Seni Peran


tergelitik dan juga tersadarkan pada sebuah obrolan ringan bersama seorang teman, dalam perjalanan dari salman menuju kampus. Melewati lorong kampus melewati sepasukan marching band sedang melakukan latihan. Teman saya tiba-tiba nyeletetuk:

“paling rugi jadi personil marching band itu, pasti yang jadi megang bendera, yang cuma megang tongkat berbendera terus muter-muterin tongkat itu, pasti skill musik nya nggak bertambah. Kalo yang lain kan pasti skill maen alat musiknya nambah.”

sembari berpikir, saya menimpali: “iya juga ya. Ah tapi minimal ada manfaatnya, minimal latihan beban. kan lumayan tuh megang-megang dan muterin begituan, berat juga hehe”

– –

Mungkin pernyataan-pernyataan itu lazim kita dengar, dan bahkan karena alasan itulah lantas kita seringkali mengkerdilkan suatu peran yang dalam pandangan kita tidak ada manfaatnya. Marching Band setau saya ketika berkompetisi yang dinilai bukanlah penampilan perseorangan, tapi kekompakan sebuah tim secara keseluruhan, termasuk didalamnya personel si pemegang bendera itu. Tentu sekeren apapun harmoni musiknya, tapi ketika se pemegang bendera itu ngalor ngidul gak karuan atau tidak terintegrasi dengan musik, maka tentunya secara tim marching band itu tidak baik. Sehingga peran pemegang bendera ini sangat penting. Bisa dibayangkan apa jadinya ketika tak ada yang mau mengambil peran tersebut, tentu marching band itu tak layak tampil.

Sama halnya dalam kehidupan. Seringkali kita pun meremehkan peran-peran yang ada dalam masyarakat. Kita emoh menjadi peran atau tidak menghargai peran-peran, katakanlah tukang sampah, tukang parkir, atau peran-peran lainnya yang menurut kita sangat tidak penting. Padahal bisa dibayangkan ketika tak ada tukang sampah di lingkungan perumahan kita, pastilah tumpukan-tumpukan sampah menggunung di sekitar rumah kita.

Begitu banyak sisi kehidupan yang membutuhkan pekerjaan team, pekerjaan yang menuntut pembagian peran dan peran tersebut saling mendukung satu sama lain. Suatu jamaah Dakwah, suatu organisasi, sebuah pemerintahan, sebuah kelompok penelitian, hingga yang terdekat yakni sebuah keluarga, adalah seni bekerja dengan peran masing-masing yang saling mendukung.

Karena itu, marilah kita mulai fokus dengan peran masing-masing. Tak perlu cemburu dengan peran orang lain, dan tak usah juga kemudian merendahkan dan tidak menghargai peran orang lain. Bukankah yang tidak baik dimata kita belum tentu tidak baik di mata Allah SWT? Dan bukankah sesuatu yang baik dimata kita belum tentu baik di mata Allah SWT?

Dan sekali lagi Allah menegaskan dalam Quran-Nya, “Dialah Allah yang telah mentakdirkan adanya mati dan hidup untuk menguji keadaan kamu, siapakah diantara kamu yang paling baik amalnya” (QS. Al-Mulk 2). Ya, paling baik amalnya. Allah tidak menyebutkan paling baik perannya, tapi paling baik amalnya. Tidak ada peran yang paling baik di mata Allah kecuali yang paling baik amalnya. jadi, yang menjadi pengusaha, jadilah pengusaha yang paling kaya dan derma, yang menjadi alim ulama, jadilah ulama yang luas ilmunya dan bijak fatwanya, yang menjadi birokrat, maka jadilah birokrat yang adil dalam memutuskan dan adil dalam menetapkan kebijakan, hingga seorang pemegang bendera marching band pun, jadilah pemegang bendera yang sungguh-sungguh yang sinergi dan harmoni dengan tim secara keseluruhan.

Selamat mengambil peran dalam kehidupan, dan maksimalkanlah peran Anda.