yang bisa dinikmati yang tak lazim ditemui di hiruk pikuk industrialisasi kota. Saya bisa melihat, mengikuti, sekaligus menikmati hasilnya, proses pembuatan Gula Merah dari nira kelapa yang dibuat secara rumahan. Memanfaatkan luasnya perkebunan kelapa di sepanjang jalan menuju ujung genteng, para petani gula kelapa ini mengumpulkan nira kelapa yang kemudian diolah menjadi gula merah. Nira kelapa ini diambil tiap pagi melalui jerigen-jerigen berukuran 5 liter untuk kemudian diolah oleh para ibu-ibu di rumah-rumah produksi hingga menjadi gula merah. Jerigen ini sudah terpasang sebelumnya, jadi ketika pagi-pagi tinggal ambil saja untuk kemudian digantikan dengan jerigen yang masih kosong untuk menampung nira keesokan harinya. Sederhana saja.

Nira – nira itu ternyata juga bisa dinikmati secara langsung. Saya mencoba membelinya kepada bapak ini sebanyak satu botol kecil air mineral. Nampaknya tak ada ukuran baku berapa harga sebotol, si bapaknya juga gak tau berapa harga yang pantas. Ya sepuluh ribu akhirnya ditukar dengan sebotol nira, kurangnya saya mohon maaf, lebihnya silahkan diambil aja Pak🙂

Nira ini manis, bahkan kemanisan. Memang cocok jika kemudian diolah menjadi gula merah. Meski bentuknya agak kurang menggugah selera, ada buihnya, tapi cukup segar untuk dinikmati. Yakinlah ini minuman lebih baik dibandingkan minuman kemasan hehe

Nira ini ternyata tidak bisa disimpan lama-lama. Tidak bisa disorekan. karena jika disimpan hingga sore akan basi dan sudah tidak baik untuk diolah menjadi gula merah. Karena itu segera setelah diambil pagi harinya dari banyak pohon kelapa, Nira ini segera diolah oleh para ibu-ibu di rumah produksi. Dan ternyata cara pengolahannya pun sangat sederhana. alat produksinya pun juga masih tradisional. Wajan besar, kayu bakar, dan cetakan bambu. Kompornya pun menggunakan kompor bumi, dimana lubang digali sedalam 3 meter untuk membakar kayu, diatasnya disimpan wajan untuk mendidihkan. Nira ini bebas pengawet ataupun pewarna. Nira didihkan hingga mengental, kemudian dimasukan dalam cetakan bambu, dan tunggu hingga mengeras. Jadi deh. Sesederhana itu saja. Hanya memang dari pendidihan hingga mengental inilah yang membutuhkan waktu sangat lama. Lupa euy berapa lamanya, berjam-jam lah. Karena itu yang dikeluhkan oleh para petani gula merah kelapa ini adalah bahan kayu bakar yang langka dan terbatas. Harga satu kilogram gula merah kelapa ini menurut si ibu, dijual di harga 15 ribu ke pasaran. Dengan bentuk yang cukup besar, nampaknya dua buah gula merah juga beratnya sudah mencapai satu kilogram.

Mengunjungi masyarakat bawah dan bergaul bersamanya selalu memberikan sebuah inspirasi yang bagai dua sisi mata uang. Satu sisi adalah harapan, sisi lainnya adalah kerja keras. Meski harapan ini selalu dilukiskan dengan keluhan, seperti yang dikeluhkan para petani ini dengan langka dan mahalnya harga bahan bakar untuk memproduksi gula kelapa, tapi mereka berharap ada perhatian bagi mereka terutama dari para pengambil kebijakan untuk melindungi profesi mereka. Sisi lain adalah kerja keras mereka yang berjuang di sektor riil, sektor ekonomi kerakyatan yang nyata, yang secara nyata mengurangi pengangguran dan berdikari untuk mandiri dengan kekayaan alam sendiri. Mereka mungkin tak tahu program-program kerja pemerintah mengurangi pengangguran, tapi mereka mengerti bagaimana mengurangi pengangguran dan menjadi solusi dari pengangguran itu secara langsung.

Terima kasih ibu dan bapak petani, inspirasi manis dari kalian, juga oleh-oleh Gula merah kelapa yang sangat manis🙂 Teruslah bekerja, sesungguhnya Allah, Rasul dan orang beriman akan menjadi saksi.